Isilah Tangki Hatinya dengan Cinta
Tas kecil pink hello kitty mengayun ke kanan ke kiri diiringi langkah mungil anakku, baju merah putih sudah rapi dikenakan, beserta jilbab merah melingkari wajah anggunnya. “ayo Yah kita berangkat, nanti telat”. Suara khas putriku terdengar nyaring di telingaku.
Gas sepeda motor aku tancap. Sepanjang perjalanan seperti biasa, putriku menghabiskan waktunya untuk bernyanyi, dan sesekali menghafal surat-surat pendek untuk setoran di sekolah. Ah, ya, momen seperti ini tidak akan pernah aku lewatkan. Kalau saja aku punya alat untuk mengabadikan setiap momen bersama putriku, selamanya akan kuabadikan.
Tak terasa lamunanku bagaimana nanti dan bagaimana jika kalau putriku sudah dewasa terbangun begitu saja. Ketakutan sebagai seorang Ayah sudah mulai datang. Kalau putriku disakiti temannya bagaimana, ya, kalau putriku bersedih saat putus cinta bagaimana, ya. Kami telah sampai di pintu gerbang. “Hati-hati, ya, Yah.” Tangan putriku melambai dan senyum mengantarkan kepergianku meninggalkan sekolah.
Dia adalah si “Kakak” anak perempuan pertamaku yang sekarang sudah masuk sekolah SD kelas satu. Saat mengantarnya di depan gerbang sekolah, aku terbayang bagaimana dulu saat TK, Kakak selalu memintaku untuk memeluk dan menciumnya, wajib baginya aku melakukan itu sebelum dia masuk kelas.
Pernah si Kakak merajuk saat aku tidak melakukannya karena pas lagi terburu – buru. Sambil cemberut dia berkata ; Ayah gak sayang sama Kakak. Itu dulu,tapi sekarang sudah sangat berbeda. Semenjak masuk SD saat mau aku cium, si Kakak menghindar lalu berlari sambil tersenyum, selalu menolak ketika aku hendak melakukannya.
Sempat aku bertanya mengenai hal itu, katanya Kakak malu sama teman – teman dan kakak kelasnya. Kalau dicium sama orang tua seperti anak manja, dan nanti diledekin di kelas. Mendengar penjelasannya membuat aku terkekeh.
Momen itu membuatku tersadar ternyata waktu begitu cepat, bagaikan untaian kalung mutiara yang terlepas, butirannya terhempas begitu cepat. Bukan hanya momen itu saja secara perlahan satu persatu momen – momen ungkapan kasih sayang yang lain mulai hilang. Lebih tepatnya bukan hilang tapi berganti perlakuan.
Saya sebagai seorang Ayah dari anak – anak menyadari, bahwa rasa kasih sayang ini sebenarnya sudah terpatri semenjak dia sudah ada di dunia, walaupun masih dalam bentuk janin atau embrio sekalipun, rasa itu tiba – tiba muncul dan tidak akan pernah pudar.
Tapi seiring berjalannya waktu perlakuan saya menyatakan kasih sayang itu yang berbeda, tidak akan mungkin sama seperti dia waktu bayi, saya gantikan pampers, timang – timang, cium sepuas hati memeluknya mencubit pipinya. Kalau sudah besar tidak mungkin saya melakukan itu.
Apalagi sekarang si Kakak memiliki seorang adik, hanya terpaut tiga tahun, kasih sayang yang saya berikan pastilah berbeda, sesuai dengan umurnya. Si Adik yang memang masih harus selalu digendong, dimanja, dituruti kemauannya, itu menjadi penyebab si Kakak terkadang bertanya ; Ayah sayang sama Adik aja, Kakak sekarang udah gak disayang lagi”.
Lamat – lamat saya memperhatikan Kakak saat kumpul keluarga besar, Kakek dan Neneknya lebih condong ke si Adik, perhatian Kakek Neneknya terpusat ke Adik, si Kakak hanya sesekali saja mendapat perhatian. Tiba – tiba dia duduk di sudut ruangan yang ada mejanya, sambil pura – pura menggambar atau melakukan hal yang sepertinya untuk menarik perhatian. Tapi tidak ada juga yang memperhatikannya.
Terlihat dari lirikan matanya yang tajam, melihat si Adek beberapa detik, lalu tatapannya kembali mengerjakan yang dia kerjakan, tergambar wajah murungnya. Saya memperhatikannya secara mendalam, sepertinya Kakak tidak sadar akan hal itu. Sengaja saya biarkan karena untuk mendidik bahwasanya dia harus siap dengan pembagian kasih sayang ini.
Supaya Kakak mengetahui bahwa dia mempunyai adik yang memang harus diberi kasih sayang juga. Mungkin kalau dia bisa mengungkapkan perasaannya, Kakak pasti akan berkata ; “kenapa aku dulu yang disayang, sekarang tidak disayang lagi, apakah orang tuaku lupa aku adalah putri yang sempat dinanti – nanti kehadirannya” sebelum dia benar – benar berpikir seperti itu, saya terkadang mengambil momen untuk mengisi tangki hati kasih sayangnya.
Dari tatapan matanya tergambar isi hatinya, di situ juga aku mengetahui seberapa muatan kasih sayang yang ada di hatinya seperti tangki kecil terisi air. Kalau sudah agak berkurang seperti ada tanda lampu kuning, aku cepat – cepat menyenangkan hatinya. Secara intens aku berikan perhatian itu, seperti aku mengajaknya membeli buku kesukaannya, sepeda motoran sambil bernyanyi, mengajak dia ke mall, atau hanya sekedar memeluk dia dan membisikkan kata – kata sayang.
Dengan perlakuan seperti itu tangki hatinya sudah mulai terisi. Kalau sudah terisi biasanya matanya mulai bersinar mukanya terlihat hangat, lebih ceria. Dia sering tersenyum menjalani hari – hari penuh semangat.
Saya sendiri juga terkadang sering salah paham, atas perlakuan kasih sayang orang tua. Sempat saya berpikir kenapa hanya adik – adik saya yang lebih disayang sedangkan saya harus menanggung beban keluarga. Tapi setelah saya pahami mereka juga sebenarnya sayang tapi ungkapannya saja yang berbeda.
Kasih sayang orang tua tetaplah sama secara kualitas maupun kuantitas, bahkan dari kita ada di dunia ini sampai kita tiada. Hanya saja cara mengungkapkannya berbeda sesuai dengan kondisi kita. Seperti kasih sayang anak terhadap orang tua juga sama tapi terkadang anak karena sibuk dengan dunianya seakan – akan lupa, sebenarnya hanya tidak sempat saja.
Perhatian sekecil apapun bisa memenuhi tangki hati orang tua. Seperti Kakak hanya dengan senyumannya atau kata – kata semangat kepada saya, sudah mampu memenuhi tangki hati saya.
Suatu saat Kakak juga bakal kuliah, bekerja, atau menikah. Dia pasti sibuk dengan dunianya. Hanya dengan menelpon atau bertanya kabar saja sudah bisa memenuhi tangki hati saya.
Sepertinya kita harus memperhatikan orang – orang yang selalu peduli dengan kita, agar kita saling mengisi kasih sayang. Dan timbulnya cinta yang selalu ada, bersumber dari kasih sayang yang selalu mengisi satu sama lain.
Saat kita terlalu fokus mengejar sesuatu, sehingga mengabaikan tangki hati orang yang peduli dengan kita, sehingga tangki hati mereka kosong bisa jadi kita dianggap sudah tidak peduli lagi dengan mereka. Dan apabila tangki hati kita sudah kosong maka kita akan merasa tidak ada lagi yang memperdulikan. Sebenarnya ada, hanya saja kita yang lupa mengisinya dengan cara memperhatikan dan memperdulikan orang – orang di sekitar kita.
Saling mengisi satu sama lain akan memunculkan perasaan yang hangat, dan pasti berdampak bagi kehidupan kita, kita juga akan lebih semangat menjalani hari, semakin semangat kesuksesan juga akan lebih mudah diraih.
