f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
isoman

Saya OTG (3): Dicari Obat Stress Peningkat Imun

Saat manjalani Isolasi Mandiri (Isoman) beberapa teman bertanya, “Hiburan apa yang cocok saat Isoman?”. Beberapa teman saya itu mungkin ingin tahu pengalaman saya. Bisa jadi ingin mengetahui siapa tahu mereka juga akhirnya tertular virus covid-19. Saya tentu tidak mendoakan mereka terkena virus. Tetapi virus ini seperti arisan saja. Setiap orang punya peluang tertular, hanya kapan waktunya tidak diketahui. Sama persis dengan arisan, bukan?

Di antara mereka bertanya soal apa hiburan yang dilakukan untuk meningkatkan imun tubuh. Tahu sendirilah. Virus ini kan tidak bisa dibunuh dengan obat-obatan. Virus ini akan mati dengan sendirinya oleh daya tahan tubuh. Maka, wajar mereka bertanya soal itu.

Tentu yang paling utama bagaimana caranya kita riang gembira saat Isoman. Jangan banyak sedih meski terpapar virus. Tetapi apakah itu mudah? Tentu saja tidak.  Banyak orang menasihati agar orang yang terpapar vius itu untuk riang gembira karena mereka umumnya  belum terpapar. Jadi enak saja menasihati pada mereka yang sudah terpapar. Tetapi bagi yang menjalaninya tentu tak mudah, bukan? Namun demikian itu memang perlu. Bahwa riang gembira itu salah satu pemicu  peningkatan imun tubuh.

Coba lihat mereka yang wajahnya selalu sedih. Gampang baperan. Suka iri dengki pada kelebihan orang lain, umumnya wajahnya kelihatan tua. Atau raut mukanya kelihatan lebih tuadari yang  seumuran. Ini baru menyangkut wajah lho. Sementara wajah berhubungan dengan psikis seseorang.

Nah, riang gembiara tentu berkaitan dengan hal positif yang terjadi pada tubuh. Termasuk meningkatkan imun tubuh. Saya bukan ahli soal ini tetapi saya percaya. Lihat sekitar kita. Bandingkan antar orang  dengan umur sama setelah sekian puluh tahun.

Baca Juga  Agar Tidak Bingung dengan ‘New Normal’
Menulis itu Terapi

Lalu apa yang saya lakukan? Tidak mudah meningkatkan imun  tubuh dengan gembira. Namanya juga menjalani Isoman. Siapa yang suka dengan Isoman? Mau dites swab saya takut kalau terpapar, kok. Berarti tidak siap seandainya terpapar, bukan? Berarti tak mudah pula kan membuat hati gembira saat Isoman?

Mengapa? Karena tubuh tidak bisa otomatis meningkatkan imun tubuh, maka harus ada pancingan dari luar tubuh. Manusia tak bisa tersenyum terus sementara dia aslinya tidak suka dengan kenyataan yang dihadapi. Artinya, orang yang sedih, stress dengan Isoman tak mudah bergembira dengan sendirinya.

Kiatnya? Pertama, bergaul dengan orang-orang yang bisa mendukung untuk bergembira. Yang tidak mendukung bahkan iri diblokir saja sementara nomornya. Tidak apa-apa. Kan cuma sementara? Isoman itu juga membuktikan siapa  teman sebenarnya mana yang  bukan. Lihat siapa yang peduli siapa yang  tidak dengan orang yang terpapar. Ya tentu ini bukan ukuran pasti sih. Hanya salah satu indikasi saja.

Kedua, melakukan kegiatan yang memancing kita bisa gembira. Misalnya mendengarkan musik atau menonton video yang lucu-lucu atau yang kita suka. Terserah. Ini salah satu cara meningkatkan imun tubuh. Jadi harus dengan dipancing.

Saya akan cerita pengalaman yang kedua saja. Apa yang saya lakukan saat Isoman? Tentu apa yang membuat saya senang. Tentu saja setiap orang punya pengalaman masing-masing saat Isoman. Pancingan agar gembira juga berbeda satu sama lain.

****

Hiburan saya antara lain dengan melihat dan mendengarkan video lewat youtube, menulis dan membaca. Saya tidak perlu keluar kamar. Apalagi kalau bukan melihat video lagu-lagu yang memang saya kenal. Tentu lagu-lagu tahun 80-an sampai 2000-an. Sesekali melihat stand up comedy atau tayangan yang jadi langganan saya adalah peristawa net (Cak lontong, Deny Chandra,  Surya, Iqbal, Chika, Bedu, Jenita Janet dkk).

Baca Juga  Egoisme Elit Meruntuhkan Persepsi Risiko Publik terhadap Bahaya Pandemi

Lalu saya juga tetap menulis. Karena menulis bagi saya terapi yang manjur. Bisa jadi orang menganggap menulis itu serius karena berpikir dan itu menyita energi. Memang, tetapi kalau semua yang saya lakukan membuat saya senang? Tentu itu akan saya lakukan.

Selama Isoman setidaknya saya menulis untuk media cetak dan online.  31 Deseber 2020 saya mengirim tulisan berjudul  “Pers Penguat Optimisme” (dimuat Harian Bhirawa,  5 Januari 2021), 3 Januari 2021 mengirim tulisan “Maklumat Kapolri dan Posisi Media” (dimuat Harian New Malang Post, 4 Januari 2021).

Saya juga menulis tetap untuk Terakota.id setiap hari Senin.  Rinciannya mengirim tulisan 23 Desember 2020 berjudul “Tenang, Semua Bisa Diatur”, mengirim tulisan 28 Desember 2020 berjudul “Kabinet Rasa Liga Champions”, dan mengirim 4 Januari 2021 berjudul “Jangan Ada Dusta Diantara Kita”.

Lalu saya juga menulis untuk rahma.id. Pengiriman tulisan tanggal 29 Desember 2020 berjudul “Menulis Dengan Gaya Rambo” (dimuat 31 Desember 2020) dan mengirim 1 Januari 2021 berjudul “Ini Dia, Obat Penyakit Tak Percaya Diri Menulis” (dimuat, 3 Januari 2021). Jadi, selama Isoman 11 hari, saya membuat 7 tulisan.

Saya juga sempat mengisi  Webinar of Communication Festival di Unida, Gontor  tanggal 27 Desember 2020 soal pelatihan menulis bersama Ahmad Fuadi (penulis buku Negeri Lima Menara) dan Rizky C. Saragih (Ketua Bidang Pengembangan PERHUMAS Muda). Sesekali saya membaca bacaan ringan. Tentu yang ringan-ringan yang membuat saya senang. Buku teori pun terasa ringan dan menghibur jika kita memang membutuhkan  dan menikmatinya.

Semua Orang  Akan Terpapar

Apa pelajaran  yang bisa kita petik? Pertama, saat menjalani Isoman jangan stress. Stress milik semua orang. Jadi semua orang berpotensi stress. Yang bisa kita lakukan adalah mengelola stress. Caranya dengan mencari “obat anti stress” dengan dorongan dari luar. Misalnya mendengarkan musik, membaca buku, menulis atau kegiatan lain yang penting menghibur. Ingat, bahwa kita tak mudah menghibur diri untuk mengatasi stress. Stress bisa ditekan dari sesuatu di luar seseorang. Jadi obat stress bukan fluxetine, alprazolam,  sertraline atau lorazepam.

Baca Juga  Bekerja dengan Rasa Syukur

Kedua, tetap produktif sesuai kemampuan kita masing-masing.  Jadi jangan pasrah hanya dengan mengonsumsi obat. Lakukan kegiatan yang sehari-harinya memang sudah terbiasa  dilakukan. Tentu saja yang bisa diakukan tanpa harus berkegiatan secara fisik bertemu dengan orang.

Ketiga, seseorang  terpapar virus covid-19 hanya soal waktu. Itu seperti arisan. Setiap orang punya potensi terkena virus tersebut. Maka, nasihat saya sebagai alumni covid-19 perkuat daya tahan tubuh dengan makanan sehat, minum multivitamin yang mencukupi dan nasihat untuk menjaga kesehatan lain sebelum benar-benar terpapar virus. Virus sedang mengintai di sekitar kita. Bunuh virus dengan daya tahan tubuh. Ingat kita berada dalam suasana darurat.

Bagikan
Post a Comment