f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Yang Terdampak Pandemi Bisa Menjadi Donatur, Why Not?

Yang Terdampak Pandemi Covid-19 Bisa Menjadi Donatur, Why Not? (2)

Oleh: Feb Azimatus Sauvia*

Masih soal penggalangan dana yang beragam,  upaya kreatif dalam penggalangan dana terbukti mampu mengajak masyarakat dari berbagai lapisan untuk dapat berpartisipasi aktif. Jadi donasi tidak identik dengan mengeluarkan uang semata.

Dengan ini, masyarakat kecil yang misalnya memiliki tanaman di pekarangannya pun dapat mendonasikan hasil panen tanaman tersebut. Sangat mudah dan dapat dilakukan masyarakat di Indonesia juga, bukan?

Sayangnya, ide seperti ini belum banyak digaungkan dan dilakukan dengan baik di Indonesia saat ini. Bisa dipahami mungkin karena keterbatasan dalam beraktivitas sebagai konsekuensi dari himbauan work from home, learning from home, praying from home hingga kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Namun, bukan berarti kondisi tersebut membuat kita tidak kreatif dalam melakukan penggalangan donasi.

Beberapa kali saya menangkap komentar di grup whatsapp yang kurang lebih isinya, “Aduh aku sendiri terdampak, sekarang jadi penuh pertimbangan kalau mau transfer donasi.

Atau, “Nggak enak juga kalau cuma donasi sedikit, tapi disisi lain aku jg butuh berhemat”, lainnya “Aku do’ain aja ya, karena belum bisa ikut kontribusi apa-apa.” Padahal, do’a pun sebuah kontribusi. Terlebih apabila kita juga dapat berkontribusi atas sumberdaya yang kita miliki. Baik barang-barang yang berharga maupun yang sederhana sekalipun seperti daun jeruk yang dipetik dari halaman rumah tadi.

Apa artinya? setiap diri kita bisa berkontribusi dengan masing-masing potensi dan sumberdaya yang dimiliki. Kalau kita tidak bisa menggerakkan massa untuk menyumbang milyaran rupiah sebagaimana Rachel Vennya, mungkin kita punya keahlian memasak untuk membantu penggalangan dana.

Kalau kita tidak punya jejaring luas yang berpengaruh seperti mbak Ienas Tsuroiya yang berhasil mengumpulkan tokoh-tokoh nasional menyumbangkan barang untuk dilelang, mungkin kita punya kontak whatsapp group ibu-ibu PKK.

Baca Juga  Belajar Daring, Jangan Asal Belajar

Kalau kita tidak punya kemampuan menghipnotis Sobat Ambyar ala Didi Kempot untuk mendapatkan donasi Milyaran rupiah dalam sekali show, mungkin kita punya pohon pisang dan kelapa yang ada buahnya dan siap panen untuk kita donasikan. Pun seandainya merasa “tak punya apa-apa”, setidaknya bisa menjadi relawan yang menghubungkan pemilik buah pisang, kelapa dan orang dengan keahlian memasak, sehingga menghasilkan produk makanan seperti kolak atau banana cake lalu menjual kolak atau sekedar banana cake tersebut kepada ibu-ibu di whatsapp grup PKK sehingga menjadi salah satu sumber penggalangan dana.

Siapapun kita bisa turut mengambil bagian dalam penanganan pandemi Covid-19, termasuk Rahmania. Kita tetap bisa berdonasi dengan ikhlas dan menyenangkan meskipun sama-sama terdampak secara sosial ekonomi saat ini.

Iya, saya dan Anda semua dapat berdonasi. Tidak bisa berdonasi uang, kita dapat berkontribusi dengan tenaga ataupun memproduksi dan menjual sesuatu? Atau kita dapat berkontribusi menjadi pembeli produk yang diorientasikan untuk donasi.

Sebagai founder Sauvia, sebuah brand fashion, saya pun berusaha ikut berkontribusi menjadi kepingan puzzle dalam upaya meringankan dampak pandemi Covid-19 ini. Tentunya sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Karena bagaimanapun usaha saya juga terkena dampak.

Saat ini upaya yang saya lakukan dalam penggalangan dana yaitu dengan memanfaatkan stock produk yang ada dengan menyumbangkan 100% laba penjualan sejak bulan April hingga insya Allah akhir Ramadhan nanti.

Selain itu juga melakukan adaptasi dengan mengubah tujuan dari bahan baku kain  maupun sisa kain yang semula untuk produksi gamis dialihkan menjadi produk masker. Hasil penjualan masker ini 100% didonasikan tanpa dipotong modal.

Sehingga konsumen tidak hanya mendapatkan masker seharga 10 ribu, namun juga telah berdonasi dengan nominal yang sama. Sangat sederhana bukan. Namun itu bisa memberi solusi keterbatasan keuangan kami dalam berdonasi lebih.

Baca Juga  Seni Berkomunikasi ala Mbah Kakung

Beraneka ragam cara kita berdonasi bisa menjadi warna lain dalam ramainya penggalangan donasi yang sangat positif bagi bangsa kita. Kalau semua tergerak, terus bergerak, tentu akan menjadi gerakan nasional yang tumbuh secara organik dari bawah.

Yuk, kita eksplore lagi kira-kira potensi dan sumberdaya apa yang bisa kita lakukan untuk mengumpulkan donasi secara kreatif. Sehingga, siapapun bisa menjadi donatur bahkan kita yang juga terdampak secara sosial ekonomi dari pandemi ini.

Bukan semata World Giving Index yang tertinggi sedunia yang dibutuhkan bangsa ini. Melainkan karakter dan kepribadian yang terus melestarikan nilai dan budaya gotong royong dan berbagi yang dibutuhkan sebagai modal sosial bangsa Indonesia. 

Hal itu akan menjadi sebuah modal kekuatan besar untuk menjadi support systems dalam menangani dampak sosial ekonomi dari pandemi Covid saat ini maupun pasca pandemi ini usai nanti. Aamiin.

Mulai dari sekarang, mulai dari Rahmania semua….

*Penulis adalah Entrepreneur muda, pemilik Brand Sauvia

Bagikan
Post a Comment