f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
menikah

Menikah Anjuran Agama tapi Jangan Buru-Buru!

Berniat ingin meniru apa yang pernah nabi Muhammad SAW lakukan semasa hidupnya, itu akan mendapatkan pahala. Katanya ibadah terpanjang adalah sebuah pernikahan. Itu benar jika sejak awal memiliki niat yang benar mengapa kita memilih untuk menikah dengan cepat.

Memang sih, setiap orang mengharapkan bisa melangsungkan sebuah pernikahan, tetapi perlu diingat kembali, niat menikah itu karena apa? Demi sesuatu apa sehingga kita melangsungkan menikah?

Dalam kitab Bulughul Maram pada bab nikah ada sebuah hadist urutan ke-993. Dari Abdullah Ibnu Mas’ud Radliyallhu’anhu, ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda pada kami: “Wahai para pemuda, bagi siapa di antara kalian telah mampu berkeluarga hendaknya ia melakukan pernikahan, karena ia dapat menundukkan (menjaga) pandangan dan memelihara kemaluan (syahwat; birahi). Bagi siapa yang belum mampu melakukannya maka hendaknya berpuasa, sebab puasa dapat mengendalikanmu (dari syahwa; birahi).

Kalau kita menikah dengan niat yang benar maka sepanjang pernikahan itu berjalan, yakni tidak ada perceraian maka sangat mudah mendapatkan pahala . Mengapa mudah mendapatkannya? Karena yang paling utama telah menjalan perintah sunah nabi. Ini akan menjauhkan kita dari perbuatan zina. Kita tahu perbuatan zina termasuk dosa besar. Menjauhi perbuatan kemaksiatan saja sudah mendapatkan pahala, apalagi melaksanakan sunah nabi, maka akan mendapatkan pahala yang berlipat.

Mengelola Hati dalam Hubungan Rumah Tangga

Momentum pernikahan bukan perkara semata melakukan ijab yang diucapkan oleh wali nikah (penghulu), lalu dijawab dengan ucapan qabul dari mempelai pengantin pria, kemudian para saksi berkata, sah! Menjalani pernikahan tidak segampang apa yang kita lihat dan semudah yang diucapkan. Prosesi yang sakral itu terjadi hanya sekian menit. Setelahnya, akan menghadapi kehidupan yang semakin rumit.

Baca Juga  Bayang-bayang Fatherless, Perkembangan Anak yang Terperangkap dalam Kesunyian

Mengapa bisa rumit? Karena dua kepala berisi pemikiran yang berbeda harus berjalan secara bersandingan. Perbedaan pemikiran itu tidak mungkin bisa bersatu tetapi bisa berjalan secara berdampingan. Bisa mencari titik temu di mana untuk saling bergandengan mengarungi bahtera rumah tangga.

Siap tidak siap akan menghadapi kehidupan yang jalannya selalu tidak terduga. Kehidupan yang awalnya dijalani dengan cara mengalir saja dan bisa leha-leha akan berubah harus siap siaga untuk orang yang dicinta.

Menyiapkan hati yang seluas samudra dan mengelola jiwa agar setiap waktu harus terus berlapang dada. Suatu waktu akan terjadi peristiwa siapa yang meminta maaf dan siapa yang harus memaafkan. Ketika cinta sudah mekar seperti bunga, maka dalam cinta itu sendiri tidak akan mengenal salah.

***

Ketidaktahuan dan ketidakmengertian itu bukan menjadi perihal kesalahan-kesalahan. Bila mana kita menyadari bahwa apa yang dilakukan oleh pasangan kita hanya belum dimengerti oleh dirinya, belum diketahui oleh dirinya. Sehingga kita harus memahami dan memberikan pemahaman bahwa yang benar tidak demikian.

Hal semacam itu akan berlaku pada pasangan kekasih yang menjalani hidup dengan normal. Dalam arti tidak ada di antara mereka yang bermain hati di lain tempat. Kalau hanya sekadar lupa menaruh handuk sesudah mandi, lupa mematikan kran air yang masih mengalir, lupa mematikan lampu ketika akan keluar rumah, atau lupa mengambil jemuran ketika turun hujan, hal semacam itu masih tergolong wajar dalam menjalani hidup bersama pasangan hidup.

Kemudian saling mengasihi dan menyayangi. Asal jangan salah meletakkan rasa kasih sayang ini pada orang yang tidak seharusnya. Rasa ini harus sepenuhnya diberikan kepada pasangan kekasih (suami;istri).

Apakah kita tidak boleh menyayangi orang lain? Kalau saya pribadi lebih menekankan tidak menaruh kebencian terhadap orang lain itu sudah lebih dari cukup. Kalau kepada orang lain yakni terhadap orang yang bukan menjadi pasangan hidup kita dalam menjalin hubungan pernikahan, saya lebih mengedepankan rasa saling menghargai, menghormati, peduli terhadap sesama.

Baca Juga  Kaderisasi Politik dalam Keluarga

Menunda Pernikahan Bukanlah Aib

Sering kali kita medapatkan pertanyaan; Eh kamu kapan menikah ditunggu undangannya? Atau Eh kamu kapan menyebar undangan? Jangan berkecil hati jika mendapat pertanyaan hal demikian atau pertanyaan yang serupa. Mereka tidak tahu bagaimana kondisi kita, yang menjalani hidup kita adalah diri kita sendiri sesuai dengan yang kita pilih.

Bagi saya, mencari pahala di dalam pernikahan sangatlah mudah. Kita membuatkan minuman kepada pasangan hidup saja sudah mendapatkan pahala, istri mencucikan baju milik suami juga pahala, suami mencarikan nafkah buat istri (keluarga) juga pahala, jadi memang benar jika pernikahan adalah ibadah terpanjang selama hidup di dunia. Akan tetapi bila belum mampu sebaiknya berpuasa seperti anjuran nabi Muhammad SAW sesuai dengan hadist yang ada di atas.

Saya memahaminya di sini nilainya sama-sama ibadah, menjauhi kemaksiatan dari perbuatan zina sudah mendapatkan pahala, lalu melakukan puasa dalam rangka menahan diri dari syahwat atau birahi juga merupakan sebuah ibadah. Tidak sepantasnya orang yang belum menikah di pandangan sebuah aib.

Bilamana kebahagiaan adalah sebuah anugrah, maka saya juga mempercayainya jika cinta merupakan anugrah pula. Tidak ada keterikatan sebab bahagia karena cinta. Dua hal yang berbeda. Sebuah pernikahan juga belum tentu selalu menyuguhkan kebahagiaan secara terus-menerus.

Kita pernah menemukan kebahagian tanpa cinta. Hal itu terjadi di waktu masa kecil. Kebahagiaan itu muncul dalam hati tanpa ada seorang kekasih yang sedang dirindukan kedatangannya. Sejak saat itu, cinta dan bahagia dua hal yang berbeda tapi sewaktu-waktu bisa bersandingan. Sebab bahagia itu bisa tergantikan oleh lara juga karena cinta.

***

Editor: Imam Basthomi

Bagikan
Comments
  • Harmoni Widiya

    Tulisan yang bagus. Isu masa kini di kalangan anak muda. Intinya saudara mengatakan jangan buru-buru menikah, siapkan saja dulu ilmu dan mentalnya. Walaupun pada akhirnya “Siap tidak siap akan menghadapi kehidupan yang jalannya selalu tidak terduga.” Mau tanya, sebenarnya kesiapan itu ada nggak? atau yang benar kesiapan itu tidak pernah ada yang ada ialah berani atau beralasan. Serius nanya, biar nggak tersesat sama pemahaman seperti itu.

    Maret 14, 2022
  • Anam Kuthut Wringinjajar

    Mbak Widiya, ini beberapa pengamatan saya dari sekitar lingkungan, juga beberapa teman dekat yang berbagi pengalaman mereka berumah tangga.

    Mereka ada yang menikah karena memang faktor, jadi menargetkan dirinya pada usia sekian atau sebelum usia sekian harus menikah. Ada juga yang karena memang siap mental tapi belum siap finansial, ada yang siap finansial tapi belum siap mental, dan ada yang karena siap keduanya.
    Saya pribadi menyikapi hal ini siap mental adalah paling utama, karena godaan atau cobaan berumah tangga itu berbeda-beda.
    Contoh, seperti beberapa tahun terakhir kan banyak to pekerja yang di-PHK. Jika mereka tidak siap mental saling menguatkan mental, kondisi rumah tangga pasti semakin berantakan, kalau suami-istri bisa saling suport meski kondisi ekonomi tidak menentu, insyallah ada jalan. Disinilah ujian kesetiaan berumah tangga diuji.

    Contoh lain, siap mental siap finansial, setelah menikah tidak kunjung diberikan karunia anak, tentu seorang istri sangat gelisah dengan kondisi pribadinya, suami juga harus siap dengan kondisi seperti, pertanyaan dari masyarakat yang tak terbayangkan sebelum pasti menjadikan psikis down, kalau tidak siap mental dan saling suport bisa berujung perceraian.
    sedikit penjelasan saya, jika kurang berkenan mohon dimaafkan hehehe.
    boleh diskusi lanjut hehehe

    Maret 15, 2022
Post a Comment