Upaya Pemulihan Trauma Akibat Perundungan di Sekolah

5 menit baca
Teks:
WhatsApp

Sekolah masih menjadi tempat yang rentan terhadap perundungan. Padahal kampanye anti perundungan gencar disuarakan dari tahun ke tahun. Namun, seakan tak bisa mencegah terjadinya peristiwa traumatis berupa perundungan di sekolah. Maka, selain kampanye, dukungan orang tua, guru dan profesional kesehatan mental (psikolog atau psikiater) kepada korban perundungan menjadi kunci upaya pemulihan korban perundungan di sekolah.

Tak bisa dipungkiri bahwa setiap perundungan selalu menyisakan trauma mendalam bagi para korbannya. Sayangnya, tak semua korban perundungan dapat pulih dari traumanya. Perkaranya, kadang penyelesain kasus perundungan hanya berhenti karena adanya tahap penyelesaian secara “kekeluargaan”. Itu pun tak terjadi dalam semua peristiwa perundungan. Sering kali, korban perundungan tak berani bicara. Kadang korban hanya bertahan sampai kelulusan dan membiarkan pelaku terus menerus menyiksa korban.

Untuk bisa pulih dari trauma perundungan tidaklah mudah. Korban perundungan membutuhkan  pendampingan untuk bisa bangkit dari keterpurukannya. Namun bukan pendampingan tunggal dari orang tua saja. Dibutuhkan sinergi antara orang tua, pihak sekolah, serta fasilitator kesehatan mental. Sinergi antara ketiga pendukung pemulihan korban perundungan akan dapat membantu korban untuk bangkit dan menemukan kepercayaan dirinya lagi.

Kisah Perundungan Rima

Namanya Rima. Usianya baru tujuh tahun saat ia mengalami perundungan. Ya, Rima mengalami perundungan pada saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Rima adalah seorang pendatang. Kepindahannya mengikuti perjalanan hidup orang tuanya dari kota kecil di Jawa Tengah ke sebuah kota besar di provinsi lain.

Saat itu, Rima belum bisa berbahasa setempat. Rima juga sedikit gagap saat berbicara yang membuatnya tidak percaya diri dalam bersosialisasi. Rupanya kedua hal tersebut menjadi pemicu tindakan perundungan dari siswa lain di sekolahnya. Rima mengalami perundungan fisik dan psikis. Pelaku mengejek, meludahi, memukul, mencakar hingga menendang Rima. Serupa dengan para korban perundungan pada umumnya, Rima tak mampu melawan saat pelaku menyiksanya di sekolah.

Sebenarnya, di rumah, Rima sudah melaporkan peristiwa tersebut ke orang tuanya. Awalnya, orang tua Rima menganggap laporan anaknya hanyalah kenakalan anak-anak biasa. Orang tuanya bahkan sempat meminta Rima untuk tetap mengalah. Ternyata permintaan orang tua Rima tersebut justru memperburuk kondisi psikis Rima dari hari ke hari. Maka, ibu Rima pun memutuskan untuk melapor ke wali kelas di sekolah.

Komunikasi ke Pihak Sekolah

Orang tua Rima berusaha mengomunikasikan kondisi anaknya kepada wali kelasnya. Tapi hasilnya benar-benar mengejutkan. Wali kelas justru menyalahkan Rima. Wali kelas tersebut bahkan menyarankan Rima untuk tidak melawan walaupun dengan alasan mempertahankan diri. Alasannya hanya karena Rima perempuan. Alih-alih melindungi wali kelas tersebut memberi alasan jika Rima tidak melawan maka geng anak-anak dominan itu tak akan semakin menjadi.

Wali kelas yang notabene juga seorang perempuan tersebut ternyata memiliki pandangan berat sebelah dan bias gender. Tak lama berselang, tiga wali murid memindahkan anak-anak mereka ke sekolah lain. Mereka juga korban, sama seperti Rima. Melihat tidak adanya tindakan tegas dari pihak sekolah, orang tua Rima pun bersiap memilih opsi untuk memindahkan Rima ke sekolah lain.

Rima mengalami luka-luka yang cukup serius. Luka-luka tersebut cukup menjadi bukti betapa tidak amannya sekolah itu. Rencana kepindahan Rima bertepatan dengan pergantian kepala sekolah. Kepala sekolah yang baru memiliki sikap berbeda dari kepala sekolah yang lama. Kepala sekolah yang baru  meminta waktu untuk menyelesaikan kasus kekerasan yang selama ini terjadi di sekolah tersebut.

Dukungan Nyata dari Orang Tua

Singkat cerita, kepala sekolah yang baru pada akhirnya mampu mengatasi masalah perundungan di sekolah. Akan tetapi, Rima terlanjur terluka. Ia mengalami trauma, menarik diri, dan menghindari sosialisasi. Walaupun demikian orang tua Rima terus men-support Rima untuk “membalas dendam” dengan cara menjadi yang terbaik di sekolah itu.

Dan benar saja, satu demi satu prestasi ditorehkan Rima. Ia lulus sebagai siswa dengan nilai akademis terbaik di sekolahnya. Rima bangkit dengan cara mengukir prestasi. Ia berhasil masuk ke sebuah Sekolah Menengah Pertama yang menjadi incaran siswa berprestasi di kotanya.

Namun, ternyata drama perundungan kembali terulang. Saat berada di kelas 7, Rima mengalami bentuk lain dari perundungan berupa pengucilan. Lagi-lagi pelakunya adalah segelintir anak yang mendominasi pertemanan di kelas Rima. Ia pun ter-trigger peristiwa di masa lalu. Rima kembali terpuruk. Luka batinnya kembali terbuka.

Saat menginjak usia remaja, Rima mengalami gangguan psikis yang lebih parah. Rima semakin sering menyakiti diri sendiri (self-harm). Orang tua Rima berupaya mencari pertolongan kepada wali kelasnya. Sayang, respon wali kelas tidak sesuai dengan harapan. Wali kelas tidak percaya anak-anak yang terlihat manis di depannya mampu merundung temannya sendiri.

Sinergi Tiga Pihak Menjadi Support System untuk Pemulihan

Merasa tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menolong, orang tua Rima menemui psikiater khusus anak dan remaja. Psikiater ini berada di poli tumbuh kembang anak pada sebuah rumah sakit pusat. Setelah melalui berbagai tes dan observasi, Rima terdiagnosa anxiety disorder. Rima harus menjalani terapi kognitif perilaku dan terapi obat-obatan untuk mengatasi kecemasan yang ia rasakan.

Datangnya pandemi dan pergantian kepala sekolah yang memiliki visi kuat terhadap perilaku siswa adalah angin segar bagi Rima. Pandemi yang memaksa setiap siswa belajar dari rumah, memberi jeda dan ruang kosong bagi Rima untuk menyembuhkan diri. Kepala sekolah yang baru concern dengan isu-isu perundungan masa remaja yang marak terjadi di sekolah-sekolah. Kepala sekolah ini melakukan banyak perubahan besar di sekolah yang membawa dampak positif baik secara akademis, maupun perilaku siswa.

 Selain peduli dengan isu perundungan, kepala sekolah mengoptimalkan fungsi perpustakaan sebagai rumah ilmu siswa dan menggalakkan kegiatan literasi sekolah, yang membuat Rima semakin bersinar di bidangnya. Rima adalah anak yang gemar membaca dan menulis. Hobi tersebut mengantarkannya kepada prestasi demi prestasi di bidang menulis dan jurnalisme baik di sekolah maupun di luar sekolah.

Terpilihnya Rima menjadi salah satu siswa berprestasi di sekolah mengubah banyak hal. Self-esteem-nya semakin meningkat, mulai bisa bersosialisasi. Dia semakin mengenali potensi yang dia miliki. Dia tidak lagi merasa sebagai anak yang lemah dan tidak berguna seperti dahulu.

 “Apa yang kamu rasakan (memenangkan berbagai lomba dan terpilih menjadi siswa berprestasi) sekarang Rima?” tanya psikiaternya dalam suatu sesi terapi.

“Bangga Dok. Ternyata saya berharga,” jawab Rima sambil tersenyum bahagia. Sesuatu yang jarang sekali dia lakukan selama 9 tahun belakangan ini.  Rima mampu bangkit, semoga demikian juga dengan Rima-Rima lain di luar sana. Amin.

Leave a Comment