f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kaya

Mau Jadi Kaya Seperti Apa?


Duh…enaknya jadi orang kaya
Beli apa juga bisa
Pergi ke mana juga bisa.

Rahmania, anak-anak 90-an pasti tidak asing dengan lirik lagu tersebut. Sebuah lagu karya dari musisi lawas Oppie Andaresta dan dinyanyikan oleh artis tanah air Joshua Suherman dengan Mega Utami.

Dalam lagu tersebut menceritakan tentang seorang anak yang terlahir dari keluarga miskin. Bermimpi menjadi orang kaya yang mempunyai banyak uang dan dengan uang itu akan bisa membeli apa saja yang mereka inginkan. Hal tersebut memang lumrah. Setiap orang berhak mempunyai angan-angan setinggi langit bukan?

Berangan-anagan Menjadi Kaya

Banyak orang mulai dari anak kecil hingga orang-orang yang sudah tua berangan-angan menjadi orang kaya. Hidup menjadi orang kaya itu pelit, hidupnya santai dan menyimpan Lamborgini di garasi rumah mereka. Anggapan itu yang masih melekat sampai sekarang. Hal itulah yang membuat semua orang berangan-angan untuk menjadi orang kaya.

Ya memang tidak gampang jika ingin menjadi orang sukses atau kaya. Semua pasti dilakukan dengan usaha kerja keras. Ibarat pepatah berakit-rakit ke hulu. Berenang-renang ke tepian. Bersakit-sakit dahulu, Bersenang-senang kemudian. Atau, siapa yang menanam ia pula yang menuai.

Orang lain hanya memikirkan sebuah gengsi saja, merasa malu dengan yang mereka miliki saat ini. Hidup pun hanya bisa bermalas-malasan, ya percuma jika impian hanya sebatas angan-angan saja.

Saat masih kecil pun, kita sering disuguhkan tontonan-tontonan di layar tv negeri ini. Sinetron misalnya, tentang kehidupan antara si kaya dan si miskin. Si miskin yang hidupnya kebanyakan dihabiskan dengan menangis, selalu tertindas oleh majikannya. Lalu si kaya yang hidupnya kebanyakan dihabiskan dengan tertawa bahagia diatas penderitaan orang lain.

Baca Juga  Arogansi Ilmuwan dan Matinya Kepakaran

Hidup memang seperti ini, si kaya merasa berjaya sedangkan si miskin semakin tertindas. Maksud tertindas dalam artian selalu diremehkan dan merasa bahwa kaum bawah bak seperti upik abu. Tak khayal, mereka juga mengiginkan hidup seperti seorang “Cinderella”. Upik abu yang bisa menggunakan pakaian, perhiasan mewah lalu menikah dengan seorang pria kaya dan akhirnya hidup bahagia. 

***

Di saat kita mulai beranjak dewasa nanti, orang tua pasti akan menuntut kita untuk menjadi seperti mereka. Bukan hanya orang seperti kita saja, orang tua mereka juga pasti ingin untuk selalu mempertahankan harga diri mereka dan ambisi sebagai orang tua yang berhasil dalam menyekolahkan anak-anak mereka hingga menjadi sukses walaupun penuh resiko.

Sekali-kali tanyakan kepada mereka, apakah mereka selalu bahagia? Apakah mereka menikmati hasil kerja keras mereka? Atau, apakah mereka hidup dalam aman? Tentu saja tidak semua bisa merasakannya.

Sekaya-kayanya seseorang pasti sebelumnya mengalami kegagalan, bahkan sampai bangkrut. Mereka mungkin pernah putus asa dalam menjalani hidup mereka. Karena tekanan dari orang-orang luar juga mungkin saja pihak lain yang berusaha menjatuhkan dirinya. Tekanan itu yang menjadikan mereka mempunyai fisik juga mental yang lemah.

Seorang anak yang berasal dari orang kaya pun sering merasa tidak percaya diri karena dirinya yang tidak bisa seperti orang tua mereka. Anggapan yang mungkin juga menyakitkan bagi hati mereka seperti ungkapan “Pasti bisa lah, lha wong dia orang kaya!” ada juga “Main curang itu pasti, bapaknya banyak duit soalnya”.  

Setiap hari maupun setiap waktu, hati dan telinga mereka yang selalu menanggung ucapan-ucapan menyakitkan itu. Mereka pastinya ingin disukai bahkan dicintai sebagai pribadi mereka apa adanya, terlepas dari uang yang ada dikantongnya atau kekayaan keluarganya.

Baca Juga  Sayap-Sayap Malaikat (2)
Hidup itu Pilihan

Pernah mendengar ungkapan bahwa ‘hidup itu pilihan’? Kalau jadi orang kaya itu pun juga pilihan, mau hidup kaya seperti apa? Contohnya saja, orang kaya kalau mau hidup biasa aja juga bisa, mau hidup hemat juga bisa, mau hidup layaknya orang kaya sesungguhnya juga bisa.

Saya akan menunjukan, seorang tokoh yang menurut saya memiliki arti ‘kaya’ yang sesungguhnya. Bill Gates, siapa yang tidak kenal dengan beliau. Seorang billionare dunia yang rela meninggalkan jabatannya sebagai ketua Microsoft demi sebuah yayasan amal yang ia dirikan bernama Bill and Melinda Gates Foundation khusus untuk penderita AIDS. 

Selain nilai kemanusiaan, beliau juga meiliki nilai etika yang baik. Beliau mengajarkan agar kita selalu bersyukur tentang semua apapun yang diberikan tuhan kepada kita.

Bila kita sudah kaya akan materi, tak seharusnya kita menyakiti hati orang lain yang mungkin masih di bawah kita. Jadi, kalau bagaimana rasanya menjadi orang kaya? Tentu memang enak. Tergantung bagaimana orangnya juga, orang baik pasti tidak mengingirkan berapa habiskan untuk berbuat kebaikan.

Beda lagi dengan dengan orang yang egois, kebanyakan orang kaya yang selalu menghindari pajak, sering melanggar hukum dan umumnya egois. Namanya juga orang kaya, tinggal mengeluarkan uang mereka bisa bebas leluasa. Termasuk dengan fasilitas mewah di penjara.

Jahat bukan? Inilah hidup sekarang, tidak perlu untuk saling menyalahkan, karena tidak ada yang enak jika dalam posisi manapun baik menjadi kaya maupun orang yang tak ber-uang jika dalam pemikiran orang lain.

Namun, dalam hidup kita tidak perlu bertindak terlalu jauh. Jadilah diri sendiri! Jadilah diri sendiri dengan cara melakukan sesuatu yang menurutmu bisa dalam menggapai impianmu. Jangan terlalu muluk-muluk, jika kamu bekerja dengan ikhlas, semua akan bisa kau dapatkan nanti. Oh ya Rahmania, jangan memusingkan tentang masa depan. Karena apa? Karena kita tidak tahu nantinya bagaimana akhirnya.

Bagikan
Post a Comment