Perempuan PSK: Antara Keimanan dan Realitas
Tuhan menciptakan manusia menjadi dua insan. Dengan jenis kelamin berbeda yaitu perempuan dan laki-laki yang secara jasmani memperlihatkan jelas perbedaannya. Dalam keluarga, laki-laki mempunyai peran sebagai kepala keluarga yang bertugas mencari nafkah, serta menjadi contoh bagi anak dan istrinya dan pemimpin bagi keluarganya. Sedangkan perempuan bertugas sebagai istri dan ibu yang mempunyai peran penting sebagai pendidik bagi putra putrinya.
Salah satu permasalahan sosial atau bisa juga disebut dengan penyimpangan norma dan nilai dalam masyarakat, yaitu mengenai prostitusi yang memiliki sejarah panjang bahkan selalu ada di setiap Negara. Adanya hal ini, sering kali menjadi problem yang menyebabkan konflik sosial serta menjadi perhatian penting dalam urusan hukum, agama, dan tradisi. Dengan adanya fenomena ini, pernahkah kita bertanya-tanya bagaimanakah konsep mereka dalam memahami agama sebagai kepercayaan dan bagian dari nilai kehidupan? lantas bagaimana realitasnya? Mari kita bahas sama-sama.
Secara umum, faktor yang mempengaruhi adanya PSK dan prostitusi adalah ekonomi serta tuntutan kebutuhan hidup. Hal tersebut menjadi alasan perempuan bisa melakukan apa pun, termasuk menjadi Pekerja Sek Komersial. Meski demikian, tidak menuntut kemungkinan kurangnya pengetahuan agama serta minimnya pendidikan menjadi salah satu faktor penyebab seseorang menjadi PSK.
Pekerjaan sebagai PSK memang terlihat hina dalam sebuah pandangan masyarakat. Bahkan agama melarangnya karena hal tersebut termasuk ke dalam dosa besar dan bagian dari perbuatan zina. Meskipun demikian, tetap saja pekerjaan sebagai PSK masih banyak dilakukan dengan beragam bentuk faktor dan alasan yang menuntut mereka untuk melakukannya.
Dari hasil riset yang saya lakukan mengenai PSK, dapat diketahui bahwa perempuan PSK memiliki cara tersendiri dalam memandang nilai religiusitas sebagai sebuah kepercayaan. Pasalnya mereka yang bekerja sebagai PSK adalah perempuan baik yang memiliki moral dan nilai yang sama dengan perempuan pada umunya.
Sejatinya, perempuan merupakan makhluk yang paling mulia yang memiliki derajat yang tinggi dalam pandangan agama. Islam memosisikan perempuan sebagai ratu, keindahan dan kecantikannya diibaratkan sebagai mutiara yang memiliki derajat yang tinggi dan mulia. Namun problemnya adalah, tidak semua mengerti dan paham akan konsep keagamaan serta penerapannya dalam sebuah kehidupan.
Penulis menemukan bahwa, mereka mempunyai keyakinan yang besar. Dan keyakinan itu timbul ketika mereka mempercayai rukun iman sebagai landasan dari nilai agama. Terlepas dari itu, mereka juga percaya dengan adanya hal-hal gaib seperti adanya Tuhan, hari akhir, alam kubur, dan percaya adanya surga dan neraka. Dari hasil wawancara, mereka mengakui dan percaya adanya hal-hal tersebut yang dibuktikan dengan terkabulnya doa seorang hamba.
Seperti misalnya ketika seseorang mengalami musibah atau berada dalam sebuah permasalahan yang berat, Allah selalu memberi jalan keluar dan petunjuk dalam kehidupan. Sebetulnya mereka mengetahui bahwa agama Islam adalah agama yang mereka yakini. Karena secara lingkungan mereka berada di wilayah yang mayoritas orang Islam. Dengan kata lain kepercayaan mereka didapatkan dari orang tua (turun-temurun), masyarakat dan pendidikan sekolah.
Dari sini dapat diketahui, kondisi teologis atau keyakinan tentang agama pada diri seorang Pekerja Seks Komersial (PSK) memiliki keyakinan sama seperti kita pada umumnya. Namun yang menjadi persoalan, mereka meyakini sifat-sifat wajibnya saja, seperti percaya Tuhan, rukun Islam, dan rukun iman. Mereka tidak memiliki wawasan yang cukup luas mengenai agama Islam. Sehingga hal ini dapat menyebabkan pengaruh turunnya sebuah keimanan seseorang yang berdampak kepada perilaku dan kehidupannya.
Secara tidak langsung, pendidikan menjadi unsur penting yang ditanamkan ke dalam diri seseorang. Hal ini sebagai bagian dari ilmu pengetahuan dan menanamkan nilai moral dalam bentuk perilaku dan kehidupan yang baik. Menjadi seseorang yang taat dan paham akan ilmu agama memang tidak mudah. Namun dalam sebuah kehidupan hal ini menjadi unsur penting sebagai dasar landasan hidup yang dapat dipegang oleh setiap manusia.
Bentuk ritual yang mereka jalani memang tidak sempurna, tetapi mereka masih beribadah dan menjalankan kewajibannya sebagai hamba yang berserah diri kepada tuhannya. Mereka berpendapat, meskipun secara makna mereka belum mengerti tentang apa yang dilakukannya dalam beribadah. Namun mereka meyakini bahwa Tuhan lebih mengerti atas apa yang ada dihati seseorang yang menyembahnya.
Adanya hal ini, memperlihatkan bahwa nilai kepercayaan mereka terhadap agama sebagai bagian dari nilai religiusitas merupakan satu hal yang tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan. Setiap manusia mesti memiliki kepercayaan masing-masing yang dianggap baik menurut dirinya. Begitupun dalam menanamkan nilai ritual peribadatan yang dianggap sebagai bagian dari kewajiban kita sebagai seorang hamba.
Dalam ritual terhadap kepercayaan yang selama ini telah diyakini, bertujuan untuk menimbang seberapa dalam mereka mengimani rukun Islam yang menjadi dasar beribadah kepada Tuhan. Mereka mempercayai adanya Tuhan. Namun tidak memahami tentang isi dari agama tersebut. Pendidikan menjadi poin penting yang harus ditanamkan dalam sebuah diri manusia sebagai bentuk benteng dan landasan berpikir dalam menjalankan kehidupan.
Mahasiswa S1 Ilmu Al-Qur’an Dan Tafsir UIN Raden Mas Said Surakarta. Instagram : Sukmadi Al-Fariss.
