f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pembelajaran

Learning Loss Tidak Dalam Pendidikan Karakter

Proses pembelajaran sudah hampir 1,5 tahun berjalan secara daring (online). Di seluruh penjuru tanah air bahkan penjuru dunia belum dapat melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) secara utuh akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Tak lama setelah PTM libur sementara, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Dinas Pendidikan, sampai tingkat satuan pendidikan, dengan segala kondisi dan keterbatasan berusaha untuk mencari solusi dan memberikan dukungan agar pelayanan pendidikan tetap dapat peserta didik terima.

Pemerintah sudah mencoba melakukan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT), namun baru berjalan dua minggu, tiba-tiba lonjakan covid-19 meningkat di Indonesia. Hingga akhirnya PTMT tertunda kembali ke pembelajaran daring. Di tengah proses pembelajaran secara daring, muncullah fenomena learning loss dalam pendidikan. The Education and Development Forum (2020) mengatakan bahwa fenomena learning loss adalah situasi di mana peserta didik kehilangan pengetahuan dan keterampilan baik umum atau khusus atau kemunduran secara akademis. Yang terjadi karena kesenjangan yang berkepanjangan atau ketidakberlangsungannya proses pendidikan.

Sedangkan menurut Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Heru Purnomo menjelaskan learning loss merupakan fenomena dalam pembelajaran yang tidak mencapai hasil optimal sehingga menyebabkan hilangnya kompetensi dasar yang seharusnya. Dalam konferensi pers yang di akun YouTube Kemendikbud pada Jumat (7/8/2020) Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengatakan, fenomena learning loss akan mudah terjadi pada anak-anak usia dini, karena anak-anak membutuhkan pembelajaran secara langsung.

***

Fenomena learning loss berdasarkan beberapa pendapat di atas bisa saja terjadi. Namun bisa juga kita hindari. Salah satu ajaran yang terkenal dari sang bapak Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara adalah “Setiap orang menjadi guru setiap rumah menjadi sekolah”. Jika kita merujuk pada sebuah syair ternama karya Hafiz Ibrahim, “Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”, Ibu adalah madrasah (Sekolah) pertama bagi anaknya, jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.

Baca Juga  Kebangkitan Perempuan Berawal dari Kesadaran Akan Pentingnya Pendidikan

Jelaslah dari syair tersebut, bahwa pendidikan berawal dari seorang Ibu. Karena madrasah pertama yang nantinya akan memberikan keteladanan bagi sikap, perilaku dan keprbadian anak. Jika seorang ibu itu baik maka baik pula anaknya. Secara tidak langsung semua tindak tanduk ibu akan menjadi panutan atau sebagai suri tauladan bagi anaknya. Ketika seorang ibu menjalankan kewajiban dan fungsinya dengan baik dalam rumah tangga, bukan tidak mungkin akan melahirkan anak-anak yang sholih-sholihah. Yang kelak menjadi tunas berdirinya masyarakat yang berbakti kepada kedua orang tua, berkualitas, berbudi pekerti luhur dan Islami.

Seharusnya, ketika pendidikan yang biasanya berlangsung secara tatap muka kemudian berubah menjadi daring, sudah tidak menjadikan kekhawatiran bagi orang tua. Karena sejatinya pendidikan yang pertama adalah dalam keluarga. Namun, banyak orang tua yang mengeluh dengan adanya pembelajaran daring saat ini. Seperti Tanoto Foundation ungkapkan terkait pembelajaran daring dalam surveinya. Terdapat tiga masalah utama orang tua mendampingi anak belajar daring. 

***

Pertama, orang tua kurang sabar dan jenuh menangani kemampuan dan konsentrasi anak. Kedua, orang tua kesulitan menjelaskan materi pelajaran ke anak. Ketiga, orang tua kesulitan memahami materi pelajaran anak.

Ketiga masalah di atas sudah cukup mewakili perasaan para orang tua ketika mendampingi anak-anaknya. Namun yang tidak orang tua pahami terkait penekanan dalam pembelajaran di tengah pandemi covid-19 saat ini. Mendikbud dalam SE Nomor 4 Tahun 2020 menekankan bahwa pembelajaran dalam jaringan (daring) berlangsung untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik. Tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan. Pada intinya pendidikan di tengah pandemi menekankan pada penanaman karakter, tentu dengan peran serta orang tua.

Baca Juga  Jangan Lupakan Duniamu

Peran serta orang tua dalam pembelajaran di era saat ini sangatlah penting. Terutama ketika pembelajaran daring agar tidak terjadi learning loss. Learning loss mungkin akan terjadi pada sisi akademik seorang peserta didik. Karena sistem pembelajaran yang mengakibatkan peserta didik setiap hari duduk di depan layar kaca, sebut saja smartphone.

***

Terjadinya learning loss bisa jadi karena latar belakang orang tua yang berbeda-beda. Dan tidak semua materi pembelajaran orang tua dapat kuasai seperti pada survei yang dilakukan oleh Tanoto Foundation.

Learning loss tidak seharusnya bisa mencederai penanaman karakter. Al Quran sendiri banyak menjelaskan tentang pendidikan Islam, terutama dalam hal menanamkan karakter, seperti di surat Al Lukman ayat 13 yang artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.

Pada ayat di atas, dijelaskan bahwa pendidikan yang paling ditekankan adalah pendidikan karakter yang dilakukan orang tua dari rumah, karena pendidikan dari orang tua merupakan pendidikan yang paling pertama  didapatkan oleh seorang anak sebelum mendapatkan pendidikan dari luar seperti sekolah atau madrasah. Dan ayat tersebut menjelaskan kepada kita bahwa orang tua sebagai orang dewasa yang ada di rumah dan sebagai guru pertamanya peserta didik. Harus melarang kita untuk berbuat yang tidak sesuai dengan ajaran agama.

***

Di samping itu pada ayat selanjutnya  secara terang-terangan menjelaskan kepada kita tentang prinsip-prinsip dasar dari materi pendidikan karakter yang sangat kuat yang terdiri atas masalah iman, ibadah, sosial, dan ilmu pengetahuan yang nantinya akan membentuk karakter seorang anak untuk menjadi bekal bagi anak tersebut.

Baca Juga  Memicu Realitas Baru Madura Anti Pernikahan Dini

Oleh sebab itu, mari kita didik anak-anak kita, peserta didik kita, agar terhindar dari learning loss. Sinergi antara guru dan orang tua perlu diperkuat, pemahaman terkait pendidikan harus sejalan dengan al-Qur’an serta peraturan kementerian pendidikan.

Bagikan
Comments
  • Erna Agustin

    Bismilah, biidznillah dg ikhtiyar bersama² smg learning loss tidak terjadi pada anak² dan anak didik kita wabilkhusus learning loss karakter, aamiin…

    Juli 18, 2021
Post a Comment