f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
diskriminasi

Hak Anak Atas Non Diskriminasi

Oleh : Hamid Patilima*

Diskriminasi adalah kejahatan terhadap kemanusiaan. Merusak harkat martabat seseorang, termasuk anak.

Tantangan terbesar dihadapi Amerika Serikat dan bangsa-bangsa Eropa, Asia, serta Indonesia pada dekade terakhir adalah penghapusan isu rasial. Persoalan warna kulit, misal. Kejadian terkini di seantero Amerika, terpicu oleh masalah ras. Meskipun Perserikatan Bangsa-Bangsa telah menerbitkan kebijakan penghapusan diskriminasi, yang diikuti ratifikasi oleh berbagai Negara, termasuk Indonesia. Diskriminasi masih tetap saja menjadi tantangan pada masa kini dan masa datang.

Akar persoalan ini ada di setiap rumah. Jika masih ada sikap diskriminasi terhadap anak, maka kapan pun sikap ini tidak akan terhapus. Jalan satu-satunya, untuk memastikan ayah dan bunda serta anggota keluarga lain tidak diskriminasi terhadap anak.

Kata kuncinya, jika anak-anak tidak pernah mengalami diskriminasi, maka kelak dia menjadi seorang individu di mana pun dia berada, baik di tempat tinggal, tempat belajar, tempat bermain, tempat umum maupun dia kelak menjadi seorang pejabat, pengusaha, pemilik media, profesional. Insya Allah, dia tidak akan diskriminasi kepada siapa pun, termasuk kepada anaknya, ayah ibunya, teman-temannya, mitra kerjanya, rakyatnya, serta lainnya.

Pasal 2 Konvensi Hak Anak menegaskan bahwa, “Setiap Negara menghormati dan menjamin hak setiap anak yang berada di dalam wilayah hukum mereka tanpa diskriminasi dalam bentuk apa pun, tanpa memandang ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik atau pendapat lainnya, kewarganegaraan, asal usul kebangsaan atau sosial, kekayaan, disabilitas, kelahiran atau status lain.” Untuk setiap Negara perlu “mengambil langkah yang layak untuk memastikan anak dilindungi dari segala bentuk diskriminasi atau hukuman yang didasarkan pada status, kegiatan, pendapat yang disampaikan, atau kepercayaan orang tua anak, walinya yang sah, atau anggota keluarganya.”

Baca Juga  Apresiasi, Kunci Kesuksesan Anak

Komite Hak Anak PBB, melalui publikasi Unicef, mengidentifikasi 53 item yang membuat anak mengalami diskriminasi. Lima puluh tiga item yang menyebabkan Anak mengalami diskriminasi (Komite Hak Anak), karena: jenis kelamin; disabilitas; ras; xenophobia dan rasisme; asal etnis; orientasi seksual; kasta tertentu; suku “Tak tersentuh”; bahasa; anak tidak terdaftar saat lahir; anak yang lahir kembar; anak yang lahir pada hari sial; anak yang lahir dengan posisi sungsang atau terlahir dengan kondisi abnormal; kebijakan “satu-anak” atau “tiga anak”; anak yatim; tempat tinggal perbedaan antara berbagai provinsi / wilayah / negara, dan lain-lain; pedesaan (termasuk eksodus pedesaan); perkotaan; anak yang tinggal di daerah kumuh; alasan untuk diskriminasi terhadap anak-anak; anak di daerah terpencil dan pulau-pulau terpencil; anak pengungsi; anak-anak tunawisma; anak-anak terlantar; anak ditempatkan dalam pengasuhan alternatif; anak-anak etnis minoritas ditempatkan pada layanan alternatif; anak dilembagakan; anak hidup dan / atau bekerja di jalanan; anak yang terlibat dalam sistem peradilan anak, khususnya, anak-anak yang kebebasannya dibatasi; anak-anak korban konflik bersenjata; anak yang bekerja; anak korban kekerasan; pengemis anak; anak yang terjangkit HIV – AIDS; anak dari orang tua dengan HIV – AIDS; ibu muda tunggal; minoritas, termasuk Roma / gipsi / wisatawan / anak nomaden; anak-anak masyarakat adat; non-nasional, termasuk anak-anak imigran; imigran ilegal; anak-anak pekerja migran; anak-anak pekerja musiman; pengungsi / pencari suaka termasuk pengungsi muda tanpa orangtua; anak yang terkena dampak bencana alam; anak yang hidup dalam kemiskinan / kemiskinan; ketimpangan distribusi kekayaan nasional status sosial / kerugian / sosial kesenjangan sosial; anak yang terkena dampak masalah ekonomi / perubahan status ekonomi orangtua yang menyebabkan segregasi ras di sekolah; properti orangtua; agama orang tua; hukum status pribadi berdasarkan agama; anak-anak non-nikah (anak yang lahir di luar nikah); anak dari keluarga orang tua tunggal; anak-anak inses; dan anak pernikahan antara orang-orang dari kelompok etnis / agama yang berbeda atau negara.

Baca Juga  Bagaimana agar Anak Menjadi Jujur?

Dari sekian penyebab anak mengalami diskriminasi, item mana yang pernah ayah dan bunda lakukan kepada anak atau kepada teman anak kita. Bagaimana tanggapan anak tersebut? Perubahan apa yang terjadi sesaat, pada saat ayah dan bunda bersikap diskriminasi? Kalau ayah dan bunda pernah melakukannya, jalan satu-satunya, hanya meminta maaf kepada anak. Atau kalau pernah menjadi korban, maafkanlah siapapun yang pernah bersikap diskriminasi kepada ayah dan bunda. Karena pelaku diskriminasi adalah penjahat kemanusiaan.

Ajak anak berdiskusi, ayah sebagai moderator dan bunda sebagai narasumber utama. Mintakan anak untuk menceritakan tentang apa yang dia ketahui tentang diskriminasi. Identifikasi apa saja yang membuat dia merasa mengalami diskriminasi. Tanyakan juga perbuatan tangan dan mulutnya yang membuat orang lain mengalami diskriminasi. Bagaimana dengan dirinya, apakah pernah mengalami diskriminasi dari siapa saja. Melalui diskusi ini, ayah dan bunda serta anak, termasuk anggota keluarga lain yang tinggal seatap, memiliki pengetahuan tentang diskriminasi, dan bagaimana keterampilan diri dan sikap untuk tidak diskriminasi dengan sesama manusia, dan makhluk Allah lainnya.

Pastikan dalam diskusi, ayah atau bunda memutuskan beberapa kesepakatan tentang penghapusan diskriminasi; bagaimana mendiseminasikan kepada anak dan anggota keluarga lain untuk selalu tidak diskriminasi. Bagaimana mengawasi dan mengingatkan apabila ada yang melampaui kesepakatan tersebut. Serta setiap minggu untuk meninjau kembali kesepakatan-kesepakatan tersebut, melalui diskusi kecil, yang kemungkinan menghasilkan kesepakatan baru untuk ditegakkan.

Hanya mereka yang selalu berserah diri kepada Yang Maha Pengawas, serta tangan dan mulutnya tidak menyakiti siapapun, termasuk anak merupakan orang yang beruntung.

Putuskan sikap diskriminasi mulai dari rumah, dengan bersikap non-diskriminasi terhadap anak.

*) Penulis adalah aktivis anak dan Tim Ahli Pengembangan KLA di Independen

Bagikan
Post a Comment