f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
dulu

Catatan Santri yang Sedang Belajar

Tak terasa kita sudah memasuki bulan Rajab 13 Februari lalu. Salah satu bulan yang mulia. Karena pada bulan ini terjadi peristiwa sakral yang dialami Rasulullah yakni Isra’ Mi’raj. Rasulullah sendiri menganjurkan untuk banyak berbuat kebaikan dan memohon ampun pada bulan ini. meski seharusnya memang anjuran berbuat kebaikan tak pernah memandang tanggal, hari atau bulan.

Jika diizinkan membuka memori bulan Rajab dua tahun lalu. Ah, masih segar di ingatan bagaimana rasanya kami (saya dan teman-teman santri lainnya) melakukan amalan-amalan di bulan Rajab itu bersama. Saling membangunkan sebelum subuh untuk tahajud dan makan sahur bersama. Mengaji, wirid, dan membaca doa-doa yang disunnahkan di bulan Rajab bersama. Betapa indahnya memori itu, memang benar pesantren adalah atmosfer terbaik dalam mendukung berbuat kebaikan dan beribadah kepada yang Maha Kuasa.

***

Tapi kini, kondisi itu lain cerita, semua sudah berbeda. Amalan-amalan sunnah yaumiyah saja kini sudah semakin berat saya lakukan. Semua amalan ibadah semasa di pondok dulu menurun secara kuantitas dan kualitasnya. Dari yang awalnya mengurangi rakaat shalat tahajud dan dhuha yang awalnya empat rakaat jadi dua, hingga kemudian benar-benar sudah jarang saya lakukan. Padahal dulu, kedua shalat sunnah itu bagaikan ibadah wajib bagi saya. Tidak lupa saya juga mengurangi kuantitas ngaji Al-Qur’an yang biasanya sehari bisa satu juz, jadi 4 lembar hingga kemudian saya bahkan tidak menyentuhnya sama sekali dalam sehari.

Puasa sunnah senin-kamis kini sudah lenyap, dzikir pagi dan petang mulai redup. Semua berubah saat saya mulai menginjakkan kaki keluar pelataran pesantren. Siapa yang salah? Dunia yang telah mengubah saya, atau saya yang sudah mau diubah dunia? Ah ‘tak baik mencari-cari alasan untuk perubahan (jika tidak ingin menganggapnya sebagai sebuah kegagalan) dalam diri kita sendiri. Apalagi sampai-sampai menyalahkan dunia. Alibi macam apa ini?

Baca Juga  Baik atau Tidak itu Pilihan

Semua hal yang saya alami ini sekali lagi mengingatkan saya pada dawuh seorang ustadz waktu di pesantren dulu, yang kira-kira begini “Kalian akan benar-benar merasakan menjadi santri seutuhnya saat keluar dari pesantren ini”.  Benar saja. Jadi santri itu tidak mudah setelah keluar dari pesantren. Ada saja hal-hal yang menguji iman dengan nikmat-nikmat Tuhan yang terlarang. Sebab, kami akui santri memang pada dasarnya bukan malaikat, makhluk tanpa nafsu. Ia adalah manusia yang notabene keturunan nabi Adam. Gampang penasaran, tergiur pada hal-hal nikmat apalagi yang terlarang.

Di pesantren saya dulu sangat dibatasi untuk berinteraksi dengan lawan jenis, tapi kini hal itu sudah menjadi hal yang biasa. Bahkan semua yang saya temui, yang dulu tabu saya saksikan di pesantren, di luar kini lumrah-lumrah saja. Dan kini saya justru berfikir mungkinkah itu hal lumrah yang ditabukan? Entahlah.

***

Begitulah. Hidup santri terus mengalir, kenapa mengalir? Karena itulah filosofi hidup yang ustadz kenalkan pada saya dulu. Santri itu air, mengalir, menghidupi, mengisi ruang-ruang kosong yang belum terisi. Namun, untuk menjadi lebih bermanfaat lagi, ia harus menjaga kemurniannya. Jangan sampai tercemar, nanti tidak bisa untuk bersuci. Seperti itu tafsiran saya selama ini tentang air dan santri.

Belajar di luar pesantren memang pada awalnya berat. Tapi sejak itu saya sadari betapa sempitnya pemikiran saya terkait hal-hal yang saya yakini selama ini. Perlu kehati-hatian memang dalam mengkonsep ulang sebuah pengetahuan yang sudah tertanam dalam diri saya sendiri. Saya sesekali mempertanyakan banyak hal, misalnya apa definisi santri. Apa santri adalah setiap orang yang sedang dan sudah menempuh pendidikan dalam pesantren atau bagaimana?  

Baca Juga  Menjadi Travelling Addict yang Berfaedah

Jawaban dari pertanyaan itu saya temui dalam buku Peradaban Sarung milik gus Dhofir. Di mana beliau mendefinisikan santri bukan hanya mereka para kaum sarungan tapi, juga mereka yang di dalam dirinya tertanam jiwa-jiwa kebajikan, Amar ma’ruf Nahi Mungkar. Atau jika bisa saya katakan santri juga bukanlah sebuah identitas, tapi proses bagaimana kita mempertahankan dan menginternalisasi kebaikan-kebaikan itu dalam diri kita.

Oleh karenanya tidak heran ustadz saya berkata demikian. Ternyata transisi dari dalam ke luar pesantren harus dibarengi dengan landasan yang kuat nan kokoh. Seperti yang kita amini bersama iman manusia selalu naik dan turun. ia bisa menjadi malaikat juga setan dalam waktu yang berbeda. Jika di pesantren ketika iman sedang menurun, setidaknya masih ada regulasi yang mengikat kita untuk terus kontinyu beribadah, tapi jika di luar pesantren kita sendirilah yang mampu menciptakan regulasi untuk diri kita sendiri.

***

Benteng pertahanan terakhir agar tidak mudah tersesat dalam kenikmatan-kenikmatan yang dilarang agama. Maka dari itu mari terus menjadi santri. memperbaiki diri dan hati dari hari ke hari. Apalagi di bulan Rajab yang mulia ini. kesempatan emas untuk meningkatkan ibadah kesantrian dan mendekat ke Ilahi.

Selamat menjadi santri, untuk hari ini, esok, dan selamanya.!

Bagikan
Post a Comment