f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
generasi sandwich

Generasi Sandwich, Tak Seenak Namanya

Apabila kita mendengar kata sandwich, yang terbayang di otak kita pastilah roti dengan berbagai macam isian yang menggugah selera. Namun, tahukah kalian apa itu ‘Generasi Sandwich’? Jika kalian berpikir bahwa generasi sandwich ini akan membahas hal-hal yang berkaitan dengan sandwich atau roti isi, maka kalian salah.

Generasi sandwich ini muncul untuk menggambarkan manusia yang berada di usia tengah (middle age), yaitu sekitar 30 hingga 50 tahun, yang sedang ‘terhimpit’ karena harus menanggung biaya dari orang tua yang lanjut usia dan juga anak yang masih bergantung. Sehingga mereka ibarat sebagai isian sandwich yang terhimpit oleh dua buah roti.

Istilah generasi sandwich sendiri pertama kali dicetuskan oleh salah seorang profesor yang menjabat sebagai salah satu direktur di University Kentucky, Amerika Serikat yang bernama Dorothy A. Miller pada tahun 1981 di dalam jurnalnya yang berjudul “The ‘Sandwich’ Generation: Adult Children of The Aging”.

***

Nah, dari penjelasan singkat ini saja, sudah dapat kita bayangkan kan, seberapa tidak enaknya apabila kita sampai terjebak dalam generasi sandwich? Maka dari itu, mari kita bahas mengenai apa saja faktor yang menyebabkan terjadinya generasi sandwich dan bagaimana cara agar kita tidak terjebak ke dalam generasi sandwich tersebut.

Generasi sandwich pada umumnya terjadi karena orang tua menganggap bahwa bagi mereka anak adalah sebuah investasi. Yang memiliki maksud bahwa anak sebagai investasi adalah para orang tua menuntut anak-anak mereka untuk membalas jasa mereka dengan membebankan anak untuk membiayai kebutuhan hidup orang tua ketika mereka sudah lanjut usia.

Nah, dengan adanya pemikiran yang seperti itulah siklus generasi sandwich akan terus berlanjut. Selain itu, generasi sandwich juga menyebabkan adanya kegagalan dalam perencanaan finansial yang terjadi pada generasi sebelumnya.

Baca Juga  Biarkan Anak Menemukan Bakatnya Sendiri

Hal tersebut biasanya terjadi dengan orang tua yang tidak memiliki uang tabungan yang akan sangat berguna dalam memenuhi kebutuhan hidup di masa tua. Ada juga faktor lain dari kegagalan perencanaan keuangan seperti perilaku konsumtif dan gaya hidup yang tinggi. Sedangkan pendapatan rendah sehingga tidak seimbang dengan pengeluaran.

***

Semua itu pada akhirnya akan membuat generasi berikutnya terjebak dalam generasi sandwich. Dari sini saja, kita bisa tahu bahwa pemikiran seperti itu sudah seharusnya dihilangkan agar tidak menjadi beban bagi generasi selanjutnya. Oleh karena itu, apabila kita tidak memutus siklus ini, maka generasi sandwich akan terus berlanjut.

Lalu, apa saja yang harus kita lakukan agar bisa memutus siklus generasi sandwich? Pertama, hilangkan pemikiran bahwa anak adalah investasi. Tanpa dituntut untuk membalas budi pun, apabila orang tua mendidik anak dengan baik, maka anak akan sadar bahwa mereka sebaiknya membantu merawat orang tua mereka baik secara finansial maupun hal lain.

Kemudian, tanamkan pemikiran bahwa anak tidak memiliki kewajiban dalam menanggung kebutuhan finansial orang tua. Karena orang tua lah yang sudah seharusnya bertanggung jawab atas anak-anaknya. Maka dari itu, orang tua sebaiknya tidak mengharapkan imbal balik yang sekiranya akan membebani anaknya.  

Yang ketiga, biasakan untuk selalu menabung. Sehingga, saat sudah pensiun tetap memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Tentunya kelak bisa meringankan beban anak dalam memenuhi kebutuhan orang tuanya. Lagi pula, dengan begini anak akan semakin mudah mencapai kesuksesannya.

Yang keempat, jangan terbiasa hidup boros atau konsumtif, apalagi memiliki gaya hidup yang tinggi. Terlebih lagi apabila memiliki pendapatan yang rendah. Jangan sampai hanya untuk mengikuti gaya hidup yang tinggi, kita sampai harus berhutang.

Baca Juga  Hei! Bekerjalah dengan Bahagia, Jangan Terpaksa
***

Kemudian, sebisa mungkin apabila memiliki uang simpanan berlebih, cobalah berinvestasi. Kita memang tidak bisa terlalu mengandalkan uang investasi karena terkadang hasilnya tidak selalu menguntungkan. Maka dari itu, berinvestasilah ketika benar-benar memiliki uang yang sekiranya apabila merugi, maka kalian tidak menyesalinya.

Dan yang terakhir, ikutlah program asuransi. Dengan berasuransi, maka kalian sudah memilih cara yang tepat apabila suatu saat terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Nah, jika kalian berhasil melakukan hal-hal tersebut, kemungkinan besar siklus generasi sandwich akan berhenti.

Dari fenomena-fenomena tersebut, dapat kita simpulkan bahwa generasi sandwich sudah seharusnya kita hentikan agar tidak ada lagi pihak yang akan terbebani. Lagi pula, apabila hal ini terus berlanjut, pasti beban yang akan orang tersebut emban sangatlah berat. Karena semakin ke sini pekerjaan semakin susah dicari dan biaya hidup juga terus meningkat.

Maka dari itu, sudah sepatutnya kita turut menghapuskan generasi sandwich dan membentuk keluarga yang saling menguntungkan. Lagi pula, dengan kita menerapkan cara-cara untuk memutus siklus generasi sandwich, maka kita selangkah lebih dekat menjadi manusia yang berwawasan baik dalam hal kepengurusan keluarga maupun perencanaan finansial.

Lalu bagi kalian yang sudah terlajur terjebak dalam generasi sandwich, saya berharap kalian memiliki pemikiran untuk menghentikan siklus tersebut dan menghindari faktor-faktor yang menyebabkan siklus tersebut berlanjut, terutama dalam hal menganggap anak sebagai sebuah investasi.

Kita semua memang berhak mendapatkan imbalan atas pengorbanan yang telah kita lakukan. Akan tetapi, alangkah baiknya apabila kita melakukan pengorbanan itu dengan ikhlas, sehingga apabila imbalan yang kita terima tidak sebanyak apa yang telah kita korbankan, kita tetap bisa menerimanya dengan lapang.

Bagikan
Post a Comment