Cara Baru untuk Mendisiplinkan Anak
Teringat pengalaman 22 tahun yang lalu, saat saya masih nyantri di salah satu pondok pesantren yang terletak di Jawa Barat bagian selatan tepatnya di bawah kaki gunung Guntur. Ketika menginjak hari Jumat, selalu saja ada perasaan senang karena bertepatan dengan hari libur. Tapi juga ada rasa deg-degan yang menyelimuti. Sebab, pada hari itu juga, semua jenis pelanggaran (tidak patuh) yang pernah santri lakukan terkait ibadah salat akan segera diumumkan.
Pelanggaran, hukuman, dan Rasa Malu
Pelanggaran tersebut bisa bermacam-macam; mulai dari masbuk (ketinggalan rakaat salat), tidak salat berjamaah di salah satu salat wajib, dan lain sebagainya.
Masbuk merupakan pelanggaran terbanyak dari kalangan para santri, penyebabnya karena beberapa hal, mulai dari alasan antri wudu; selesai pelajaran tidak tepat waktu (jika waktu salat zuhur); mencari mukena yang entah di mana naruhnya. Sampai ada yang terlambat karena mencari sandal yang tersembunyi di bawah meja makan.
Suara nyaring terdengar dari sebuah speaker, nama-nama yang selama sepekan melakukan satu atau beberapa pelanggaran berkaitan dengan ibadah salat mulai disebutkan satu persatu. Pada urutan kelima, nama saya tersemat, saat itu juga malunya bukan main, sampai-sampai saya merasa harga diri ini jatuh.
“Ko tumben nama kamu masuk di kelompok yang salatnya masbuk.” Celetuk seorang teman di dekat tempat saya duduk. Sambil menahan malu saya menjawab dengan suara lirih “Iya, aku terlambat karena mengobrol saat makan.”
Setelah kejadian itu saya tidak pernah masbuk lagi dalam salat, bukan karena merasa jera dengan hukumannya berupa membersihkan toilet masjid. Tapi, sebenarnya lebih karena rasa malu saat nama saya masuk pada kelompok yang melanggar aturan salat. Tentunya, hal ini terdengar oleh seluruh santri putri.
Rasa Traumatik
Bahkan sampai sekarang jika ingat kejadian tersebut, masih suka merasa cemas. Bagi sebagian santri mungkin seperti masalah biasa, tapi bagi saya hal itu menjadi masalah besar.
Jika melihat pada tujuan aturan pemberlakuan hukuman bagi yang salatnya masbuk, yaitu tidak lain untuk membentuk perilaku disiplin santri dalam melaksanakan salat. Akan tetapi alih-alih hukuman itu membuat jera, yang terjadi malah membuat trauma bagi sebagian santri termasuk saya.
Ketaatan pada aturan yang berlaku lebih terdorong karena rasa malu yang sangat besar. Kesadaran akan kesalahan mesti tetap ada, akan tetapi trauma dari rasa malu itu jauh lebih besar. Hal tersebut merupakan salah satu efek dari hukuman.
Ada yang menyebutkan hukuman dapat membuat anak taat dan jera, akan tetapi akan meninggalkan jejak dalam pikiran alam bawah sadar anak-anak yang terkena hukuman, sebagaimana yang saya alami.
Para ahli menyebutkan, beberapa efek samping dari hukuman di antaranya: Resentment (ketidakpercayaan pada orang dewasa karena merasa ada perlakuan tidak adil); Rebellion (membuktikan kekuatannya dengan caranya sendiri); Revenge (membalas dendam); Retreat (akan mengulangi dan berusaha untuk tidak ketahuan). Inilah efek samping yang membuat hukuman tidak efektif untuk membentuk perilaku disiplin pada anak.
Konsekuensi Logis Untuk Mendisiplinkan Anak
Ada cara yang lebih efektif dalam membentuk perilaku disiplin anak yaitu dengan konsekuensi logis.
Konsekuensi logis adalah akibat kesepatan atas pilihan anak. Berbeda dengan hukuman sebagai vonis atas perilaku, contohnya masbuk salat dihukum dengan membersihkan toilet masjid tanpa ada musyawarah terlebih dahulu tentang jenis hukuman ini.
Motif memberikan konsekuensi logis kepada anak adalah memberikan pengalaman untuk memahami kosekuensi atas pilihannya. Saat konsekuensi logis hilang, memberikan pesan bahwa yang salah yaitu segalanya dibolehkan alias permisif.
Jim Sporleder dalam risetnya di sekolah menengah daerah Walla Walla Washington, telah berhasil melakukan percobaan dengan konsekuensi logis menggantikan hukuman hingga menunjukkan hasil yang mampu menurunkan tingkat perkelahian dan tindakan tidak disiplin hingga 75%.
Hal ini, juga yang saya terapkan di rumah pada anak-anak, saya tidak ingin anak-anak mengalami sesuatu yang sama seperti saya, jika menerapkan suatu hukuman.
Jenis dan Praktiknya
Ada tiga jenis konsekuensi logis: (1) Break it, Fix it, (2) Abbuse it, Lose it, dan (3) Negative attitude, Positif time out.
Pertama, break it, fix it. Suatu ketika anak saya yang bungsu menghilangkan buku diary kakanya, spontan kakanya marah-marah. Si bungsu sudah tahu konsekuensi jika menghilangkan maka harus mengganti, maka dengan tulus dia mengganti buku diary kakanya dengan uang tabungannya.
Begitu juga anak-anak sudah paham dengan kebiasaan di rumah, ketika selesai bermain, maka mereka akan membereskan mainan dan membersihkan sampah-sampah kertas yang berantakan.
Kedua, abbuse it, lose it. Konsekuensi logis ini saya terapkan saat LFH. Ketika anak-anak bermain saat waktu belajar, maka mereka belajar di waktu yang seharusnya untuk bermain. Jika menggunakan HP melebihi waktu, maka jatah main HP akan dikurangi.
Saya pernah melakukan konsekuensi logis ini pada kasus nonton film. Saat itu, anak-anak melebihi batas waktu yang telah ditentukan untuk nonton film, konsekuensinya selama dua pekan mereka tidak boleh nonton film. Mereka mentaatinya, karena sudah paham konsekuensinya.
Ketiga, negative attitude, positif time out. Tiga anak saya sering bertengkar entah rebutan mainan, si adik merobek gambar kaka, atau sebaliknya kaka menyenggol lego yang sudah disusun adiknya, kejadian tersebut berulang-ulang. Maka biasanya saya memberikan kesempatan pada si pelaku entah kakanya atau adiknya untuk bermain sendiri dulu, jika kaka pelakunya maka kaka bermain sendiri, bisa membaca buku atau menulis.
Area Positif Time Out
Adapun kasus memangbullying belum pernah terjadi pada anak-anak saya (berdoa semoga tidak pernah terjadi). Jika terjadi kasus bullying di sekolah , maka sekolah dapat membuat sebuah ruangan khusus untuk siswa yang membutuhkan ketenangan (positif time out).
Siswa dapat berpartisipasi dalam mendesain ruangan tersebut. Bisa dengan tema laut, hutan, atau perpustakaan, pokoknya ruangan yang dapat membuat siswa merasa nyaman dan tenang. Untuk efektifitas area positif time out ini, pihak sekolah sebisa mungkin sering melakukan evaluasi. Sebab, terkadang tempat ini hanya menjadi tempat pelarian.
Konsekuensi logis ini lebih memberikan pengalaman yang positif pada anak, jika begini maka akan begini jika begitu maka akan begitu. Anak akan paham tentang segala konsekuensi atas apapun yang menjadi pilihannya.
Ada pembelajaran untuk hidupnya, setiap melakukan sesuatu dia akan berpikir secara matang tentang konsekuensi dari setiap perilakunya. Sehingga dia tidak menjadi orang yang seenaknya tanpa berpikir panjang.
