f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
persekutuan

Menikah Adalah Persekutuan yang Setara

Dua puluh satu tahun menikahinya, boleh dikata sangatlah jarang saya minta diladeni hal-hal yang saya sendiri bisa melakukan. Membuat kopi, ambil makan sendiri bahkan dulu sebelum kami punya mesin cuci, saya mencuci pakaian saya sendiri. Tak pernah terbersit sekalipun dalam pikiran saya bahwa yang namanya istri adalah pelayan suami atau jongos rumah tangga.

Dalam urusan mengasuh anak pun kami berbagi tugas dengan fleksibel. Ketika anak-anak kami masih piyik, saya merasa biasa saja melakukan tugas domestik yang menjadi streotype tugas ibu rumah tangga. Memandikan anak, mengganti pakaian mereka, menyuapi atau menyiapi makan, menggendong anak dengan jarik saat mereka rewel. Bahkan ketika mereka BAB, saya slow saja turun tangan sendiri membersihkan kotoran mereka, apalagi saat istri sedang sibuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang lain. Saya tak gengsi atau merasa turun wibawa ketika ikut membantunya. Pun dalam urusan hal lain, kami berbagi pekerjaan domestik tanpa memandang gender. Saya tak pernah merasa bahwa pekerjaan mencuci piring itu adalah pekerjaan perempuan, pekerjaan induak-induak kata orang kampung saya.

Ketika memutuskan menikah, perempuan yang saya pilih adalah perempuan yang saya harapkan menjadi teman. Partner yang seimbang dalam segala hal, bukan mencari istri untuk menjadi asisten rumah tangga. Saya percaya, bahwa hubungan rumah tangga yang fair itu adalah hubungan yang setara. Tidak ada yang merasa lebih tinggi atau dominan.

Karena dari awal saya sudah punya sikap: menikah itu persekutuan yang setara maka dalam hal-hal privat pun saya sangat menghargai wilayah pribadi.

*

Pada bagian-bagian tertentu, saya tak ingin terlalu turut campur atau kepo apabila memang pasangan saya tak ingin melibatkan saya. Pun, begitu jua sang istri, tak banyak riwil pada hal-hal yang dia rasa bukan wilayah yang ingin saya bagi. Kami saling mempercayai saja. Yang jelas, ketika sudah sepakat menikah, kami (terutama saya pribadi) tetap memberi respek bahwa ada wilayah atau “ruang” pribadi yang tetap menjadi wilayah kami masing-masing.

Baca Juga  Keluarga Imran; Teladan dalam Membangun Rumah Tangga

Kami sangat menyadari, banyak hal yang mungkin tak akan pernah bisa kami pahami dari pribadi pasangan kami, namun kami sepakat,  memegang azaz terbuka dan saling percaya. Kami sama-sama sepakat bahwa  persekutuan atau menikah itu bukanlah soal siapa yang menjadi penguasa. Pernikahan itu adalah ibarat menyatunya mur dan baut, bersatu untuk saling melengkapi, untuk saling memperkokoh.

Pernah suatu kali istriku meminta ijin padaku, untuk dibolehkan menjumpai teman pria yang pernah dekat dengannya. Saya mengijinkan, karena itu hak dia untuk berjumpa dengan siapa saja. Saya  bahkan menawari diri: kalau memang berkenan, saya akan menemaninya untuk menemui mantan kawan dekatnya itu. Dan, saat pertemuan mereka, perasaan saya biasa saja. Namun di sisi lain saya pun memaklumi dia, ketika dia tidak nyaman, atau kurang senang ketika tahu saya berhubungan dengan mantan saya. Dia meminta jangan lagi dan saya menuruti permintaannya itu. Memang untuk hal hubungan dengan mantan kami berbeda cara penyikapan, tapi kami cepat mengerti dan kami memahami kondisi psikologis masing-masing.

Terlihat sederhana dan mudah sekali ya? Oh tidak juga.

*

Sebelum sampai tahap seperti itu tentu banyak sekali dinamika yang terjadi hinga persekutuan bisa menjadi semakin solid. Pertengkaran, beda presepsi, salah paham, jothakan, kerap jua kami alami. Wajar saja, yang namanya menungso itu ya memang begitu, kadang diri sendiri saja tak paham akan karepe dewe, apalagi karepe orang lain. Emosi itu sifatnya turun naik. Kadang bisa kalem, kadang bisa bruwet, tapi kami tetap mencoba tidak gelap mata atau pendek pikiran dalam setiap persoalan yang kira-kira berpotensi menjadi batu sandungan. Alhamdulillah, setelah melewati 20-an tahun usia perkongsian lahir batin, kami masih solid berjalan bersama, dan semoga tetap smakin solid.

Baca Juga  Melibatkan Suami dalam Pengasuhan

Kuncinya apa?

Kuncinya, sejak awal kami bersepakat bahwa apapun dinamika dalam rumah tangga itu adalah urusan kami berdua. Kami sejak awal telah berkomitmen: tidak melibatkan orang lain apabila dalam hidup berumah tangga, kami menemui persilangan pendapat. Tidak ada curhat pada orang tua masing-masing, tidak ada sambat atau mengadu pada saudara atau teman dekat. Lalu bagaimana solusi ketika ada High Voltage? Kami hanya menjaga jarak (sementara), membiarkan pasangan kami untuk masuk pada cangkangnya masing-masing, tapi kami juga bersepakat, jaga jarak itu tak boleh lebih dari 3×24 jam. Semakin cepat merapatkan diri kembali semakin baik.

Saya dan istri punya banyak perbedaan, banyak sekali. Tapi tentu juga banyak persamaan. Dan, karena kami sadar akan hal itu, maka segala perbedaan atau persamaan itu kami jadikan amunisi dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Harapan saya sih tidak muluk-muluk, bisa menua dengan bahagia bersamanya saja sudah cukup.

*

Oh ya, tulisan ini saya buat setelah menandaskan sarapan sepiring lontong sayur khas Padang yang disuguhkan istri saat saya sedang bengong di studio.

Just like anyone else

*Diambil dari postingan Facebook Jumaldi Alfi

Bagikan
Comments
  • Predator

    Sehat sehat selalu om alfi dan bunda wid

    Maret 7, 2022
Post a Comment