Mengenal Taman Nasjiah: Majalah Khusus Anak yang Lahir dari Rahim Suara ‘Aisyiyah
“Moelai boelan Mei 1939 jang akan datang ini, S.A. akan berlampiran ,,Taman Nasjiah’’ jang sengadja disediakan oentoek soeara dan toelisan kepada dan dari anak-anak kita moerid-moerid sekolah isteri dan jang berhimpoen dalam Nasjijatoel-‘Aisjijah se Indonesia”. Keterangan tentang akan terbitnya lampiran Taman Nasjiah itu diumumkan di Majalah Suara ‘Aisyiyah Edisi Maret 1939.
***
Lembaran Taman Nasyiah pertama kali terbit pada Mei 1939 Masehi atau bertepatan dengan Rabiul Awal 1358 Hijriah. Berbeda dengan Suara ‘Aisyiyah yang saat itu sudah sepenuhnya menggunakan bahasa Indonesia, Taman Nasjiah justru menggunakan 4 (empat) bahasa, yaitu Indonesia, Jawa, Arab, dan Belanda.
Aktor intelektual di balik terbitnya Taman Nasjiah adalah Siti Moemtichanah, Siti Zaharijah, dan Siti Hidanah. Saat pertama kali terbit, Taman Nasjiah mengusung motto: “Madjallah oentoek anak-anak, terbit tiap-tiap boelan oleh Soeara ‘Aisjijah”.
Tulisan Siti Hayinah dan Siti Wachidah –sebagai perwakilan pengurus Suara ‘Aisyiyah—yang berjudul “Perhatikan Akan Terbitnja Taman Nasjiah” mengungkapkan bahwa kehadiran Taman Nasjiah adalah sebentuk ikhtiar dari Suara ‘Aisyiyah untuk turut menyediakan ruang bagi anak-anak sebagaimana yang sudah dilakukan oleh beberapa kalangan.
Taman Nasjiah dilampirkan di bagian belakang Suara ‘Aisyiyah. Pola pelampiran naskah ini sejatinya mengikuti pola yang digunakan majalah-majalah lain, seperti yang dilakukan Pandji Poestaka dengan Taman Anak-Anak-nya, ‘Adil dengan Moerid-nya, Penjebar Semangat dengan Taman Poetera-nya, Wanito Oetomodengan Bale Warti Siwi-nya, dan sebagainya.
Si Anak Pintar
Sebagai pembuka, Joe Em –yang nampaknya merupakan nama pena dari Siti Moemtichanah—menulis artikel berjudul “Tjerita Apa Dongeng?” Di dalam tulisan berbahasa Jawa ini, Joe Em sejatinya sedang memperkenalan Taman Nasjiah kepada pembaca. Ia menggambarkan Taman Nasjiah sebagai seorang anak pintar yang disukai ibu dan kawan-kawannya.
“Si Taman Nasjiah ikoe maoe kerep didjak loenga iboene menjang negara ngendi-ngendi, nganti tekan tanah sabrang barang, dadi ja kerep noenggang sepoer lan praoe”. Artinya, “Taman Nasjiah sering diajak bepergian oleh ibunya ke berbagai negara, hingga sampai ke pelosok negeri, karenanya ia sering menaiki kereta api dan kapal”.
Ungkapan Joe Em “didjak loenga iboene menjang negara ngendi-ngendi” ini dapat dimaknai dua hal. Pertama, saat itu, majalah Suara ‘Aisyiyah memang kerap memuat peristiwa yang terjadi di luar negeri, terutama mengenai aktivitas pergerakan perempuan Asia. Dengan demikian, membaca Suara ‘Aisyiyah sama halnya dengan ikut mencermati dinamika pergerakan di luar negeri.
Kedua, para pimpinan ‘Aisyiyah yang melakukan perjalanan ke luar negeri, misalnya ke Jepang, Mesir, bahkan negeri-negeri Eropa, melaporkan kisah perjalanannya kepada pembaca setia Suara ‘Aisyiyah. Boleh jadi, dalam perjalanan itu mereka membawa majalah Suara ‘Aisyiyah sebagai teman duduk.
Setelah menjelaskan identitas Taman Nasjiah, Joe Em lantas mengajak anak-anak, khususnya pengurus dan sekutu Nasyiah untuk aktif menghidup-hidupi majalah ini, baik dengan berlangganan maupun menulis karangan. Selain menjadi wadah berbagi pengetahuan, Taman Nasjiah juga menjadi sarana silaturahmi.
Ada beragam rubrik yang dimuat di dalam Taman Nasjiah, seperti cerita, puisi, teka-teki, pengetahuan umum, nasihat, dan informasi tentang aktivitas Nasyiatul ‘Aisyiyah (dalam bentuk gambar dan artikel). Yang jelas, belum ada rubrik tetap pada masa-masa awal penerbitannya.
Dinamika
Di beberapa edisi, Suara ‘Aisyiyah nampak tidak memuat lampiran Taman Nasjiah, semisal pada edisi November 1939. Pada Mei 1940, tepat setahun setelah majalah ini terbit, diberitahukan bahwa Taman Nasjiah kurang dapat berkembang karena memang belum banyak mendapat perhatian dari para pembaca.
Meskipun begitu, setidaknya sampai November 1940, Taman Nasjiah masih mengisi ruang belakang majalah Suara ‘Aisyiyah. Di edisi ini juga disampaikan bahwa Taman Nasjiah pernah dicetak terpisah dari majalah induknya (besar kemungkinan terjadi pada 1939). Hanya saja, “sepleitan itoe tidak dilangsoengkan lagi; sebab mengingat ongkos dan perloe kita bitjarakan lebih dahoeloe”.
Pengurus Suara ‘Aisyiyah saat itu memberikan dua pilihan: Taman Nasjiah masih menjadi bagian dari Suara ‘Aisyiyah dengan konsekuensi jumlah halaman yang disediakan terbatas dan bisa gagal terbit karena naskah masuk ketika Suara ‘Aisyiyah sudah siap cetak, atau memisahkan diri dari Suara ‘Aisyiyah meskipun tetap beradap di bawah kepengurusan yang satu (dua majalah satu pengurus).
Edisi berikutnya, yakni Desember 1940, Taman Nasjiah kembali tidak terbit. Pemberitahuan penting menyangkut eksistensi Taman Nasjiah disampaikan dalam Suara ‘Aisyiyah edisi Agustus 1941, bahwa Taman Nasjiah “akan mulai terbit lagi dalam boelah September 1941 ini; dengan disendirikan (tidak dilampirkan dalam S.A)”. Oleh karena dicetak terpisah dari Suara ‘Aisyiyah, pengurus Taman Nasjiah pun menetapkan harga langganan sendiri untuk para pelanggan.
