Fast Fashion, Perempuan, dan Dampak terhadap Lingkungan
Berapa lemari yang menampung bajumu?
Baju tren apa saja yang dimiliki?
Postingan seseorang di facebook tentang sindiran agar kita para perempuan yang suka berbelanja dan mengoleksi pakaian, yang mampu mengajak untuk merenung dan berfikir.
Berapa banyak koleksi baju yang sudah menumpuk di lemari?
Sudah berapa banyak pakain impian yang sudah dimasukkan keranjang e-commerce, yang direncanakan akan dibeli?
Banyak wanita sering mengeluh bosan dengan memakai baju itu-itu saja setiap harinya, apalagi fashion saat ini lagi naik daun. Godaan e-commerce yang menjajakan penjualan pakaian dengan harga murah meriah di kantong. Apalagi layar datar yang smart itu yang mampu mempermudah transaksi sehingga barang bisa sampai rumah dengan selamat. Enak sekali bukan?
Kehadiran kecanggihan teknologi masa kini mampu mengajak kita semua melek dengan sesuatu yang viral. Istilah viral sejak digunakannya Instagram adalah OOTD. OOTD adalah singkatan dari Outfit Of The Day. Awal mula penggunaan itu adalah untuk senang-senang belaka di dunia maya, yang lama kelamaan menjadi ajang menaikkan brand untuk menggaet konsumen, atau cara influencer untuk endorsement suatu produk fashion.
Pengaruh public figure dalam penggunaan hastag menjadikan masyarakat ikut membagikan foto OOTD di akun media sosialnya seperti Instagram dan Facebook. Keikutsertaan masyarakat untuk sekedar senang-senang atau eksistensi diri untuk self branding di media sosial. Semakin banyaknya masyarakat yang terpengaruh dengan memamerkan pakaian hariannya, Mereka mulai lihai dalam mix and match pakain dan segala macam aksesoris. maka semakin meningkatnya permintaan pasar dengan pakaian yang fashionable.
Layar datar yang menyimpan segala macam toko virtual mampu memudahkan untuk mencari pakaian mulai dari yang murah hingga mahal. Klik, klik kemudian transaksi, maka tuntaslah semua urusan dan tinggal menunggu barang datang. Betapa kecanggihan teknologi mampu mengurangi aktivitas yang lain.
Bersyukurlah kita hidup dikelilingi dengan kecanggihan teknologi yang mampu memudahkan segala aktivitas, akan tetapi dengan kemudahan itu mempunyai dampak yang negatif. Apalagi sifat konsumerisme perempuan yang sulit dibendung jika dibenturkan dengan benda menarik yang murah seperti pakaian. Bayangkan, dengan uang Rp. 50.000,00 saja bisa mendapatkan pakaian yang lumayan bagus.
Fast Fashion
Perlu kita ketahui bahwasanya produksi busana dunia meningkat sejak tahun 2000, setiap tahun pembelian baju meningkat 60%. Dengan permintaan pasar yang meningkat sehingga industri fashion memenuhi permintaan pasar dengan munculnya fast fashion. Fast fashion ini menawarkan pakaian murah dan trendy, tentu banyak perempuan yang tergoda dengan tawaran menarik ini. Koleksi semakin banyak, bisa sering berganti baju dan mendapatkannya dengan harga yang murah.
Ciri-ciri fast fashion menurut Tokatli (2008) antara lain:
1. Bisnis fast fashion berusaha memasukkan produk di pasar dengan segera, bisnis fast fashion meningkatkan jumlah pengecer atau ritel di seluruh dunia sehingga semakin dapat menjangkau semakin banyaknya pelanggan.
2. Ada kebutuhan untuk menghubungkan permintaan pelanggan dengan operasi hulu desain, pengadaan, produksi dan distribusi.
3. Fast fashion membutuhkan siklus pengembangan pendek, prototyping cepat, dan banyak variasi sehingga pelanggan ditawarkan desain terbaru dalam jumlah terbatas.
4. Rantai pasokan yang sangat cepat dan sangat responsif.
Dengan adanya fast fashion memang akan menguntungkan pasar akan tetapi ada yang tidak boleh dilupakan yaitu dampak pada lingkungan sekitar. Kita harus tahu bahwa fast fashion adalah sebuah penekanan pada kecepatan, kuantitas, dan ukuran yang mendorong budaya konsumsi dan industri sehingga pasti mempunyai dampak negatif pada lingkungan.
Dampak Fast Fashion Untuk Perempuan dan Lingkungan
1. Eksploitasi Perempuan
Kenapa perempuan? Bukannya mayoritas perempuan adalah penggila fashion. Keinginan untuk menambah koleksi pakaian sangat tinggi. Eksploitasi memiliki arti pendayagunaan, jadi eksploitasi perempuan adalah pendayagunaan perempuan. Dalam hal ini pendayagunaan perempuan di sektor produksi permintaan fashion oleh pasar. Para perempuan yang bekerja di pabrik ditekan untuk menghasilkan barang untuk memenuhi permintaan, akan tetapi mereka tidak mendapatkan upah yang sesuai. Terlebih jika hak mereka kurang terpenuhi sebagai fitrah seorang perempuan. Betapa miris dan menyedihkan jika kita lambat menyadari kondisi ini. Sehingga sama halnya kita tidak saling mendukung sesama perempuan untuk berdaya dan mendapat hasil sesuai dengan jerih payahnya.
2. Kerusakan Alam
Semakin banyak baju yang tertumpuk di lemari, maka akan banyak peluang baju-baju itu dijual kembali atau dibuang oleh si pemiliknya untuk bisa mengoleksi baju-baju yang lain. Jika dijual kembali, maka kebermanfaatan akan semakin bernilai dan mengurangi sampah, akan tetapi jika dibuang maka pasti menjadi tumpukan sampah pakaian yang bisa ditemui di tempat pembuangan sampah. Kerusakan alam karena bahan pakaian memang tidak secara instan karena daur ulang bahan sintetis memerlukan waktu yang lama dari bahan organik, akan tetapi bertahap dan mampu mencemari lingkungan.
Selain itu, fast fashion juga bertanggung jawab hampir 10% gas global yang dapat menimbulkan polusi udara. Bayangkan saat ini hampir di beberapa kota di Indonesia sudah mencapai puncak gawat darurat terkait dengan udara bersih.
Ketika dilansir dari sumber media elektronik BBC News Indonesia, ada beberapa bahan pakaian yang mampu merusak ekosistem dan satwa liar. Di antaranya adalah sweater kasmir murah mampu mempengaruhi kehidupan Stepa Mongolia, Mencuci bahan fleece dapat menghambat pertumbuhan kepiting, Deforestasi akibat penebangan hutan terancam dan purba untuk bahan viscose dan rayon, kebutuhan air yang banyak untuk memproduksi satu kaos katun, dan pakaian cepat yang mampu menjadikan polusi akibat penggunaan bahan kimia tingkat tinggi yang berbahaya di lingkungan.
3. Kerugian bagi Manusia
Permintaan pasar yang meningkat sehingga industri fast fashion juga semakin banyak memproduksi sesuai dengan permintaan. Sehingga ini menjadikan banyaknya limbah yang dilepaskan pabrik ke tempat sampah semakin banyak. Limbah yang mengandung pewarna tidak ramah lingkungan dan larutan kaustik yang dapat merusak lingkungan. Selain itu kerugian bisa dirasakan oleh manusia, yaitu pekerja dan orang-orang yang menggunakannya.
Dari dampak negatif di atas, mungkin penghentian besar-besaran terasa susah. Kondisi ini masih berlangsung sampai saat ini atau entah sampai kapan, tentunya banyaklangkah kecil yang bisa dilakukan. Perempuan mempunyai peran yang penting untuk meminimalisir kerusakan lingkungan akibat fast fashion dengan cara-cara berikut:
1. Desainer perempuan di Indonesia hingga mancanegara pasti sangat menjamur. Sehingga mereka mempunyai peran penting terhadap fast fashion, mereka harus merancang pakaian dengan bahan yang sustainable untuk menyelamatkan bumi. Fashion yang sustainable bisa menganut pada hasil penelitian Chanifatin Nadia dan Ratna Suhartini (2020), yaitu Ethical Fashion (Pakaian yang etis), Eco label (label ramah lingkungan), Quality and Durability (Kualitas dan daya tahan pakaian), Timeless (Pakaian yang bisa digunakan dalam jangka panjang), Local and traditional (lokal dan tradisional), Recycling and Upcycling (Konversi bahan dan Mengubah pakaian) dan Zero Waste and Modular Structures (Tanpa sampah dan struktur modular).
2. Kampanye di media sosial. Dengan adanya media sosial, akan sangat mudah bagi siapapun untuk mengakses informasi sehingga akan sangat mudah dan cepat info yang ingin kita berikan sampai pada pembaca.
3. Mengedukasi sesama perempuan, edukasi terkait dengan fast fashion bisa melalui organisasi dan komunitas agar dampak yang dirasakan semakin besar.
4. Menghentikan tingkat konsumerisme terhadap fashion, ini mungkin menjadi tantangan berat akan tetapi dengan penjelasan di atas diharap mampu menyadari bahwa yang dilakukan dapat mempunyai dampak negatif terhadap sesama manusia dan lingkungan.
Dampak yang tidak dirasakan langsung oleh manusia menjadikan konsumsi terhadap barang tanpa kontrol sehingga perlunya kesadaran setiap manusia, terlebih perempuan karena perempuan mempunyai peran penting dalam dunia fashion. Mengurangi konsumsi barang fashion yang tidak sustainable bisa dimulai dari diri sendiri, kemudian mengatur pakaian untuk keluarga, komunitas atau organisasinya. Langkah kecil ini pasti akan berdampak jika kesadaran sudah terbentuk dengan baik. Yuk, pilih dan pilah pakaian yang sustainable!
Silvia Virda Susanti, seorang Ibu rumah tangga yang tinggal di Ciputat Timur Tangerang Selatan, IG : @silviavirda1, Blog silviavird.blogspot.com.
