Maraknya Tiger Parenting Pada Anak di Masa Pandemi
Semenjak Covid-19 masuk ke Indonesia, kita sudah melakukan social distancing atau pembatasan sosial kurang lebih 4 bulan . Di Surabaya sendiri ada himbauan #Dirumahaja hingga perpanjangan PSBB yang entah sampai kapan semua ini akan selesai.
Satu hal yang kemudian baru disadari orang selama melakukan #Dirumahaja, ternyata hal tersebut menimbulkan efek stress terhadap semua kalangan. Hal ini disebabkan kebanyakan orang melakukan kegiatan secara berulang dan monoton secara terus menerus; contohnya memasak, membaca buku hingga bermain monopoli hingga pada akhirnya sebagian orang memaksa untuk keluar rumah. Dengan alasan berolahraga contohnya bermain futsal hingga bersepeda di jalanan berasalan menggunakan protokol kesehatan.
Perpanjangan Belajar di Rumah Bagi Zona Merah
Namun hal ini tidak berlaku bagi anak anak yang seharusnya libur panjang. Yang seharusnya selesai pada tanggal 13 Juli namun hanya berlaku pada kategori zona hijau; sedangkan untuk zona merah khususnya Surabaya tetap diberlakukan belajar di rumah higga akhir tahun.
Bagi sebagian orang kabar ini merupakan kabar baik namun sebenarnya inilah awal dari penyebab terjadiya stress pada anak. Pada umumnya anak anak atau remaja secara psikologis cenderung melakukan semua aktifitas secara bersama sama dengan golongannya atau teman sekelompoknya; sebagai simbol bahwa manusia tersebut adalah mahkluk sosial.
Selain itu penerapan sistem belajar di rumah dinilai tidak kondusif. Persiapan siswa dalam menjalani sekolah online masih kurang; sebab datangnya virus yang bersifat mendadak membuat belajar sistem online digunakan secara tergesa – tergesa. Mulai dari konsep yang belum matang hingga sarana aplikasi yang digunakan masih belum dikuasai secara matang; karena belum ada pelatihan atau pengenalan aplikasi sebelumnya . Belum lagi masalah koneksi internet atau alat komunikasi berteknologi canggih, yang belum tentu dimiliki murid.
Sistem Mengajar dan Tugas Berat Orang Tua
Sistem cara mengajar guru yang dinilai searah membuat siswa menjadi sulit untuk mengerti. Apalagi tugas yang diberikan kepada siswa dianggap memberatkan siswa. Guru yang sudah lansia tidak mampu memaksimalkan metodenya dalam mengajar secara online. Pada akhirnya siswa semakin tertekan. Pada penelitian diungkapkan turunnya sistem imun; salah satunya dari kurangnya istirahat dan stress akibat tekanan yang menyebabkan mudah lelah hingga suhu tubuh meningkat.
Dalam hal ini peran oran tua dianggap penting dalam proses pembelajaran online. Sebab secara intens siswa didampingi oleh orangn tua. Pada akhirnya tugas orang tua bisa jadi lebih berat; karena tidak hanya harus bisa berkonsentrasi bekerja tapi juga harus berperan sebagai guru untuk mendampingi anak – anak belajar di rumah. Bisa jadi pemicu stres jadi berlipat ganda bagi kalangan orang tua sebab banyaknya kewajiban yang diemban oleh orang tua.
Tiger Parenting Di Era New Normal
Mengajar bukanlah hal mudah bagi orang tua. Selain paham dengan materi yang diajarkan, orang tua juga harus paham dengan metode pembelajaran yang dipakai sesuai dengan karakter anaknya. Pada umumnya orang tua belum mampu melihat kapasitas anaknya; karena sebelumnya orang tua hanya bisa melihat kemampuan anaknya melalui nilai raport yang diberikan dari pihak sekolah.
Sehingga orang tua merasa kecewa terhadap kemampuan anaknya yang belum mampu mengejakan tugas yang diberikannya. Tanpa disadari orang tua akan menekan dan memaksa memberi pemahaman materi tersebut sampai anaknya bisa dan mampu mengerjakan soal tersebut.
Di sinilah New Tiger Parenting marak terjadi. Jika Tiger parenting dulu anak anak dipukul dan disiksa karena tidak mampu memberikan apa yang ditargetkan oleh orang tua namun pada saat ini sangat berbeda. Tiger Parenting pada masa pandemi ini anak dipaksa mengerjakan tugas tugas sekolah dengan target harus benar semua dan mampu menyelesaikan tugas tersebut dengan cepat. Hal inilah yang membuat siswa tersebut menjadi tertekan dan tersiksa.
Menghindari Tiger Parenting
Sebenarnya ada dampak positif metode tiger parenting yakni anak tersebut mampu mengatasi banyak tekanan yang membuat dirinya lebih matang dalam konsep pendewasaan diri. Namun hal ini tidak selalu terjadi. Nyatanya menurut penelitian anak yang hidup dari pola asuh “Tiger Parenting” justru memperoleh nilai GPA lebih rendah daripada anak yang hidup dengan pola asuh “suportif parenting”.
Lantas bagaimana cara orang tua untuk menghindari Tiger Parenting dalam mendampingi anaknya di masa pandemi ini? Orang tua terlebih dahulu menyadari bahwa dirinya juga memiliki keterbatasan. Saat orang tua tersebut mengalami tekanan emosional akibat pekerjaan, istirahatlah dan jangan melakukan kontak dahulu ke anak. Selain itu pentingnya orang tua untuk berdiskusi kepada guru maupun ke sesama orang tua untuk bertukar kiat dalam menemukan metode parenting tanpa menekan anak tersebut.
Selain itu pola pandangan orang tua terhadap anak tersebut perlu diperluas dan didiskusikan dengan matang. Pastikan dan pahami lebih lanjut tentang gaya parenting apa yang diterapkan sesuai dengan karakter anak tersebut. Jangan sampai anak menjadi tangan panjang dari orang tua. Sebab anak juga mempunyai hak untuk memilih dan menerapkan cara belajar yang disukainya. Dengan cara ini anak akan nyaman dalam belajar dan mampu memberikan yang terbaik untuk orang tuanya tanpa rasa tekanan di era pandemi ini. (s)
Mahasiswa Prodi Biologi Fakultas Sainteks Universitas Airlangga
