f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
single mother

Pola Asuh Single Mother dan Kemungkinan Munculnya Daddy Issues

Menurut kalian, seperti apa sih keluarga yang utuh dan ideal itu? Apakah keluarga yang tidak lengkap, seperti single mother maupun single father adalah keluarga yang tidak ideal?

Dalam keluarga inti yang utuh, pasangan suami istri harus saling melengkapi dan saling berbagi peran dalam pola pengasuhan anak. Ketika ayah sedang sibuk bekerja, ibulah yang akan menemani dan merawat anaknya. Sedangkan ketika ibu sedang memasak atau melakukan pekerjaan rumah lainnya, ayah akan bergantian menjaga anaknya. Hal ini menunjukkan adanya kesamaan peran dan pertukaran peran antara ayah dan ibu, sehingga keharmonisan keluarga pun ikut terjaga.

Kajian psikologis menunjukkan bahwa proses masa transisi menjadi orang tua pada perempuan lebih sulit ketimbang laki-laki. Penyebabnya adalah banyaknya persiapan dan pekerjaan ketika hendak menjadi seorang ibu. Sedangkan laki-laki tetap berfokus pada mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga saja.

Perjuangan untuk menjadi seorang ibu tidaklah mudah. Bahkan dengan bantuan dan dukungan dari sang suami saja, terkadang masih membuat ibu kewalahan dalam mengurus anaknya. Khususnya anak pertama karena belum adanya pengalaman dan pengetahuan yang mumpuni.

Namun, bagaimana dengan orang yang menjadi single parent, khususnya single mother? Ada stereotip yang sering melekat pada diri seorang single mother. Anggapan single mother tidak cukup cakap dalam mendidik anak dan bahwa nantinya mereka akan menghasilkan anak yang bermasalah muncul karena mereka gagal membangun keluarga yang ideal.

Tapi sebenarnya, para single mother berhdapan dengan pada situasi yang mengharuskan mereka untuk bertindak sebagai ibu maupun ayah kepada anak mereka. Peran yang seharusnya menjadi beban dua orang, namun kini menjadi tanggungan seorang diri. Selain harus menjaga dan merawat anaknya, seorang single mother juga harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan anak dan diri sendiri.

Kondisi inilah yang menempa seorang single mother untuk terbiasa menghadapi situasi yang sulit dan pelik.Sehingga mereka cenderung memiliki pribadi yang tegar dan mental yang kuat. Mereka juga cenderung mampu membuat keputusan yang cepat dan tepat, karena juga berperan sebagai decision maker.

Dari kisah nyata berdasarkan pengalaman pribadi, saya sendiri menganggap bahwa seorang single mother merupakan sosok yang kuat dan dapat diandalkan, sehingga sejujurnya saya sebagai anak, banyak bergantung padanya. Meski ibu saya sering mengomel, saya tahu bahwa itu demi kebaikan saya sendiri.

Baca Juga  Ladang Pahala untuk PNS

Mendapat pengasuhan dari single mother, menjadikan saya sebagai orang yang kuat dan tegar dalam menghadapi rintangan hidup apapun, sama seperti ibu saya. Meski terkadang terpuruk, ibu saya akan berada di samping saya dan menyadarkan saya bahwa saya bisa melewati ini. Hal inilah yang membuat saya kagum dan bangga memiliki ibu seperti ibu saya.

Lalu, saya juga tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang, meski kasih sayang tersebut hanya dari ibu daja. Walaupun saya memiliki saudara, ibu saya memberikan kasih sayang yang sama rata dengan saudara saya. Sehingga baik saya maupun saudara saya tidak merasa iri terhadap satu sama lain, bersikap caper pada orang lain, apalagi sampai merasa kurang kasih sayang.

Beberapa riset menunjukkan bahwa ikatan ayah dan anak yang kurang baik beresiko membuat anak menjadi sulit mempercayai orang lain, ingin selalu mencari perhatian dari orang lain, dan haus akan kasih sayang dari orang lain. Anak yang kurang atau bahkan tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari ayahnya cenderung terjebak dalam toxic relationship, yaitu daddy issues.

Dilansir dari Alodokter. daddy issues adalah efek psikologis yang dialami seseorang sebagai akibat dari hubungan yang tidak sehat maupun hubungan yang kurang harmonis dengan ayahnya, atau bahkan tidak pernah merasakan kehadiran sosok ayah dalam kehidupannya. Meski siapa saja dapat mengalaminya , namun daddy issues lebih sering terjadi pada wanita.

Pada anak laki-laki dengan daddy issues, dia dapat mengalami kendala saat menjalani kehidupan rumah tangga dan kesulitan menjalani perannya sebagai ayah maupun sebagai suami. Penyebab kurangnya figur ayah dapat menjadikannyapanutan dalam berumah tangga nantinya.

Sedangkan pada anak perempuan, ketika sedang mencari pasangan, seorang wanita dengan daddy issues biasanya cenderung mencari sosok yang menurutnya dapat diandalkan, mampu mengarahkan dan membimbing dirinya, serta dapat memberikan kasih sayang layaknya seorang ayah.

Baca Juga  Yuk Asuh Anak dengan Pendekatan Positive Discipline!

Mereka juga kesulitan memilih pasangan yang tepat. Hal ini karena mereka sulit menentukan batas hubungan seperti apa yang baik atau buruk. Sehingga mereka cenderung banyak memaklumi perilaku negatif pasangannya.

Dikutip dari buku berjudul Daddy Issues, Tim Wortham menuliskan tentang kegelisahannya selama ditinggal oleh ayahnya. Dia seringkali mempertanyakan diri sendiri, apakah dia memang bukan anak yang baik sehingga ayahnya meninggalkannya. Rasa tidak percaya dengan diri sendiri ini terus ia rasakan hingga ia beranjak dewasa.

Anak dengan daddy issues sangat mungkin memiliki rasa percaya diri yang rendah, baik itu kepada diri sendiri maupun kepada orang lain termasuk pasangan. Mereka sering merasa cemas dan takut bahwa sewaktu-waktu pasangannya akan mengkhianati dan meninggalkannya seorang diri, serta berbagai kekhawatiran lainnya yang berasal dari masalah pribadi.

Sebenarnya, daddy issues dapat diatasi walaupun tampak sulit karena harus berhadapan dengan ingatan masa lalu. Melansir dari The Verywell Mind, Caitlin Cantor memeberikan beberapa saran untuk mengatasi permasalahan daddy issues.

Pertama, kita harus bisa mengakui dan menerima bahwa kita pernah memiliki hubungan yang tidak baik dengan ayah kita di masa lalu. Setelah menerima, kita perlu mengenali seperti apa hubungan yang terjalin dengan sang ayah dan bagaimana pengaruhnya di kehidupan saat ini. Sehingga kita perlu memisahkan bahwa trauma masa lalu takkan berdampak buruk pada kehidupan maupun hubungan saat ini.

Kedua, orang yang sudah dapat menerima trauma masa lalu tersebut, dapat menyembuhkan diri dengan merasa sedih dan marah. Menurut Cantor, hal tersebut dinilai efektif untuk mengekspresikan perasaan yang tidak dapat diluapkan saat kecil. Ini juga merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan psikologis pada masa lalu yang tidak dapat dipenuhi.

Baca Juga  Pentingnya Pola Asuh Toleransi dalam Keluarga

Terakhir, kita tidak boleh takut untuk mengevaluasi segala hal yang terjadi dalam suatu hubungan. Kita dapat belajar untuk terhubung dengan pasangan dengan versi yang lebih ideal. Agar kita tidak terjerumus dan terjebak dalam hubungan yang toxic.

Ketimbang daddy issues, pandangan saya terhadap laki-laki hanyalah sekadar bahwa saya merasa harus berhati-hati pada mereka agar kejadian yang ibu alami terulang kembali pada saya sendiri, karena saya tidak membutuhkan laki-laki yang tidak bertanggung jawab.

Jujur saja, saya memang penasaran seperti apa sih sosok ayah itu dan bagaimana rasanya memiliki ayah. Tapi, hanya sebatas itu saja. Saya tidak merasa kurang percaya diri. Malah saya percaya bahwa meski saya sendirian pun, saya masih bisa mengatasi masalah-masalah saya dengan baik. Hal ini mungkin dapat terjadi karena saya telah melakukan 3 tahapan di atas.

Memang tak dapat dipungkiri bahwa diasuh dan dibesarkan oleh seorang single mother dapat memicu timbulnya daddy issues, khususnya pada anak perempuan. Namun, asalkan anak mendapatkan kasih sayang dan dukungan yang cukup dari ibu, anak akan dapat berkembang dengan baik tanpa adanya permasalahan daddy issues.

Walau begitu, bukan berarti anak dengan daddy issues tidak dapat diatasi. Tahap-tahapnya adalah menerima trauma masa lalu, luapkan emosi yang tidak dapat diluapkan di masa lalu, dan berani mengevaluasi suatu hubungan. Jangan terus terjebak dalam masa lalu sendiri. Berusahalah untuk keluar dari zona nyaman meski kita tahu bahwa itu bukanlah hal yang mudah. Dan percayalah bahwa selama kita percaya dengan diri kita sendiri, semua masalah pasti dapat kita hadapi.

Bagikan
Post a Comment