Pernikahan Bukan Sekedar Menyatukan Cinta
Salah satu nikmat dan anugerah berharga yang Allah berikan kepada makhluknya di muka bumi adalah rasa cinta. Dalam pernikahan, esensi yang paling penting adalah cinta itu sendiri. Kedua insan yang karakternya tak seragam, Allah memberikan rasa cinta agar ia langgeng dan gayeng menyatukan cinta tersebut. Tentu saja agar supaya menjadi cinta yang ideal dan membawa mereka ke jalan kemaslahatan.
Namun di sisi lain, jika menyikapi cinta dalam pernikahan pada era sekarang ini, tampaknya bukan semata wayang menyatukan cinta dari kedua pasangan. Akan tetapi menumbuhkan rasa dan saling berkomitmen agar cinta tersebut benar-benar subtil dunia-akhirat. Gambarannya adalah pernikahan dari kedua pasangan yang sebelumnya tidak pernah bertemu atau berpapasan secara kasat mata. Dengan kata lain adalah taaruf. Atau, pernah bertemu namun hanya dalam waktu yang singkat. Dan kedua calon pasangan tadi, sama sekali belum ada rasa suka. Atau, suka namun tidak begitu mendalam dan kurang menggayengkan.
Dari ilustrasi singkat dan sederhana di atas itulah kita dapat mengambil ibroh bahwa dalam pernikahan bukan sekedar mengelola cinta. Apalagi cuman menyatukan cinta. Akan tetapi menumbuhkan rasa dalam berumah tangga. Artinya, kedua pasangan tadi mendapat anugerah dari Allah untuk membangun dan berkomitmen untuk saling mencintai setalah pernikahan.
Membangun Cinta
Selanjutnya, selain kedua pasangan mendapat tugas untuk mengemban amanah “membangun cinta” dalam konteks berumah tangga, adalah menjaga cintanya. Hal ini senada dengan dauh salah satu guru saya ketika saya masih sekolah di bangku MA (Madrasah Aliyah). Kala itu beliau mengajar kitab “Kifayatul Akhyar” bab nikah. Beliau menyinggung tentang: betapa sulit dan beratnya seorang suami istri menjaga cinta yang merupakan tulang punggung atau jantung pertahanan berumah tangga.
Dan hal ini memang betul. Kita akui atau tidak, menjaga cinta untuk tetap kokoh dalam berumah tangga setelah akad pernikahan memang tak semudah orang jatuh cinta pada saat ada rasa penasaran dan ingin mencintai saat pernkenalan.
Contoh nyatanya adalah, dalam ranah bulan madu. Tiga bulan sampai satu tahun itu memang begitu eratnya rasa dan paduan cinta antara kekasih. Namun ketika menginjakkan usia pernikahannya, tiga tahun dan setelahnya, kedua pasangan tadi pasti tidak akan lepas dari yang namanya problem. Baik problem yang sifatnya remeh temeh seperti rasa bosan atau bahkan problem yang kompleks yang kerap memicu buyarnya rasa cinta sampai tragedi perpisahan.
Menumbuhkan Rasa Saling Percaya
Di sinilah rasa untuk menjaga cinta, rasa komitmen, saling memahami dan sebagainya dari kedua pasangan benar-benar mendapat ujian. Tak ada cara lain kecuali obat atau vitamin untuk membendungnya adalah menumbuhkan rasa saling percaya dan mengerti satu sama lain itu sendiri. Dan ini yang masalah yang memang kerap melanda. Sebab yang namanya pernikahan atau berumah tangga, rasanya nihil jika tidak terdapat masalah.
Lalu apa yang harus kedua pasangan tersebut lakukan? Tidak ada. Kecuali adalah dengan rasa tanggung jawab dan saling memotivasi untuk mempertahankan pernikahannya agar tetap langgeng dan bahagia.
Sebab yang namanya pernikahan adalah suatu hal yang memang kudu dipertahankan. Dengan cara apa? Tentu saja dengan rasa tanggung jawab itu sendiri. Jika tidak ada rasa tanggung jawab, atau ada namun tisak serasi cara mengkonsepnya, jelas akan memicu permasalahan. Yang namanya pernikahan adalah perjalan pahit-manis untuk menuju ke pintu kebahagiaan.
Pertimbangan dan Tanggung Jawab dalamn Pernikahan
Jika kita kembali ke awal bahwa pernikahan bukan semata menyatukan rasa cinta, tentu kita sudah paham bahwa dalam pernikahan adalah sebuah pertimbangan. Pertimbangan tersebut adalah dalam mengambil keputusan. Sebab jika salah mengambil keputusan, akan melahirikan polemik. Dan jika dihinggapi hal itu, cara menyelesaikan tanggung jawab dan mempertimbangkan suatu hal akan semakin sulit. Jika sulit, tak jarang akan berefek pada keputusan yang kerap kali tak diinginkan.
Contohnya pertengkaran karena adu mulut yang berangkat dari keputusan yang tak selaras. Jika dalam berumah tangga terus melahirkan nuanasa yang kurang sedap, selalu bertengkar, maka perceraian akan terjadi. Walaupun hal ini memang tidak semuanya berakhir miris begini. Tapi ini adalah sebagian fakta dalam berumah tangga. Yakni tak mampu berkomitmen, saling mengerti, dan tak sigap dalam mengambil keputusan perihal pertanggungjawaban. Di sinilah hampanya rasa cinta. Buyar bila tak pandai menumbuhkan rasa cinta.
Dan hal ini memang tidak lepas dari rasa lalainya kedua pasangan. Sehingga alternatifnya adalah hal-hal yang tidak diinginkan. Dalam arti lain terjadi tragedi yang misterius dan miris bila harus berujung ke jalur perceraian.
Dari tulisan di atas kita dapat mengambil hikmah bahwa ada rasa tanggung jawab yang berat. Baik dari suami ataupun istri. Kedua pasangan diberi tugas yang lebih ekstra untuk pandai menjaga berbagai kondisi dan situasi, utamanya ketika dilanda konflik yang dapat memicu keretakan pondasi atau pilar rumah tangga. Tak lain hal itu untuk mempertahankan cintanya yang telah melebur menjadi pernikahan agar tak terjerumus ke jurang perpisahan.

