f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pilkada

Daun Emas Tinggal Cerita

Ayah saya adalah seorang pensiunan pegawai negri yang saat ini mencoba bertani. Sebagai anak petani baru, saya bisa cukup tahu susah senangnya dunia pertanian. Untungnya sebelum bapak saya pensiun saya disekolahkan oleh beliau sehingga saya merasakan pendidikan tinggi. Sementara  teman bebaya saya Rata-rata mengenyam bangku sekolah hanya sampai tingkat SMA atau SMK saja. Hal ini diakibatkan karena faktor ekonomi

Berbicara tentang penghasilan petani, yang ada adalah ketidakpastian sebab gaji petani bukan ditentukan oleh UMR kabupaten atau kota, namun dari hasil panen yang di tanam. Bagi petani itu merupakan hal yang mampu menjadi semanagat  motivasi dalam bertani. Musim kemarau menjadi tantangan sendiri, terlebih bagi para petani di Madura. Saat kemarau para petani hanya bisa menanam tembakau karena jumlah air mereka berkurang.

Di balik kontroversi tentang tembakau, menurut Organisasi Pangan dan Makanan Dunia (FAO) pada 2012 80 % hasil panen tembakau terserap sebagai bahan baku rokok. Sedangkan 20 % sebagai fungsi lain. Anehnya, harga tembakau yang tidak stabil tidak mempengaruhi harga rokok yang semakin hari semakin mahal.

Masa Jaya Daun Emas

Harga tembakau  mulai tinggi pada akhir 1960-an  semenjak masuknya industri rokok. Kemajuan industri rokok di Indonesia saat itu membuat negara ini disebut negara penghasil tembakau terbaik khususnya di Madura dan Jember. Namun itu mungkin tinggal cerita, sebab kondisinya sekarang  berbeda.

Sejak 1990, Indonesia mulai melakukan impor tembakau. Saat itu, produksi dalam negeri yang berjumlah 150 ribu ton dirasa tak mencukupi kebutuhan nasional. Alhasil, sebanyak 26 ribu ton lebih tembakau impor menyusup masuk ke pasar nasional.

Penyusupan impor tembakau pada 30 tahun lalu itu momentum berbaliknya keadaan selama hampir puluhan tahun sebelumnya. Tercatat selama 30 tahun sebelum 1990, laju ekspor tembakau Indonesia selalu berada di atas impor.

Baca Juga  Tentang Tidur Pagi

Setahun kemudian, alih-alih bisa membalikkan keadaan, impor Indonesia akan tembakau meningkat. Pada 1991, angka impor menanjak hingga 28 ribu ton lebih. Sejak itu negeri kaya tembakau ini harus rela berbagi porsi dengan tembakau luar negeri.

Lantas apa yang terjadi pada rentang masa itu? Dicuplik dari penelitian Tobacco Control Support Center yang berisikan para ahli kesehatan masyarakat pada 2012, kala itu disimpulkan terjadi penurunan produksi daun tembakau secara global. Penurunan itu rupanya tercatat juga di Indonesia. Sayangnya di Indonesia, penurunan produksi daun tembakau terus terjadi hingga satu dekade berikutnya.

Produksi pada 1990 tercatat dalam data Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik mencapai 156 ribu ton, menurun terus hingga menjadi 135 ribu ton pada tahun 2010.

Pasal Pemberat

Ada pasal-pasal yang memberatkan petani tembakau , contohnya saja PP No.109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan juga merugikan petani tembakau dan terkesan membuka keran bagi impor tembakau sebesar-besarnya. Apa sebabnya?

Dalam aturan itu, tercantum pasal-pasal yang memberatkan petani. Terutama yang mengatur soal standarisasi, tata niaga, diversifikasi produk dan kegiatan promosi juga periklanan produk hasil tembakau.

PP No.109/2012 menurut asosiasi jelas menekan industri hasil tembakau, yang selanjutnya dapat dipastikan turut menggencet petani. Pasal 10 hingga pasal 12 dalam aturan itu soal adanya standardisasi hasil tembakau, jelas tak akan bisa dipenuhi petani Indonesia.Aturan lain yang menghimpit perkembangan tembakau dalam negeri dan melonggarkan impor tembakau adalah Peraturan Pemerintah No 38 tahun 2000 tentang Pengamanan Rokok Bagi Kesehatan.

Keuntungan Pengimpor 

Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) mengatakan aturan itu mengatur soal kandungan zat yang terkandung di dalam rokok seperti kadar tar dan nikotin. Aturan itu hanya bisa dipatuhi oleh tembakau impor. “Itu akhirnya, impor tembakau Indonesia terus naik tiap tahun,” kata mereka.

Baca Juga  Tiga ”Kata Sakti” dari Orang Rendah Hati

Data GAPPRI memaparkan, pada 2011 jumlah impor tembakau Indonesia mencapai 64,8 juta kilogram (kg) atau senilai US$ 376,3 juta. Jumlah ini terus meningkat tajam pada 2012 yang sebanyak 104,4 juta kg atau senilai USD503,2 juta dan 2012 sebanyak 133,8 juta kg atau senilai USD665,5 juta.

Penurunan impor baru terjadi pada 2013 yang menjadi 121,2 juta kg atau senilai USD627,3 juta. Namun jumlah itu pun masih terhitung besar. Posisinya sekarang lebih dari 50 persen kebutuhan tembakau untuk kebutuhan produksi rokok itu berasal dari impor. Kondisi diperparah dengan menurun produksi tembakau Virginia -varietas tembakau asal Amerika Serikat yang sesuai standar WHO- di Indonesia.

Harga di tangan Grader

Umumnya petani tembakau tidak mencurahkan waktu secara penuh untuk mengelola tanaman tembakau. Selain menanam tembakau mereka juga melakukan kegiatan pertanian lain. Selama kurun waktu 1990 hingga 2010, rata-rata jumlah petani tembakau setara purna waktu berkisar di jumlah setengah juta orang. Itu mengapa kebanyakan petani tembakau tak terlalu khawatir dengan isu kesejahteraan. Baru belakangan saat tembakau impor mulai menginvasi, mereka baru merasa gerah.

Dalam relasi petani, kesejahteraannya dan industri terdapat satu profesi unik yang menjembatani semua. Grader namanya. Di tangan para grader yang memiliki tugas memilihkan tembakau terbaik bagi industri itu, rantai komoditas tembakau dan kesejahteraan petani bergantung.

Melalui penciuman, grader bisa membedakan, tembakau biasa saja dengan tembakau yang berkualitas super. Lapisan harga serta jenis ia ciptakan setiap kali panen berlangsung. Konon, seorang grader bisa membuat 40 lapisan harga dalam setiap kali panen tembakau, mulai dari harga Rp500 per kilogram hingga Rp25 ribu per kilogram.

Sayangnya di balik keunikan profesi grader ini, terdapat ganjalan. Ada sebuah kultur perdagangan yang ditentukan secara sepihak dan itu terpelihara selama berpuluh tahun dalam skema bisnis tembakau. Apa sebabnya? Dengan adanya grader, petani tak pernah tahu bagaimana grader menentukan atau memperoleh nilai untuk selembar daun tembakau.

Baca Juga  Memiliki Privilese Religiusitas adalah Sebuah Keberuntungan

Itu mengkibatkan posisi tawar petani berada pada kedudukan si lemah, sebab sangat bergantung kepada penilaian grader yang rata-rata posisinya merupakan utusan industri. Meski belum pernah terjadi perselisihan besar antara grader dan petani, dalam relasi bisnis daun tembakau semacam itu, hidup mati kesejahteraan petani ada di tangan para grader.

Bagikan
Post a Comment