Srikandi Lintas Iman dan Perjuangan Perempuan Menjaga Perdamaian
Srikandi lintas iman atau yang kerap kita panggil dengan sebutan Srili adalah sebuah komunitas yang lahir di Yogyakarta. Anggota komunitas ini terdiri dari para perempuan dari banyak agama. Lahir dari kepedulian perempuan untuk duduk bersama, berdiskusi, bertukar gagasan dan melahirkan program-program untuk mengelola keberagaman.
Para perempuan yang tergabung di komunitas Srilli ini menyadari bahwa perempuan juga memiliki andil untuk menciptakan perdamaian, keharmonisan dan keamanan di tengah-tengah masyarakat.
Komunitas Srili diinisiasi oleh Wiwin Siti Aminah Rohmawati (Awardee KAICIID International Fellows Programe) bersama PW NU Fatayat DIY. Pada tanggal 28-29 Agustus 2015 diadakanlah workshop yang bertempat di Wisma Mawar Asri Kaliurang, Yogyakarta dan dideklarasikan terbentuknya komunitas Srili.
Komunitas Srili diharapkan bisa menjadi wadah para perempuan untuk aktif menyuarakan perdamaian, toleransi, kemanusiaan dengan berbagai cara. Dialog bersama, berdiskusi ataupun melalui media sosial secara daring.
Keberagaman adalah sunnatullah, maka menjadi kewajiban bagi setiap manusia untuk menghargai keberagaman. Dalam Al-Qur’an dijelaskan melalui QS. Al-Hujurat ayat 13 bahwa Allah menciptakan manusia berbeda-beda dan menjadikannya bersuku-suku untuk saling kenal mengenal.
Srili adalah wujud dari keberagaman yang ada di Indonesia. Mereka menghimpun para perempuan dari banyak agama atau keimanan untuk saling megenal. Salah satu wujud toleransi nyata dengan tidak membeda-bedakan perempuan dari agama yang dianutnya.
Aktivitas Srili, Upaya Menjaga Toleransi
Wiwin Siti Aminah selaku koordinator Srili menjelaskan bahwa komunitas ini merupakan komunitas non profit, tidak terikat dan berupaya untuk mempersatukan perempuan pejuang perdamaian.
Secara formal, Srili mempunyai struktur organisasi sebagai penanggungjwab komunitas. Namun dalam pelaksanaannya, setiap anggota mempunyai kebebasan untuk merencanakan, mengelola dan melaksanakan kegiatan secara kolektif.
Di era teknologi yang semakin berkembang ini berdampak positif bagi komunitas Srili. Mereka- anggota Srili—mendapat kemudahan untuk menyebarluaskan informasi tentang perdamaian dengan jangkauan yang lebih luas.
Perkembangan teknologi juga membantu aktivitas Srili untuk meyampaikan pesan-pesan perdamaian. Melalui platform media sosial yang mereka miliki, Srili menyebarkan pesan perdamaan yang dapat menyentuh berbagai pihak.
*
Aktivitas lain yang secara rutin dilakukan oleh Srili yaitu mengadakan pertemuan sebagai proses interaksi, saling kenal mengenal dan menciptakan kesalingan di antara mereka. Adanya dialog antar pemeluk agama merupakan salah satu cara mewujudkan perdamaian.
Diskusi lintas agama yang dilakukan oleh Srili terbagi menjadi dua macam yaitu secara internal dan eksternal. Diskusi internal dilakukan secara mingguan dengan mengangkat topik perdamaian melalui serial tokoh-tokoh perdamaian. Hasil dari diskusi internal ini kemudian disebarluaskan melalui media sosial.
Selanjutnya yaitu diskusi eksternal. Diskusi ini dilakukan dengan perjumpaan dan interaksi antar tokoh agama. Diskusi eksternal seringkali dilaksanakan di rumah-rumah ibadah seperti Gereja, Vihara, Klenteng dan rumah ibadah lainnya.
Tidak hanya diskusi, Srili juga mengadakan ziarah lintas Iman. Hal ini bertujuan untuk mengenalkan konsep ziarah dari setiap agama. Tradisi ziarah setiap agama berbeda-beda dan begitupun tokoh yang mereka ziarahi juga berbeda-beda. Kegiatan ini merupakan upaya Srili untuk menjaga toleransi antar umat beragama.
Ziarah lintas iman ini diadakan dalam rangka membina pengetahuan tentang kesadaran pentingnya menerima perbedaan dan keberagaman. Kegiatan ini dilakukan setiap satu tahun sekali dan khusus untuk anggota komunitas Srili.
Tidak hanya untuk menyadarkan perbedaan saja, ziarah lintas iman juga mengedukasi para perempuan anggota Srili untuk membuka wawasan keagaman melalui pengetahuan tentang tempat, simbol, tata cara peribadatan dari agama lain beserta degan nilai filosofi yang terkandung di dalamnya.
Setiap manusia tidak mungkin terlepas dari adanya perbedaan dan harus berinteraksi dengan perbedaan tersebut kapanpun dan di manapun. Dalam kegiatan ini, selain berziarah mereka juga belajar untuk memahami sejarah dan nilai-nilai kehidupan.
Literasi Media, Cara Srili Mengajak Perempuan Menjaga Perdamaian
Salah satu kegiatan menarik yang dilakukan oleh Srili yaitu beasiswa literasi media. Beasiswa ini diadakan oleh Srili dengan menggandeng seluruh perempuan di Indonesia yang tertarik membahas perdamaian dengan memaksimalkan penggunaan media sosial.
Diawali dengan mendaftarkan diri sebagai peserta literasi media, setiap peserta wajib mengisi form pendaftaran dan memberi alasan mengapa mereka tertarik mengikuti kegiatan tersebut. Setelah mengisi form, setiap peserta yang dinyatakan lolos administrasi akan dilakukan interview oleh pihak Srili.
Interview ini dilaksanakan untuk melihat kesungguhan setiap peserta dalam mengikuti kegiatan mentoring selama 3 bulan ke depan. Agenda literasi media ini dilakukan untuk memberikan pembelajaran, pengarahan bagi para perempuan dalam menyebarluaskan pesan positif perdamaian melalui media sosial.
Di era sekarang ini, penggunaan akun media sosial merupakan salah satu cara termudah untuk menyampaikan pesan-pesan perdamaian. Media sosial dapat dengan mudah diakses oleh seluruh masyarakat. Maka dari itu, pesan perdamaianpun akan lebih mudah sampai ke masyarakat secara umum.
Literasi media merupakan salah satu agenda yang menarik untuk disebarluaskan. Semakin banyak peserta yang mengikutinya maka semakin banyak pula agen penjaga perdamaian di Indonesia.
