Asteroid dan New Normal
Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba NASA merilis sebuah pengumuman paling menggemparkan sepanjang sejarah eksistensinya. Sebuah asteroid sebesar pulau Borneo melesat dengan kekuatan penuh menuju arah Bumi. Siaran itu berlangsung real time, di seluruh saluran televisi baik negeri maupun swasta. Ditunjukkan pula foto-foto asteroid yang tertangkap kamera satelit. Efek tabrakan asteroid akan menyelimuti 100 % bumi dengan karbon dan panas yang maksimum.
Belum juga wabah virus corona hilang dari pengamatan publik, kini kekhawatiran makin bertambah hebat seiring dengan NASA yang memberikan informasi genting itu. Ketika beberapa waktu yang lalu, WHO dengan cermat dan berkesinambungan memberikan informasi jumlah orang yang terjangkit virus, maka kini giliran NASA yang juga secara cermat dan berkesinambungan memberikan perhitungan secara matematis, kapan asteroid tersebut akan benar-benar menghantam bumi. Maka, tercetuslah ide gila berupa jam digital yang disetting sebagai hitungan mundur.
Pada detik itu, ketika kopiku telah dingin karena aku tak berselera lagi untuk menikmatinya, jam digital NASA memastikan hitungan mundur, tidak kurang tidak lebih, yaitu 24 jam dari sekarang, bumi akan terbakar hangus. Meteor itu begitu besar, mustahil akan ada manusia, tumbuhan atau pun hewan yang selamat nantinya. Semua akan terbakar hangus.
***
Pagi itu, dengan perasaan berkecamuk aku meminta ijin kepada istriku untuk membesuk ibu di rumahnya. Jarak antara rumah kami dengan rumah ibu sejauh tiga jam perjalanan. Kupikir aku akan membujuk ibu agar mau kubawa ke rumah dan menikmati kebersamaan di jam-jam terakhir sebelum semua menjadi musnah. Sejak pertengkaran kami sebulan yang lalu, aku dan ibu tidak pernah lagi berkomunikasi.
“Tutup semua pintu dan jendela. Kunci rapat-rapat. Jaga Annisa puteri kita baik-baik. Ingat, jangan sekali-kali ke luar rumah sebelum aku kembali. Dunia sudah berbeda. Hukum mungkin tak berlaku lagi sekarang,” Pesanku pada istri sambil terus menatapnya penuh kecemasan. Kukecup kening istriku dan puteriku, lalu dengan segera kunaiki mobil untuk menjemput ibu.
Dalam perjalanan, radio terus menyiarkan keadaan dunia. Aku tidak ingin berkendara ditemani berita-berita yang malah membuat gusar. Kucoba untuk mengubah frekuensi. Aku menyerah dan mematikan radio, sebab seluruh stasiun menyiarkan kondisi-kondisi yang makin gaduh. Masih terngiang berita menakutkan itu, huru-hara terjadi hampir di seluruh penjuru dunia.
Dunia benar-benar sedang kacau saat ini. Saat kita tahu kapan kematian akan datang, sementara masih ada jeda beberapa jam sebelum itu terjadi, waktu menunggu hanya akan membuat manusia menjadi gila. Kulihat dari dalam mobil, ada orang-orang yang melampiaskan segala macam nafsu bejatnya. Pemerkosaan di jalananan, pembunuhan, pencurian, dan bunuh diri terpampang di depan mata. Sungguh mengerikan. Hingga mobilku pun dihadang seorang lelaki bersenjata. Sepucuk revolver diarahkan kepadaku ketika kuhentikan kendaraan. Awalnya, aku mengira ia hanya ingin membawa mobilku, tetapi saat aku menyerahkan kuncinya tanpa perlawanan, ia mencoba menembakku. Beruntung tembakannya meleset. Lelaki psikopat itu mengejarku ketika aku berlari menjauhinya.
***
Setelah pengejaran yang begitu lama dan menguras energi, akhirnya aku bisa lolos. Tanpa mobil, terpaksa aku melanjutkan perjalanan. Dengan langkah gontai kulalui siang yang terik itu dengan terus menyusuri jalanan. Cuaca amat cerah, bahkan langit cenderung menyilaukan. Aku melintasi sebuah masjid di mana ada banyak sekali jamaah telah berkumpul di sana. Seorang penceramah, melalui pengeras suara yang terdengar hingga radius beberapa meter berkata dengan lantang.
“NASA telah berbohong. Kalian hanya dibodohi.”
“Almasih belum turun!”
“Yajuj Majuj belum melata di tiap permukaan bumi.”
“Matahari masih terbit dari arah Timur.”
“Belum ada api yang menjalar dari Yaman.”
Lekas, aku tidak ingin membuang waktu dan terus berjalan. Pidato sang penceramah tadi membuat pikiranku tambah berkecamuk. Mungkinkah yang ia katakana benar? Akan tetapi, NASA telah memiliki segala bukti konkrit dan perhitungan matematis hingga mampu menghitung detik kehancuran bumi. Akhirnya, kuambil kesimpulan, benar atau salah segala kabar ini, aku harus menemui ibu. Aku harus mencium kakinya dan meminta maaf atas segala kesalahanku.
Tersisa lima belas menit lagi perjalanan, maka aku akan sampai di rumah ibu. Aku sedikit beruntung, karena lelaki psikopat tadi menghadangku ketika aku telah melampaui perjalanan lebih dari separuhnya. Kini, aku melewati perumahan megah, orang-orang berkumpul di halaman rumah masing-masing. Mereka membawa meja-meja panjang, menaruh aneka macam makanan dan kudapan di atasnya. Pemandangan sekilas tampak seperti pesta kebun. Mereka menghadap layar proyektor dan melihat siaran televisi bersama.
Dikabarkan asteroid telah mendarat di atlantik utara, untuk sementara air laut akan menahannya, hingga pada akhirnya seluruh air di samudera akan mendidih dan ledakan maha dahsyat akan membuat segalanya lenyap.
***
Aku mulai berlari mendengar kabar itu. Aku harus menjumpai ibu dan kemudian membawanya berkumpul dengan anak dan istriku. Waktu yang tersisa hanya tinggal sepuluh jam saja. Langit bertambah menyilaukan, udara terasa semakin panas. Mobil-mobil yang lalu lalang di aspal, roda-rodanya saling berdecit hingga akhirnya terbakar. Semua pengendara turun dan menghindari aspal. NASA benar-benar serius kali ini, aku rasa tidak ada celah sedikitpun untuk menyangkal bahwa ini adalah berita hoax.
Setibanya di rumah ibu, aku langsung menerobos pintu tanpa salam. Tergesa-gesa dan dengan nafas yang memburu. Kucari ibu di tiap sudut rumah, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Hingga langkahku terhenti di sepetak ruang kecil di dalam rumah itu. Ibu sedang menunaikan salat sunah. Begitu ibu mengucap salam pada tahiyat akhir, aku menghambur dalam pelukannya. Begitu teduh, begitu menenangkan.
Ketika kuucapkan berbagai kalimat permohonan maaf ibu menjawab dengan bijak, “jauh sebelum kau datang ke rumah ibu untuk meminta maaf, aku telah memaafkanmu, Nak.” Sungguh … betapa kasih dan sayang ibu tanpa syarat kepada anaknya.
Tetap kuutarakan niatku untuk mengajak ibu menemui anak dan istriku agar kita bisa sama-sama menghabiskan waktu, meskpun saat ini aku kebingungan bagaimana membawa ibu pergi. Mobil tidak ada sedangkan jarak tempuh cukup jauh. Andai saja ada mobil, percuma, karena aspal yang panas akan membakar habis seluruh ban mobil.
“Usah kau khawatirkan ibu. Kita habis ngobrol banyak barusan. Ibu telah ridho kepadamu. Kembalilah kepada anak dan istrimu sebelum waktu benar-benar habis. Doa ibu menyertaimu.”
Mulanya aku pasrah, sebab percuma saja aku kembali kepada anak dan istriku, waktunya tidak akan cukup jika hanya dengan berjalan kaki. Hingga ibu membukakan pintu garasi, dan menyuruhku meggunakan motor bebek peninggalan mendiang Bapak. Walau umur motor sudah tua, ibu masih sering menggunakannya untuk berbelanja ke pasar.
***
Aku pamit kepada ibu. Kucium sambil kugenggam erat tangan lembutnya. Aku melaju dengan motor melalui trotoar dan pinggiran jalan yang tidak berlapis aspal.
Aku melewati perumahan mewah itu lagi. Sekilas tayangan televisi mempertunjukkan pidato presiden Amerika yang meminta maaf kepada seluruh warganya, juga warga dunia. Berbeda dari biasanya, Presiden negara adikuasa itu berpidato tanpa meletup-letup. Itu adalah pidato pengakuan dosa, di mana ia mengakui beberapa kesalahan besar, juga para pejabat-pejabat tinggi lainnya ikut serta dalam pengakuan dosa. Seakan tidak peduli dengan siaran televisi tersebut, aku menarik gas dengan kencang.
Belum juga sampai rumah, aku kehabisan bensin. Kutinggalkan motor bebek itu, lalu berlari sekencang-kencangnya. Pikiranku kemana-mana dan mulai khawatir jika rumahku kini disatroni para penjarah, atau mungkin orang-orang gila yang tega melakukan segalanya.
Dengan upaya yang cukup keras akhirnya aku sampai rumah. Badanku kebas, bermandikan keringat. Seharusnya waktu senja sudah tiba, namun langit masih terlihat menyilaukan mata. Aku menggedor pintu, menunggu dalam waktu yang cukup lama karena harus meyakinkan istriku bahwa aku sudah sampai rumah. Istriku membuka pintu, ia terlihat ketakutan. Sementara tangan kirinya memegang sebuah linggis.
Waktu tinggal satu jam. Kini aku, istri dan puteriku tercinta telah duduk bersama di atas sofa. Anehnya, siaran televisi masih berlangsung. Pidato dari presiden Amerika telah menginspirasi kepada para presiden dan pejabat tinggi dari berbagai negara untuk berpidato, masing-masing membuat pengakuan dosanya. Mulai dari Presiden China, Perdana Menteri Jepang, hingga Presiden Indonesia, semua membeberkan jenis-jenis kekhilafannya. Tidak ada yang bereaksi dengan segala bentuk pengakuan itu, sebab sebentar lagi kiamat. Siapa yang peduli? Hukum juga tidak berlaku lagi saat ini.
***
Hitungan mundur dari NASA telah mencapai detik-detik terakhir untuk wilayah kami. Anehnya, siaran itu masih berlangsung. Sepuluh detik tersisa. Aku memeluk erat istri dan anakku. Kami saling membaca istighfar.
LIMA ….
EMPAT ….
TIGA ….
DUA ….
SATU ….
Senyap. Hampa. Udara kosong….
Kami telah siap untuk dijemput sang maut.
“Ayah, bagaimana rasanya terbakar hidup-hidup,” ucap puteriku. Aku hanya diam sambil terus merengkuh kedua bidadariku.
Lima belas menit berlalu. Tidak ada yang terjadi. Dari jendela kaca, kulihat langit kembali cerah. Semburat senja menghantarkan hawa sejuk, juga angin sepoi-sepoi. Siaran televisi masih berlangsung. Pihak NASA memberikan informasi, bahwa segala sistem yang mereka miliki baru saja dibajak oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Juga awak media, telah dikuasai orang-orang yang memiliki kemampuan super cerdas.
Bahwa isu asteroid itu adalah sebuah kebohongan besar. Terdapat konspirasi terselubung untuk membuat kiamat jadi-jadian itu seakan-akan nyata. Langit silau yang terjadi seharian tadi adalah dampak dari sebuah alat mirip HAARP yang didesain untuk merekayasa panas bumi. Kelompok itu terorganisir dan memiliki member di hampir seluruh penjuru dunia. Mereka menamai diri dengan kelompok ‘New Normal.’ NASA bekerjasama dengan FBI dan kepolisisan Amerika telah menangkap sang promotor. Begitulah siaran televisi berlanjut.
Esoknya, dunia benar-benar dalam keadaan new normal. Para pemimpin dan pejabat tinggi negara yang terlanjur mengakui dosa mereka, akhirnya terkena batunya. Amerika mengadakan revolusi besar-besaran. Para pemimpin yang terbukti bersalah diadili dengan hukuman seberat-beratnya. Di China, eksekusi mati tak terelakkan, dilakukan secara masal. Jepang, mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana akibat para pejabat yang malu dan akhirnya melakukan harakiri. Di Indonesia, sungguh mengejutkan, berbondong-bondong para pemimpin membuat chanel youtube untuk klarifikasi.

Penulis kelahiran Pacitan Jawa Timur yang suka berkelana dan berpetualang. Dua novel yang telah diterbitkan berjudul Allena dan Pelangi di Langit Aceh.
