Tips Parenting (3): Kendala Ekonomi dan Internet BdR
Sebagai orangtua, Belajar dari Rumah (BdR) bukanlah sesuatu yang membebani sahabat sekalian. Justru ini menjadi momuntum istimewa untuk menciptakan kesan bagi anak dan orangtua.
Selanjutnya momentum seperti apa yang bisa membuat kesan? Ya, bisa dengan menciptakan hal-hal baru serta kebiasaan-kebiasaan baru yang disukai anak. Namun, apakah itu bernilai ekonomis atau justru harus merogok kocek lebih, sedangkan minat dan kesukaan anak selalu berubah.
Kemarin, sesi kuliah whatsapp yang dilaksanakan oleh Wakil Ketua KPAI, Rita Pranawati terdapat pertanyaan yang hampir sama, pertanyaan datang dari seorang Ibu Rumah Tangga berdomisili di Karawang,
Pertanyaannya, “Bagaimana tanggapan Ibu Rita mengenai sekolah yang menerapkan Work From Home (WFH) sedangkan kemampuan orang tua berbeda-beda dalam hal perekonomian, misalkan membeli kuota, belum lagi banyak juga orang tua yang tidak memiliki HP. Bahkan ada di daerah juga belum masuk jaringan internet.”
Jawaban:
Sekitar 200-an aduan masuk ke KPAI terkait Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), keluhannya adalah mulai dari tugas yang berlebihan, guru masih meminta masuk, orang tua tidak sanggup menerangkan kepada anak, orang tua tidak punya fasilitas HP/Laptop atau harus bergantian dengan ayah/ibunya.
Ada lagi orangtua yang tidak mampu membeli pulsa atau juga tidak ada sinyal. Ada pengemudi ojek online yang mengeluhkan anaknya tidak bisa PJJ karena HPnya dia bawa.
Dengan perekonomian kita saat ini kita tidak bisa memaksaan bentuk PJJnya.
KPAI sedang lebih mendalami lagi kasus ini. Sebagian surat teguran dan rekomendasi kepada kepala dinas terkait, sudah hampir 15 propinsi. Paska FGD, kami akan berkoordinasi dengan Mendikbud.
Prinsipnya PJJ harus memperhatikan kondisi dan situasi daerah, serta kemampuan anak. Dalam tulisan saya, saya sampaikan bahwa orang tua perlu berkomunikasi dengan guru terkait kesulitan-kesulitan PJJ, sehingga ada solusi.
Di Jogja disebuah SD Negeri, sebagian besar muridnya hanya pada minggu pertama dapat menjalankan PJJ dengan online.
Ada juga sekolah-sekolah yang sangat memahami anak didiknya, misalnya yang orang tuanya petani, peternak, anak-anak diminta menuliskan aktivitas selama dirumah, setiap hari.
Kondisi keragaman ini perlu dipahami guru, dan orang tua jangan sungkan-sungkan termasuk juga anak kita untuk ngobrol dengan guru agar ada solusi dari persoalannya. Semua beradaptasi, guru, murid, orang tua dalam WFH dan PJJ ini ya.

Dosen Fisip UHAMKA, Alumni S3 Sosiologi UI
