f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
rasisme

Ketika Anak Dianggap Sebagai Investasi

Oleh : Nafakhatin Nur*

Suatu pagi, dalam obrolan saya dengan seorang ibu muda yang berpenampilan trendi di serambi sebuah masjid. “Saya sih kalau untuk sekolah tingkat SMP terserah anak. Anak mau sekolah di manapun, silahkan saja. Pokoknya bebas deh milih sesukanya. Tapi, begitu SMA dan kuliah, ia harus mengikuti dan patuh kepada saya. Saya yang akan memilihkan sekolah untuknya, saya akan memastikan sekolah itu yang terbaik demi masa depannya, “ demikian perempuan cantik itu mengucapkan kalimatnya dengan penuh semangat pantang mundur. Sedangkan saya hanya mangut-mangut saja. Bengong!

Walah, apa tidak kebalik ya? Pada umumnya, saat anak masih usia dini sampai usia sekolah dasar orang tualah yang akan mendominasi dalam pemilihan tempat belajar bagi anak-anak mereka. Hal itu orang tua ambil sebab menurut mereka, anak-anak dengan usia segitu belum mampu jika dilepas untuk memilih dan menentukan sendiri sekolahnya. Karena menentukan sebuah lembaga pendidikan yang mampu mendampingi tumbuh kembang dan memberdayakan anak terutama anak usia dini lebih banyak hal yang perlu dipertimbangkan.

Orang Tua Ingin Anak Mengikuti Jejaknya

Membahas soal anak dan pendidikan seperti tidak ada habisnya. Dan kembali ke topik pembicaraan saya dengan ibu muda di atas. Telisik punya telisik ternyata ia memang menghendaki anak-anaknya bisa mengikuti jejaknya. Atau tepatnya menjadi sama seperti dirinya. Nah, untuk menjadi seperti dirinya maka adalah suatu keharusan jika jenjang SMA dan kuliah anak-anaknya ia yang memilihkan, menentukan. Walau sangat mungkin itu berlawanan dengan bakat dan minat anak. Ia seakan tidak memedulikan hal itu. Bahkan dengan santainya perempuan itu menambahkan jika ternyata satu dari anaknya tidak bisa seperti dia maka masih ada dua anak yang lain. Pasti ada salah satu yang menjadi seperti dirinya.

Baca Juga  5 Tips Agar Anak Lulus Toilet Training

Menjadi seperti orang tua sebenarnya sah-sah saja. Rata-rata orang tua bahkan mungkin menghendaki hal tersebut. Jika orang tuanya seorang dokter, pasti ada keinginan agar anaknya setelah selesai pendidikannya juga berprofesi sama: Dokter. Jika orang tuanya seorang seniman maka kecenderungan alaminya mereka akan mengkondisikan situasi sejak kecil bagaimana agar anak-anak mereka berkembang potensi kesenimannya. Begitu pula dengan profesi-profesi lain yang prestise atau menunjukkan kesuksesan menurut standar orang tua. Alhasil, segala upaya akan mereka kerahkan demi terwujudnya impian dan harapan mereka terhadap anak-anak itu.

Anak adalah Investasi Orang Tua

Lalu apa hubungannya dengan judul di atas? Mari kita pelajari dulu tentang kata investasi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau disingkat KBBI, kamus versi online/daring dinyatakan bahwa yang dimaksud dengan investasi adalah penanaman uang atau modal dalam suatu perusaaan atau proyek untuk tujuan memperoleh keuntungan. Berinvestasi itu bertanam modal. Tindakan investasi tentunya bertujuan untuk memperoleh keuntungan di masa depan. Lha kalau menginvestasikan anak berarti menempatkan anak sebagai modal bagi orangtua agar mendapatkan keuntungan berlipat ganda. Entah itu keuntungan materi maupun non materi.

Anak adalah investasi orang tua. Begitu kita sering mendengarnya. Dan karena orang tua ingin mendapatkan keuntungan dari anak maka mereka pun berlomba-lomba memberikan yang terbaik untuk anak mereka. Di antaranya dengan menyediakan semua fasilitas yang dibutuhkan anak di rumah, memilihkan sekolah yang representatif dengan keinginan orang tua, mendorong anaknya untuk mengikuti kelas-kelas tambahan setelah jam sekolah usai seperti kelas tari, kelas musik, kelas memasak dan lain sebagainya. Pokoknya segalanya akan mereka tempuh demi anak. Kan keberadaan anak investasi mereka!

Hanya Berharap Keuntungan dari Anak

Eh, ngomongin keuntungan, kira-kira keuntungan apa saja sih yang diharapkan oleh orang tua dari anak? Mungkin kita bisa membaginya menjadi dua yaitu keuntungan material dan non material. Keuntungan material tentu saja hal hal yang berkaitan dengan materi. Pernah suatu ketika, saat saya menjadi koordinator lomba mewarnai tingkat TK dan SD yang diadakan dalam rangka open house sekolah, saya mendapati pemandangan yang menyedihkan. Terlihat seorang ibu memarahi anaknya yang ikut lomba mewarnai dan hendak mengumpulkan kertas gambarnya kepada panitia. Si ibu tadi menunjukkan kekesalannya akan gambar yang diwarnai oleh anaknya itu. Ia bilang kepada anaknya: “ Wah, kalau mewarnaimu begitu ya tidak akan menang juara satu, Nak! ”

Baca Juga  Toxic Family : Racun Tersembunyi dalam Keluarga

Karena saya penasaran, kemudian saya bertanya kepada teman-teman panitia dan beberapa wali murid barangkali ada yang mengenal siapa ibu dan anak yang ikut lomba mewarnai itu. Akhirnya informasi saya peroleh. Ada yang memberitahu bahwa anak tersebut sudah berkali-kali ikut lomba mewarnai dan sering memenangkan perlombaan. Menurut informan saya tadi, katanya sangat wajar andai anak itu menang kompetisi mewarnai sebab memang diikutkan di kelas les mewarnai. Sepertinya sang ibu terobsesi dengan gelar juara dari si anak. Baginya anak adalah investasi. Sehingga ia mendaftarkan anaknya di berbagai ajang lomba demi keuntungan yang ingin ia dapatkan dari anaknya, yaitu juara!

Tren Branding Sekolah Investasi Bagi Orang Tua

Beberapa tahun ini sedang tren adanya lembaga pendidikan yang membranding sebagai pencetak penghapal al-Quran. Banyak orang tua kemudian memasukkan anaknya di lembaga pendidikan itu karena tertarik dengan adanya program tersebut. Dari iklan-iklan pendidikan yang mereka dapatkan, mereka pun semangat menggebu-gebu memotivasi anaknya bahwa menghapalkan al-quran, bahwa dengan menjadi seorang hafidz al-quran, sang anak bisa memakaikan mahkota bagi orang tuanya di akherat kelak. Lalu sang anak pun mengamini kehendak orang tuanya. Dengan bangganya mereka pun membayangkan menaruhkan mahkota yang indah di kepala kedua orang tuanya. Bagi mereka,itu adalah salah satu bentuk bakti kepada orang tua.

Dari beberapa kisah yang saya tuliskan di atas, sepertinya kita perlu mempertanyakan kembali peran dan posisi kita sebagai orang tua. Bagaimana sesungguhnya peran dan posisi orang tua terhadap pendidikan anak-anak. Bagaiamana seharusnya orang tua memaknai pendidikan bagi anak-anak mereka. Karena pada kenyataannya masih ada orang tua yang menempatkan anak hanya sebagai investasi untuk keuntungan diri mereka semata, bukan demi masa depan anak-anak sendiri. Dan, jangan-jangan tanpa sadar kita juga seperti itu.

Baca Juga  Bagaimana Bila Keluarga Bukanlah Rumah Bagi Anak?

*) Penulis adalah perempuan kelahiran Bojonegoro pada tahun 1978. Sekarang menetap di Kota Tuban dan berprofesi sebagai guru MI Manba’ul Ma’arif Tuban.

Bagikan
Comments
  • Chotidjah

    Joozz bu atin… Tetus berkrya dalam tulisan untuk pencerahn bagi orang tua… Good job… 😘

    Juni 29, 2020
  • Fan

    tulisan yang berbobot…

    mantap.
    lanjutkan tebar inspirasi.

    Juni 29, 2020
Post a Comment