Aku Bukan Remote Control
“Penampilanmu kaya gitu? Ganti aja yang ini biar lebih fashionable!” ,
“Eh tas-nya bagus tau, beli aja yang itu biar sama kaya yang lain!”
“Gengsi lah kalau layar hp ku retak begini, mending ganti yang baru aja kali biar sama kaya mereka”,
Begitulah kiranya, para manusia yang dipenuhi ketakutan kalau, mestinya, atau biar sama kaya mereka, yang tujuannya untuk mendapatkan pengakuan dari lingkungan maupun orang lain.
Hidup Bukan Tentang Ekspektasi Orang Lain
Rahmania, hidup itu tidak selalu tentang ekspektasi orang lain. Hidup juga bukan tentang gengsi yang sejatinya dapat menjauhkan dari siapa diri kita sebenarnya. Ketika seseorang diliputi rasa gengsi, ia akan berupaya menutup segala sesuatu yang nyata menjadi hal yang dapat memanipulasi dirinya di depan orang lain. Ekspektasi dan gengsi menjadi dua hal yang akan merugikan diri sendiri apabila terus menerus berulang menjadi habit.
Saat ini, banyak orang yang rela diatur kehidupannya atas apa yang diinginkan oleh orang lain. Bahkan tidak sedikit orang yang bahagianya juga diatur atas standar kebahagiaan orang lain. Padahal sejatinya, masing-masing orang mempunyai ukuran kebahagiaan yang berbeda-beda. Ada yang bekerja paruh waktu sudah sangat bahagia, ada yang baru mendapat gelar sarjana sudah merasa bahagia, ada yang memilih menikah di usia muda merasa bahagia, dan ada juga yang baru sekali mendapat pujian dari seorang guru, bahagianya luar biasa.
Happines Is
Seorang tokoh W.D. Hoard pernah mengungkapkan, “Happines does’nt depend on what we have, but it does depend on how we feel to words what we have. We can be happy with little and miserable with much”. Kebahagiaan bukanlah ditentukan oleh apa yang kita miliki, tetapi ia ditentukan oleh bagaimana kita menikmati apa yang kita miliki. Kita bisa berbahagia menikmati apa yang sedikit dan bisa juga sengsara dengan memiliki yang banyak.
Kebahagiaan menjadi kunci utama dalam hidup. Untuk mendapatkannya, tidak harus mengedepankan materi sebagai standar bahagia pada umumnya. Allah SWT telah memberi nikmat yang luar biasa berupa akal dan pikiran yang sehat, fisik yang kuat, hingga kesempatan menikmati indahnya hidup. Semuanya menjadi sumber kebahagiaan yang tidak terkira nilainya ketika kita saling sadar dan bersyukur. Bahwa bahagia berasal dari mindset kita. Aku, bukanlah dia atau mereka. Itulah alasan mengapa kita tidak perlu membandingkannya.
Ketika pikiran dan energi kita terforsir untuk terus menstandarkan diri kita atas orang lain, lama-kelamaan akan timbul penyakit stress. Stress dapat menggangu kesehatan mental kita bahkan jika dibiarkan terlalu lama tanpa pengobatan maupun psikoterapi. Stress dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Salah satunya adalah penyakit psikosomatis.
Psikosomatis
Psikosomatis berasal dari kata pikiran (psyche) dan tubuh (soma). Gangguan psikosomatis ini terjadi ketika adanya keluhan fisik yang diduga disebabkan oleh faktor psikis atau mental seperti stress, rasa cemas, gelisah dll karena suatu tekanan. Tekanan dapat terjadi karena faktor keluarga, lingkungan, pekerjaan, maupun hubungan sosial. Ketika merasa tertekan, orang akan sulit untuk tersenyum apalagi bahagia. Tanpa disadari, hal ini dapat menurunkan konsentrasi dan kejernihan berfikir. Dampaknya, aktivitas sehari-hari menjadi tidak maksimal.
Orang yang hidup di bawah standar kebahagiaan orang lain akan sangat mudah depresi. Terlebih dengan adanya mindset standar bahagia yang ideal pada umumnya seperti memiliki mobil mewah, bisnis dimana-mana, hingga sering liburan ke luar negeri. Hal ini sah-sah saja ketika standar ini dapat menjadi motivasi dalam kehidupannya, karena setiap orang berhak bahagia atas standar nya masing-masing. Tetapi apabila kita tidak mampu mengimbangi standar tersebut, kita tidak harus memvonis diri kita untuk tidak bahagia.
Ubah Pola Standar Kebahagiaan
Sejatinya, bahagia itu sederhana sekali. Yang membuatnya rumit justru diri kita sendiri. Bahkan kata “bahagia” seolah kata yang penuh imajinasi tinggi sehingga merasakannya terasa mustahil. Padahal sahabat, di tengah masyarakat kita hari ini sudah banyak yang merasakan nikmatnya hidup tenang dan bahagia. Menjalani hidup sederhana dan pas-pas an menjadi kebahagiaan yang tidak terkira. Kalau ingin bahagia dengan standar kita, rumusnya hanya satu yaitu menyederhanakan standar kebahagiaan.
Standarisasi kebahagiaan dapat diukur sesuai versi kita. Kita yang memiliki hak atas kendali kebahagiaan kita. Kita yang seharusnya menjadi remote control kehidupan kita sendiri. Selama ini siapa yang memegang remote control kehidupan kita? Jangan-jangan kita merelakan kebahagiaan kita diatur oleh orang lain terhadap kita. Jangan-jangan kehidupan kita hanya untuk menjalankan ekspektasi kebahagiaan atas orang lain.
Bahagia itu dekat dengan kita sahabat. Yaitu ada pada diri kita masing-masing. Mulai sekarang yuk pegang remote control kebahagiaan kita sendiri. Agar kita dapat bahagia kapan saja dan dimana saja tanpa menjadi remote control orang lain. Dengan begitu, kita akan lebih bisa mensyukuri nikmatnya hidup.
Kita juga akan lebih sadar bahwa makna hidup bukan tentang bagaimana menjalankan ekspektasi orang lain tetapi hidup lebih bermakna ketika kita senantiasa bersyukur dan bahagia menjadi apa adanya kita. Karena sejatinya, sumber kebahagiaan adalah saat kita mampu menaklukkan nafsu demi menggapai takwa yang melahirkan ketenangan jiwa.

Mahasisiwi magister Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Al Hafsy
Tetapi terkadang terasa berat untuk dijalani, ibarat kata kita sedang di pinggir aliran arus sungai jika sekali terseret arus akan susah kembali.