Jadi Istri kok Perhitungan?
Urusan duit dalam kehidupan rumah tangga memang tidak terelakkan. Bisa mencukupi kebutuhan keluarga karena punya duit adalah salah satu sumber kebahagiaan apalagi bagi keluarga muda. Maka diskusi antara saya dan suami hampir setiap harinya pasti menyangkut soal duit. Misalnya saja ketika suami bilang begini, “Yang, aku udah transfer bulanan ke rekeningmu ya” dan saya akan menjawabnya dengan ucapan terima kasih penuh cinta. Tapi terkadang, perkara duit ini juga menjadikan saya terlihat menyebalkan. Bukan karena merasa uang bulanan yang kurang, justru karena saya dibilang perhitungan.
Semenjak jadi istri naluri perempuan yang katanya mata duitan saya alami sendiri. Saya bahagia ketika saldo rekening meningkat setiap bulan, tapi sedih ketika saldo menipis karena pengeluaran yang tidak ada habisnya. Maka tidak jarang saya cerewet dan menginterogasi suami tentang pengeluaran ini dan itu yang menurut saya bukan prioritas. Atau bertanya dengan detail jika suami meminta uang dari saya akan dipergunakan untuk apa. Apakah cerita saya sudah mampu membuat pembaca menilai saya adalah istri yang menyebalkan? Nah, jangan salah sangka dulu, karena kebiasaan saya ini didasari dari hasil mengaji bukan pendapat asal saya sendiri.
Murah Tangan vs Kikir
Sebelum menikah saya sempat “ngaji” beberapa hal tentang keluarga. Ngaji yang nggak baca kitab kuning gitu sih, tapi ngaji lewat bacaan dan youtube. Nah, dari youtube saya mengikuti beberapa pemaparan dari Prof. Quraish Shihab tentang Pernikahan dan Keluarga melalui kanal Mbak Nana (Najwa Shihab). Entah kenapa, perasaan saya adem kalau mendengar Prof. Quraish Shihab menjawab pertanyaan dari penonton (jamaah) dan menjelaskannya dengan runtut dan komprehensif. Topik yang masih saya ingat salah satunya tentang karakteristik suami istri dalam keluarga. Lebih senang lagi karena dipandu Mbak Nana dengan gaya wawancaranya yang khas dan bisa ditonton kapan saja.
Dalam kajian singkat itu, Prof. Quraish Shihab mengungkapkan tiga sifat lelaki yang buruk disandang perempuan dan tiga sifat perempuan yang buruk disandang lelaki menurut Sayyidina Ali yang masih relevan sampai saat sekarang. Dalam tulisan ini, saya akan membahas karakter yang pertama supaya bisa membuktikan pada pembaca sekalian bahwa cerita saya lazim dialami para istri. Iya, istri yang sering mendapat julukan si perhitungan itu hehehe.
“Laki-laki bagus kalau murah tangan, perempuan buruk kalau murah tangan, ia harus sedikit ‘kikir’” begitu kata Prof. Quraish Shihab. Kemudian Mbak Nana menafsirkan maksud dari ungkapan Abinya bahwa laki-laki harus bersikap royal untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sedangkan perempuan harus cenderung hemat. Ungkapan ini saya jadikan prinsip bahwa menjadi hemat dan dibilang perhitungan itu nggak masalah karena saya yakin ini adalah jalan hidup seorang istri dalam peran keluarganya.
Hemat untuk Kesalingan dalam Rumah Tangga
Kemudian akan muncul banyak pendapat pembaca. Ada yang mengamini maksud saya ada juga yang kontra dengan beragam alasan. Bagi pembaca yang keluarganya berjiwa sultan mungkin nggak relevan karena menjadi suami atau istri sama-sama punya kewajiban yang lebih untuk royal/berbagi baik kepada keluarga sendiri maupun yang lainnya. Bagi sebagian pembaca yang lain mungkin dalam kondisi yang berkebalikan karena istri yang royal sedangkan suami yang hemat. Entah jika ada pendapat yang lainnya, saya akan bercerita dengan konteks yang saya alami.
Prinsip yang saya pegang dari ungkapan Sayyidina Ali melalui Prof. Quraish Shihab itu membuat saya tidak gampang baper kalau dikatain pelit (karena hemat) atau perhitungan. Karena kalau hanya dengan ungkapan seperti itu saya lemah maka tabungan keluarga yang nominalnya tidak terlalu besar itu lama-lama habis juga. Saldo rekening setiap bulan sudah ada alokasinya masing-masing baik untuk tabungan, logistik, dan lain-lain. Namun ada saja pengeluaran tak terduga yang terjadi tiba-tiba.
Sedihnya terjadi ketika mengalami keluar duit banyak dalam sekejap padahal menabungnya sudah berbulan-bulan lamanya. Pernah ganti HP karena rusak, mau nyicil jatuhnya malah semakin mahal akhirnya kita beli cash. Pernah juga servis motor ganti banyak perlengkapannya sekaligus harus bayar pajak motor tahunan. Atau hal sepele seperti rumah bocor yang harus keluar duit untuk manggil tukang, beli cat pelapis anti bocor sekalian sewa jasa pembersih rumah karena kondisinya yang tidak tertahankan. Pokoknya ada-ada saja.
Jangan sampai ada yang menyimpulkan bahwa saya merasa susah karena setelah hidup berkeluarga pengeluaran menjadi semakin banyak. Saya dan suami tidak menderita dengan berbagai pengeluaran yang selalu muncul setiap saatnya karena kami sadar bahwa hidup berkeluarga berarti memberikan tanggung jawab yang lebih.
*
Maka prinsip laki-laki bagus kalau murah tangan dan perempuan bagus kalau hemat adalah bentuk kesalingan dalam rumah tangga supaya persoalan duit ini tidak menimbulkan konflik yang berkepanjangan. Apa yang suami lakukan adalah bentuk ikhtiar dalam memberikan nafkah terbaik bagi keluarga sedangkan yang saya lakukan adalah sebuah bentuk mitigasi risiko agar selalu siap jika suatu saat ada pengeluaran besar maupun tidak terduga.
Untuk keluarga muda seperti saya prinsip ini nggak ada ruginya diterapkan. Kecuali keluarga sultan, pemasukan keluarga baru memang cenderung belum stabil. Tidak semua pihak bekerja dan mendapat upah yang di atas standar. Banyak juga yang bekerja dengan gaji UMR dan itu bukan hambatan keluarga jika sebelum menikah segala sesuatunya sudah diperhitungkan. Lagipula kita juga tidak akan membahas lebih jauh soal kemampuan menghasilkan duit sebanyak-banyaknya, melainkan bagaimana cara mengontrol duit yang ada agar kebutuhan keluarga bisa terpenuhi sekaligus menyisihkannya untuk tabungan.
Lantas, apakah prinsip ini akan saya terapkan seumur hidup? Bagaimana jika kelak keluarga sudah mencapai kesejahteraan yang diinginkan apakah saya akan tetap menjadi istri yang hemat? Tentu saya ingin hal yang demikian. Hemat perlu kita tafsirkan sebagai suatu upaya merasa cukup sehingga menjauhkan diri dari sifat berlebih-lebihan. Berbeda dengan pelit yang membuat kita justru semakin takut untuk berbagi.
Toh ketika kita sudah merasa cukup, kita bisa semakin banyak berbagi. Duit yang awalnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja kelak bisa dimanfaatkan untuk melakukan amal jariyah lainnya. Mari Rahmania kita aminkan bersama supaya keluarga muda seperti saya terus semangat berjuang menghasilkan dan tetap teguh dalam mengelolanya.
Seorang Ibu sekaligus Pekerja Politik. Baginya urusan dapur dan negara sama-sama butuh keberdayaan.

John
Bagaimana jika istri pelit dan perhitungan terhadap “kebutuhan” suami, tapi royal utk diri sendiri ex: jajan sendiri. Mudah utk beli makan di luar tapi keberatan jika itu utk suami.