f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
anak

Anak dalam Bingkai Islam

Peringatan Hari anak nasional setiap 23 Juli bertujuan untuk membicarakan dan mengevaluasi sejauh mana perkembangannya mengenai pemenuhan hak-hak anak secara skala nasional. Sayangnya tahun 2021 tercatat ada 5.463 kasus kekerasan terhadap anak, baik laki-laki maupun perempuan. Jenis kekerasan terhadap anak pun beragam, mulai dari kekerasan seksual, fisik, psikis, penelantaran, trafficking, dan eksploitasi.

Tentu hal demikian menjadi titik refleksi dan catatan bagi kita semua, anak sebagai salah satu poros peradaban justru mengalami tindakan kekerasan. Untuk meninjau ulang suara parau di atas, saya mengambil kerangka keislaman, bagaimana Islam memandang peran orang tua dalam pemenuhan hak-hak terhadap anak ?

Anak dalam Pandangan Islam

Dalam sebuah riwayat hadis, suatu hari siti Aisyah bercerita: seorang wanita datang menemuiku membawa dua anak perempuannya, dia meminta (makanan) kepadaku sedangkan aku tidak memiliki apa pun kecuali hanya sebutir kurma. Lalu kurma itu aku berikan kepadanya dan dia segera menerimanya dan membelahnya menjadi dua. Ibunya memberikan kepada kedua buah hatinya, sedangkan dia tidak turut memakannya. Setelah itu dia beranjak keluar bersama kedua anak perempuannya.

Tidak lama kemudian Nabi datang dan segera aku ceritakan kejadian ini kepada beliau. Lalu baginda bersabda : “Siapa yang mendapat ujian dengan sesuatu dari anak-anak perempuannya lalu ia tetap berbuat baik kepada mereka, maka kelak anak-anak perempuannya itu akan menjadi tabir (penghalang) baginya dari siksa neraka.’’

Di hadis lain,  Sanad dari Anas bin Malik Radhiyallahuanhu, Rasulullah bersabda : “Siapa yang mengasuh dua anak perempuan sampai keduanya balig (dewasa), maka di hari kiamat dia datang bersama aku”

Nabi Muhammad SAW mendidik buah hatinya terkhusus perempuan memiliki pahala yang sangat besar. Nabi telah banyak memberikan contoh mendidik anak-anaknya kepada umat Islam. Di tengah bangsa yang merendahkan kaum perempuan, nabi yang agung membesarkan putrinya Fatimah Az Zahra dengan kasih sayang berkepanjangan.

Baca Juga  Anak-Anak di Masjid, Sebenarnya Siapa yang Berisik?

Alkisah ketika nabi tengah di majelis dan melihat Fatimah datang, dia segera berdiri. Tidak jarang mencium kedua tangannya di hadapan para sahabat. Sungguh begitu erat hubungan cinta nabi dengan putrinya, dalam kondisi bangsa Arab memandang perempuan setengah manusia nabi Muhammad memberikan contoh urgensi memuliakannya.

Hak Anak dalam Islam

Di dalam kitab Hikmah Nameh-e Kudak karangan Muhammad Reisyahri, ada beberapa hak yang harus orang tua beri kepada anaknya, salah satunya memberikan nama yang baik. Nama menjadi bagian penting karena turut membentuk identitas keluarga, bangsa dan agama. Seperti Asep menunjukan orang sunda, nama Sitohang menunjukan identitas batak, dan Sutomo tentu asal Jawa.

Memberikan nama yang baik hak dasar yang harus orang tua penuhi. Hal ini sesuai sabda rasul ‘’ Sesungguhnya kalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak-bapak kalian. Maka baguskanlah nama-nama kalian. (Hr. Abu Dawud)

Lebih jauh, pakar psikolog modern Sepakat akan pentingnya pemberian nama karena berpengaruh terhadap pembentukan konsep diri. Secara tidak sadar akan membentuk citra yang terkandung namanya. Nama-nama  tertentu  yang  akhirnya  menjadi  bahan  tertawaan  dari  teman-teman. Bahkan akan  membawa  seseorang  kepada  pembentukan  konsep  diri  yang  lebih  negatif,  karena  nama-nama  julukan  yang  bernada  negatif  ia dapatkan. Sebaliknya nama-nama panggilan yang bernada positif dapat  mengubah seseorang ke arah yang lebih positif.

Kedua, Kasih sayang menjadi komponen penting dalam pemenuhan hak-hak terhadap buah hati. Nabi Muhammad Saw bersabda ‘’Bukan termasuk umatku orang yang tidak menghormati yang tua, menyayangi yang kecil,’’ , bahkan nabi menganjurkan orang tua untuk terus memberikan kasih sayang utuh terhadap anak-anaknya. ‘’ orang yang baik di antara kamu adalah orang yang paling penyayang terhadap keluarganya.’’

Dalam al-Qur’an Allah mengingatkan secara khusus kepada nabi Muhammad agar meninggalkan cara-cara kasar, sebab kekasaran tidak akan mendekatkan umat kepada nabi Muhammad, tapi justru akan menjatuhkannya. Allah SWT berfirman : ‘’Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.’’ (QS. Ali Imran : 159)

Baca Juga  RUU TPKS yang Akomodatif Berbasis Syariah dan HAM

Meskipun ayat ini turun secara khusus kepada Nabi Muhammad dalam membina umatnya, tapi pembinaan itu bersifat universal. Ayat di atas juga berlaku kepada orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Jika mereka ingin buah hatinya mendekat, maka jalan yang semestinya dalam mendidik anak penuh dengan lemah lembut, tidak kasar.

Nabi Muhammad mendidik anak-anaknya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Dalam beberapa riwayat, suatu hari saat nabi melakukan shalat Hasan dan Husein melompat-lompat di atas punggung beliau. Para sahabat ingin mencegah keduanya. Karena itu, mereka memberi isyarat agar mereka berdua meninggalkan nabi. Usai salat, nabi mendudukkan Hasan dan Husein dalam pelukan beliau, seraya bersabda ‘’siapa pun yang mencintaiku, maka cintailah dua anak ini.’’

Hilangnya Kasih Sayang Kepada Anak

Setiap orang tua tentu memiliki kecenderungan untuk mencintai buah hatinyanya, memiliki kedekatan emosional, menyayangi, memiliki rasa belas kasihan, dan memperhatikan kebutuhan-kebutuhan dari buah hati.

Di dalam ajaran Islam, al-Qur’an menamai anak sebagai ‘’qurrota a’yun’’ (buah hati yang menyejukkan) dan ‘’zina hayah al dunya’’ (hiasan kehidupan dunia). Hal ini menjadi tanggung jawab orang tua untuk membina anak dengan penuh kasih sayang.

Apa yang terjadi bila anak kekurangan bahkan tidak pernah mendapatkan kasih sayang ? saya mengutip kata-kata Dorothy Law Nolte, di dalam buku children learn what they live (anak belajar dari kehidupannya) Dorothy mengatakan :

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki,
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan ia belajar berkelahi,
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan ia belajar rendah diri,
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan ia belajar menyesali diri,
Jika anak dibesarkan dengan toleransi ia belajar menahan diri,
Jika anak dibesarkan dengan dorongan ia belajar percaya diri,
Jika anak dibesarkan dengan pujian ia belajar menghargai ,
ika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

****

Adanya kasih sayang antara orang tua dan anak pada dasarnya fitrah manusia, bahkan fitrah dari seluruh makhluk hidup di Bumi ini, tidak terkecuali binatang. Karena itu ada ungkapan bahwa “harimau tidak akan mungkin memangsa anaknya”.

Apabila ada hubungan kasih sayang antara anak dan orang tua yang putus, maka penyebabnya ialah hawa nafsu. Perbedaan apa pun seharusnya tidak menghilangkan rasa kasih sayang di antara mereka, karena inilah yang sesuai dengan fitrah manusia yang murni.

Baca Juga  Orang Tua dan Pendidikan Jarak Jauh; Sebuah Refleksi Singkat

Penyebab meningkatnya angka kekerasan terhadap anak biasanya karena rasa khilaf sebagian orang tua mengenai hak-hak terhadap anak. Al-Qur’an sebagai kitab suci kaum muslimin berfungsi sebagai petunjuk, (hudan), obat, (syifa) yang membahas beragam tema termasuk tentang keluarga.

Resep membangun keluarga ramah kepada anak dalam Islam tidak berubah. Dalam zaman apa pun, jika terus mengikuti petunjuk Allah dan rasulnya maka insyallah akan terbangun keluarga yang harmonis penuh kasih sayang.

Editor: Ahmad Murtaza MZ

Bagikan
Post a Comment