f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ngirit

Ngirit Boleh, tapi Harus Selektif

“Cari yang murah, toh sama saja” ucapan ibu kepada anaknya yang tak sengaja saya dengar ketika di pasar pagi itu. Lumayanlah kalau bisa ngirit, itulah yang dipikirkan banyak Ibu.

Ya.., seperti hari Minggu biasanya saya dan mama pergi ke pasar tradisional. Alasan mama selalu mengajak ke pasar setiap hari Minggu karena selain barang-barang yang mama butuhkan tersedia komplit, harga pasar juga bisa ditawar sehingga inilah yang menjadi alasan utama mama begitu senang belanja di pasar. Mama selalu meminta untuk ditemani dan mengingatkannya apabila ada barang yang lupa ia beli, maklum saja hal itu terjadi, karena sifat mama yang pelupa.

Ketika kami sedang berjalan menuju tempat penjual ikan, pandangan mama beralih pada daster cantik yang terpajang pada ruko di sebelah kiri kami. Spontan saja mama meminta saya untuk berhenti dan mapir ke ruko tersebut.

”Kita mampir dulu sebentar, ada daster cantik” ucap mama sembari menuju ruko tersebut.

Mau tak mau saya harus menuruti mama, karena jika tidak saya turuti pasti mama ngambek lama, nanti malah nggak masak lagi. Hehehe

Berjalan menyusuri ruko juga melelahkan, hingga saya putuskan untuk duduk di kursi yang telah disediakan pemilik ruko sambil menunggu mama menawar daster.

****

“Ma.., lebih suka barang murah apa mahal?” Tanya saya spontan pada mama setelah teringat pada pembicaraan seorang ibu dengan anaknya tadi.

“Tidak ada orang yang mau membeli dengan harga mahal jika ada harga yang lebih murah, Nak. Apalagi seorang ibu yang harus pandai mengatur pengeluaran.” sahut mama sembari tetap menawar daster yang akan ia beli.

Benar saja, mama adalah sosok ibu yang hemat, segalanya harus didapat secara murah walaupun dengan proses tawar-menawar yang rumit, sempat juga mama adu mulut dengan penjual yang ada di pasar. Wajar saja karena memang sulit menyatukan antara keinginan pembeli yaiu harga murah dengan keinginan penjual dengan laba besar.

Baca Juga  “Tawakal” Adalah Nikmat
*****

Entah kenapa pikiran saya selalu tertuju pada ucapan seorang ibu kepada anaknya yang tak sengaja saya dengar tadi.

Hemat pangkal kaya, mungkin adalah prinsip ibu itu, bahkan kebanyakan ibu.

Peribahasa yang kini masih banyak orang yang salah mengartikannya. Mereka berusaha mengatur pengeluaran uang seminimal mungkin demi menyisakan uang sebanyak-banyaknya. Bukankah ada harga ada rupa? Mungkinkah dengan harga yang jauh berbeda namun kualitas tetap sama? Pemikiran yang seperti inilah yang juga harus diimbangkan dengan peribahasa hemat pangkal kaya.

Di zaman kemajuan seperti ini, banyak faktor yang harus dipertimbangkan. Kita ambil contoh kecil saja seperti membeli baju. Walaupun bentuknya terlihat sama, dengan harga yang jauh berbeda pasti memiliki kualitas yang berbeda pula. Entah yang satu mudah robek, mudah luntur warnanya atau bahkan tidak nyaman saat dipakai.  

“ Kok gak becus bikin baju sih?” Kata yang sering dilontarkan apabila geram dengan baju yang ia beli tidak sesuai keinginan.  Sebenarnya berpikir kritis adalah hal yang harus diutamakan, jangan hanya bisa menyalahkan orang lain. Apakah ada kain bagus dengan harga miring? Kita berada di zaman kemajuan, zaman persaingan yang begitu ketat, zaman yang semuanya harus didapat dengan uang.

****

Prinsip hemat juga harus ditata dengan benar, lebih baik beli harga murah berulang kali atau beli harga mahal sekali?  Pikiran saya terus menggerutu tentang hal itu.

“Sudah, Nak” suara mama yang membuyarkan lamunan.

Kulihat tangan kanan mama sudah menggenggam kantong plastik berisi daster pilihannya.

“Beli berapa daster, Ma?” tanya saya kepada mama sembari melanjutkan jalan menyusuri ruko pasar.

“ Satu saja, hanya untuk bersantai…toh juga murah harganya” ucap mama dengan suara senangnya.

Baca Juga  Bagaimana Jika Seorang Ibu Tidak Cerdas?

Diriku hanya terdiam. Memang benar semua ibu-ibu lebih suka menginginkan barang dengan harga murah.

****

Tak lama kemudian kedua tangan kami penuh dengan kantong belanja, semua barang sudah kami beli, hingga mama memutuskan untuk segera pulang. Sesampainya di rumah, mama begitu antusias untuk mencoba mengenakan daster pilihannya tadi. Daster pilihan mama memang terlihat bagus hingga mama tak sabar mengenakannnya.

Seperti biasa, mama selalu mencuci apapun barang yang baru ia beli agar tidak ada kuman yang menempel pada barang tersebut. Begitu juga dengan daster itu, mama langsung masuk ke kamar mandi untuk mencuci daster barunya.

Namun, tiba-tiba mama berteriak memanggil saya. Karena sangking kagetnya, telpon saya  terjatuh dari genggaman ketika saya sedang main game. Saya langsung lari ke kamar mandi menemui mama.

Namun, spontan saja saya ketawa lepas saat melihat kejadian itu, muka mama begitu cemberut. Ternyata daster yang baru mama cuci malah sobek bagian ketiaknya.

“ Ya sudah ma, besok beli daster yang murah lagi ya…biar sobek lagi” ucap saya mengejek mama.

……

Bagikan
Post a Comment