Wangsit dan Hidayah
Oleh: Laeli Tri Agustina*
Momen Ramadan sering dikaitkan dengan pencapaian beberapa ibadah yang dianggap spesial, misalnya mampu menghatamkan Al-Qur’an, bersedekah, dan perempuan hijrah.
Dalam skala besar, proses hijrah sering dikaitkan dengan turunnya hidayah yang menghampirinya. Ibaratkan jodoh, hidayah harus dijemput dan dipersiapkan dengan kesungguhan hati.
Seperti halnya sabda Rasul dalam hadits Arbain yang pertama, hakikatnya setiap amalan tergantung pada niatnya.
Namun dalam skala kecil, khususnya masyarakat Jawa menginterpretasikan perubahan dengan julukan wangsit yang keberadaannya dianggap sakral.
Bukan sebuah rahasia, hampir tidak ada kelompok masyarakat yang tidak menjunjung tinggi konsep agama. Walaupun peristiwa pergeseran sosial mengubah orientasi dan nilai luhur agama, namun agama tetap masih memiliki eksistensi tersendiri dalam masyarakat.
Sebab sifat agama mengedepankan nilai universalitas dalam kehidupan manusia, termasuk kajian tentang masyarakat dan segala hal yang menyertainya.
Masyarakat Jawa, Adat, dan Agama
Masyarakat Jawa telah dikenal luas sebagai kelompok masyarakat yang religius, karena terdapat keterkaitan antar budaya yang erat yang memiliki intergralisasi dengan ritual agama.
Sisi lain, penyebaran agama Islam yang terjadi di pulau Jawa di dominasi oleh para wali dengan menggunakan metode seni budaya yang melahirkan tradisi-tradisi.
Sehingga sudah menjadi hal yang lumrah bahwa masyarakat Jawa tidak lepas dengan spekulasi ritual-ritual adat yang masih dijunjung tinggi hingga saat ini.
Pada masyarakat Jawa, kita kenal istilah wangsit sebagai orang yang memperoleh hidayah. Sehinggga banyak yang mengatakan bahwa hidayah dan wangsit adalah hal yang sama.
Mari kita buktikan bersama-sama melalui ulasan beberapa kejadian berikut ini. Jangan ambil kesimpulan sebelum baca sampai akhir.
Menempatkan Asumsi Hidayah
Kisah pertama datang dari sebuah kisah inspiratif siswi SMA pada tahun 2013 di Jawa Tengah yang mendapat pencerahan dan melakukan perubahan besar dalam hidupnya. Kisah ini bermula dari hobi yang ia tekuni, yakni menjadi seorang atlet.
Bukan hal yang lumrah, seorang siswi yang terobsesi menjadi atlet yang notabenya didominasi oleh kaum adam
Dengan keteguhan hati, ia memberanikan diri untuk selalu menjalankan latihan setiap harinya, iapun menjalankan rutinitas latihan dengan tetap mengenakan jilbab.
Kesempatan emaspun datang untuk bisa mengikuti lomba. Iapun bergegas untuk menyiapkan diri baik secara fisik maupun psikis. Dalam ajang ini, delegasi dari sekolahnya yang termasuk peserta perempuan tidak hanya dirinya, melainkan ada satu senior perempuan yang sudah sangat handal mengikuti berbagai lomba.
Menjelang pelaksanaan lomba, mereka berdua prepare kostum yang akan dikenakan. Sang senior menyarankan untuk melepas jilbab, karena akan mengganggu pergerakan ketika di arena lomba.
Atas saran seniornya, iapun melakukan saran yang diberikan. Karena tidak percaya diri dengan penampilan yang ia kenakan, label juarapun tidak bisa ia peroleh.
Pasca lomba, ia berbenah dan melakukan introspeksi dengan melakukan perenuangan serta mengikuti beberapa kajian keislaman. Pada kesempatan itu, ia mendapatkan pandangan baru tentang jilbab, iapun teringat dengan kejadian beberapa hari yang lalu ketika di ajang perlombaan.
Singkatnya, ia mendapatkan kesempatan kedua untuk ikut serta dalam perlombaan di tingkat yang sama. Merasa maksimal dengan latihan yang sudah di lakukan, iapun merasa percaya diri untuk tidak melepaskan jilbab dari kepalanya.
Alhasil, piala kemenangan berhasil ia dapatkan dan memberikan kebanggaan untuk dirinya. Mungkin inikah yang disebut dengan kekuatan tak kasat mata?
Setelah kejadian tersebut, ia berkomitmen untuk selalu menjaga auratnya, terutama kepala sebagai mahkota yang dimuliakan sebagai bagian dari kaum hawa.
Kisah kedua, coba kita lihat beberapa kejadian alam seperti bencana banjir, meletusnya gunung berapi, dan bencana lainnya. Peristiwa meletusnya gunung berapi misalnya, sebelum gunung meletus ada seseorang warga di lereng gunung yang mengaku mendapatkan mimpi dari penjaga gunung.
Mimpi tersebut dijadikan patokan untuk memprediksi sesuatu yang akan terjadi. Dalam mimpinya, ia diharuskan untuk melakukan serangkaian ritual bersama warga desa lainnya. Kegiatan tersebut ditujukan agar warga disekitar mendapatkan keselamatan dari meletusnya gunung berapi.
Kisah selanjutnya, mungkin kita semua sudah tidak asing lagi dengan peristiwa yang menghebohkan jagad raya Indonesia pada tahun 2009 di daerah Jombang, Jawa Timur.
Seorang bocah yang katanya mendapatkan petuah untuk menyembuhkan berbagai penyakit hanya dengan mencelupkan batu yang ia genggam. Bocah yang dimaksud tidak lain adalah Ponari, si dukun cilik.
Ia menemukan batu yang ia anggap ajaib tersebut ketika hujan deras yang mengguyur desanya. Karena dianggap batu biasa, sang nenek membuang kembali ke halaman rumah.
Keesokan harinya, Ponari mengambil kembali batu yang telah dibuang oleh neneknya dan membawa ke rumah tetangganya yang sedang sakit. Ia mencelupkan batu yang ia genggam kedalam gelas berisikan air minum, lalu tetangganya yang sakit itu meminumnya. Entah mengapa, tetangga tersebut langsung sembuh dari penyakitnya.
Berita itupun sontak menjadi buah bibir dan banyak orang yang datang mencari peruntungan yang sama, bukan hanya dari dalam negeri melainkan ada beberapa yang datang dari mancanegara.
Menelisik beberapa kisah yang telah penulis sajikan, tentunya paradigma yang dibangunpun akan berbeda.
Perbedaannya, terlatak pada proses ketercapaiannya dan kebermanfaatannya. Sedangkan persamaannya, sama-sama berupa kisah yang berada diluar batas kemampuan manusia.
Semua akan kembali pada tingkat kepercayaan, jika perubahan yang dialami mengarah kepada kebaikan untuk dirinya, orang lain dan menambah khidmat untuk beribadah kepada Allah, maka itu berupa hidayah yang nyata.
Jangan berasumsi negatif dengan petujuk yang tidak berdasar, terkadang manusia berubah menjadi tidak tahu diri karena medapat pencerahan yang berbeda dari manusia lainnya.
Yang berbahaya adalah memaknai hidayah sebagai tuhan dan menyembahnya. Sungguh kejadian itu telah ada di zaman jahiliyah, yakni zaman kebodohan.
Antara Agama dan Budaya
Orang Jawa memaknai wangsit dengan istilah ilham, petunjuk, sabda, ataupun dhawuh (perintah) yang berasal dari Tuhan Yang Maha Esa, baik melalui perantara perkataan orang lain, perntara mimpi, ataupun mampu mengambil hikmah dari suatu kejadian dalam hidup manusia itu sendiri.
Orang yang mendapatkan wangsit tidak sembarangan, ia mempunyai kualifikasi spritual yang kuat. Misalnya tekun menjalankan ibadah puasa sunnah, dan selalu berlaku baik.
Wangsit biasanya sering dikaitkan dengan tingkat religiustitas yang kuat, sehingga orang yang mendapatkan wangsit kerap dijuluki dengan orang yang beruntung atau ‘alim. Proses orang mendapatkan wangsit ini tentunya berbeda.
Nah, pada peristiwa ini terkadang sebagian besar orang salah untuk memaknai secara bersih, kerap kali mencapuradukan antara urusan agama dengan budaya ataupun tradisi.
Kajian ini perlu mendapatkan perhatian yang mendalam. Patut menjadi perhatian, agar ibadah yang kita kerjakan diterima oleh Yang Maha Kuasa, jangan sesekali menggabungkan keduanya.
Pisahkan agar keduanya mendapatkan posisi yang semestinya, lingkup agama dimaknai dengan bumbu ketakwaan dan lingkup budaya tetap pada koridornya untuk melestarikan warisan luhur dari nenek moyang kita terdahulu.
Harus selalu diingat, antara wangsit dan hidayah mempunyai makna tersirat yang saling berkaitan. Asalkan kita menterjemahkan ke dalam perbuatan yang bertujuan menebar kemanfaatan untuk pribadi ataupun orang lain, itulah makna yang semestinya.
Tetapi sebaliknya, jika manusia mengubah arah makna dari keduanya dan mencampuradukan dengan hal negatif, maka hasilnya juga akan negatif dan merugikan banyak orang serta lingkungan.
Semua tergantung pada niat dan kembali pada prespektif manusia itu sendiri.
Di bulan Ramadan ini semoga kita tidak salah dalam memaknai hidayah yang datang menghampiri kita.
*Penulis adalah Ketua Devisi Jaringan LSMernissi Bidang Immawati DPD IMM Daerah Istimewa Yogyakarta
Pendidik di Madrasah Mualimat Yogyakarta, Anggota Nasyiatul Aisyiyah Yogyakarta, Agggota di LSO LSMernissi Bidang Immawati DPD IMM DIY
