f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
pengaruh ibu

Lima Pengaruh Ibu dalam Mendidik Anak

Dalam sebuah keluarga, ibu menjadi pusat sentral dalam pendidikan anak bersama-sama dengan ayah. Sering kita dengar ungkapan bahwa ibu adalah madrasah al-Ula bagi anak. Munculnya ungkapan tersebut karena ibu telah mengandung selama 9 bulan, melahirkan kemudian menyusui sang anak selama 2 tahun. Adapun perhatian dan pendidikan sudah menjadi keharusan bagi ibu dan ayah untuk senantiasa mereka berikan kepada anaknya. Namun, ada satu hal yang perlu kita perhatikan, yakni orang tua bisa memberikan pendidikan anak tentang bertakwa pada Allah Swt. Karena proses penanaman nlai-nilai ketakwaan berawal dari dalam keluarga.

Kemudian, apabila seorang anak telah terlahir ke dunia dan mendapatkan keadaan orang tuanya yang harmonis, maka anak tersebut bisa tumbuh dan berkembang dalam pengasuhan yang penuh ketenangan dan ketenteraman. Begitupun sebaliknya. Maka dalam Islam telah mengatur batas-batas hubungan antara kedua orangtua dengan anak dalam melaksanakan perannya.[1]

Maka peran ibu inilah sangat penting, pun juga peran ayah. Berbicara mengenai peran ibu, sebagaimana kita ketahui, ibu lebih banyak menyertai anak-anaknya mulai sejak dalam kandungannya. Dalam keluargapun, ibu menjadi contoh teladan bagi anaknya, sebagaimana anak bagaikan pengamat yang menangkap apa saja yang terjadi pada sekitarannya. Dari hal tersebut, untuk mencapai keberhasilan mendidik anak ada lima pengaruh yang membuat anak menjadi tumbuh baik dibalut dengan ketakwaannya kepada Allah Swt.

1. Ibu menjadi suri tauladan bagi anak

Suri teladan adalah kurikulum yang Allah Swt. amanahkan kepada sosok manusia yang menjadi teladan umat Islam, Nabi Muhammad Saw., untuk menjadi suriteladan yang baik bagi segenap umatnya. Hal ini sebagaimana tertuang dalam QS. Al-Ahzab ayat 21. Suri tauladan adalah contoh yang Nabi Saw. praktikan dari ayat tersebut. Sesuai dengan karakteristik sosok teladan yang Rasulullah miliki sebagai landasan dan metode mendidik anak.[2]

Baca Juga  Kawruh Pamomong: Ilmu Parenting dari Ki Ageng Suryomentaram

Di samping itu pula, Rasulullah Saw. bersabda, “Sebaik-baik kamu adalah yang paling baik terhadap keluargamu dan aku yang paling baik dalam memperlakukan keluargaku.” (HR. Ibnu Hibban)

Hadis tersebut memberikan gambaran bahwa kehidupan Rasulullah Saw. sebagai suriteladan kepada anak-anak, para sahabat dan tetangganya sesuai dengan karakteristik mulia yang ia miliki. Contoh dalam hal kehidupan sehari-hari misalkan ibu memberikan rambu-rambu dan nilai-nilai Islam  sehingga bisa memberikan dampak pada akidah anak-anaknya.

2. Pengaruh bahasa dalam mendidik anak

Dari seluruh aspek kepribadian seorang anak, bahasa memiliki peranan yang penting. Pedoman sudut ini bisa merujuk pada masa dahulu yaitu pada zaman bangsa Arab. Dengan hal itu, dapat diketahui pentingnya bahasa dalam pendidikan anak dan pengaruhnya terhadap bidang-bidang kehidupan.

Dahulu bangsa Arab berusaha keras anak kecilnya diantarkan ke pelosok-pelosok mencari seseorang yang bisa mendidik bahasa dengan baik dan berbicara dengan tutur kata yang indah dan bahasa Arab yang fasih yang digunakan oleh penduduk Arab pendalaman. Tujuan ini tidak lain untuk mendidik anak-anak memiliki sifat-sifat keberanian, cerdik, perilaku terpuji dan ksatriaanya.[3]

Namun dari sudut pandang lain, seorang ibu yang berada di era globalisasi akan sangat sulit menggunakan yang demikian. Ditambah cara pandang kepada orang pendalaman telah berbeda, diakibatkan oleh keterlambatan sampai aliran peradaban yang membaca. Walaupun ini memang sulit untuk diciptakan paling tidak sudah mengusahakan untuk menciptakan lingkungan Islami dan baik dengan menggali ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis.

3. Pengaruh cerita dalam menanamkan nilai-nilai yang baik

Faktor aqliyah yang mengandung muatan pendidikan untuk menyajikan akidah Islam dan akhlak yang sempurna dengan cara bercerita. Karena cerita yang diperdengarkan pada anak sesuai dengan tingkat daya tangkapnya maka akan berkembang. Maka dari itu, seorang ibu hendaknya tidak melalaikan untuk bercerita pada anak karena ibu berkewajiban membiasakan untuk menjalankan segenap nilai etika yang termasuk akhlak yang baik, seperti sabar, mementingkan orang lain, ikhlas, memenuhi janji, takwa, penyayang dan berkata benar.

Baca Juga  The Power of Mother: Sosok Ibu Menjadi Penentu Masa Depan Seorang Anak

Seperti seorang ibu menceritakan tentang para nabi yang tercermin di dalamnya ada contoh-contoh indah untuk semua aspek pendidikan. Hal ini menjadikan seorang ibu harus memiliki pengetahuan yang luas tentang kisah-kisah nabi. Salah satu contoh yang sering diperdengarkan yaitu tentang Nabi Musa As., di mana ibunya memenuhi perintah Allah, dengan meletakan Nabi Musa yang masih kecil dalam peti dan dihanyutkan di arus sungai, yang kemudian diasuh oleh istri Fir’aun. Nah itu, contohnya dan masih banyak cerita nabi yang perlu ditanamkan pada jiwa anak.

4. Pentingnya hiburan bagi anak-anak

Hiburan adalah suatu kata yang dipakai untuk menyatakan jenis kegiatan yang konstruktif yang dijalankan oleh seseorang pada waktu senggangnya. Hal ini bukan untuk memperoleh materi, akan tetapi dapat bersifat fisik akal, sosial, etika maupun seni.[4]

Jiwa manusia itu berbeda-beda sesuai dengan karakternya masing-masing dan cara mendapatkan hiburan juga berbeda-beda. Hal ini untuk memperoleh ketenangan jiwa dan menghirup udara bebas yang bersih dan memiliki pengaruh besar terhadap kesehatan. Ragam hiburan inilah yang perlu diketahui oleh ibu. Karena di zaman modern ini terdapat banyak aneka ragam permainan yang menarik dann menggoda anak, sehingga perlu adanya pengawasan.

Maka dari itu, seorang ibu harus menjelaskan anak-anaknya bahwa hiburan itu harus sesuai dengan ajaran Islam. Apabila tujuannya untuk memperkuat jasmani dan pikiran menjadi rileks dan bersemangat untuk melakukan tugas-tugas lain maka akan menjadi ibadah dan mendapatkan pahala.

5. Membaca kisah-kisah dan syair

Sama seperti nomor 3, bahwa dengan dibacakannya kisah atau cerita, maka dampaknya akan berpengaruh pada perkembangan anak. Kemudian salah satu yang dapat ketenangan jiwa adalah membaca syair. Syair ini menjadi penting karena anak suka sekali dengan nada dan kata-kata yang menyentuh di hati. Maka seorang ibu harus memanfaatkan pengaruh besar ini dengan cara menghidupkan kaset-kaset syair keagamaan, maka anak-anak akan terbiasa dengan itu. Kemudian, manfaat lainnya membuat anak akan memperkuat jiwa keagamaan dan perilaku terpuji di dalam jiwanya.

Baca Juga  Anak Adalah Tanggung Jawab Orang Tua, Bukan (Hanya) Ibunya

Oleh karena itu, ibu menjadi unsur utama dan pokok dasar dalam keluarga dengan ungkapan bahasa yang paling tepat dan indah, sehingga tidak akan diragukan lagi anak-anak tersebut akan patuh dan mendapatkan pengalaman yang baik.

Inilah lima pengaruh yang membuat anak menjadi tumbuh baik dibalut dengan ketakwaannya kepada Allah Swt. Insyaallah.

Sumber:

Abu Filza M. Sasaky, Peran Ibu dalam mendidik Generasi “Muslim” Judul Asli: Daur al-Umm Fi Tarbiyah at-Thifl al-Muslim, Jakarta: Firdaus, 2001, hal. 17

Abdurrahman an-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: Gema Insan, 1995, hal. 77


[1] Abu Filza M. Sasaky, Peran Ibu dalam mendidik Generasi “Muslim” Judul Asli: Daur al-Umm Fi Tarbiyah at-Thifl al-Muslim, Jakarta: Firdaus, 2001, hal. 17

[2] Abdurrahman an-Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: Gema Insan, 1995, hal. 77

[3] Ibid, hal. 128.

[4] Ibid, hal. 141

Bagikan
Post a Comment