Berdamai dengan Situasi, Cara Menikmati Hidup Tenang
Hari ini, seorang tentor di bimbel Pintar, ijin tidak bisa mengajar karena harus cek up ke rumah sakit. Selanjutnya mengalirlah cerita tentang kecelakaan yang menyebabkan jari tangannya patah, harus menjalani operasi dan perawatan penyembuhan yang tidak sebentar.
Kecelakaan yang menyebabkan kandasnya sebuah impian, dan membuatnya terdampar di kota kecil ini. Saya mendengarkan semua ceritanya dan sedikit membagi cerita pengalaman hidup saya.
…
Saya pun flashback ke peristiwa yang menimpa saya tahun 2006 silam. Sebuah kecelakaan yang juga merubah total hidup saya. Kehidupan normal yang saya jalani sebagai seorang guru yang setiap hari rutin mengajar di sekolah, dan memberi les privat dari rumah ke rumah; harus terhenti karena kecelakaan motor yang menyebabkan kaki saya patah.
Kejadian itu menjadikan saya trauma. Tapi itulah yang saya rasakan. Saya tidak berani mengendarai motor sendiri, sampai sekarang. Karena alasan itulah saya memilih resign dari beberapa lembaga tempat saya mengajar (Waktu itu saya mengajar di tiga lembaga sekaligus) dan berhenti memberikan les privat door to door.
Satu setengah tahun, waktu yang saya perlukan untuk memulihkan kondisi kaki saya agar bisa berjalan lagi. Dalam kurun waktu tersebut, saya hanya bisa berdiam diri di rumah. Menerima keadaan dan benar-benar belajar nrimo ing pandum.
Meskipun pada akhirnya saya menemukan kegiatan yang kembali mempertemukan saya dengan anak-anak didik; yaitu dengan mendirikan bimbingan belajar di rumah, tetapi perlu jalan yang cukup panjang untuk mendapati diri berlapang dada menerima situasi dan kondisi.
Sewajarnya, ketika dihadapkan dengan peliknya persoalan, sering kita menjadi hopeless, kehilangan harapan, dan tidak tahu harus berbuat apa. Parahnya, selain menjadi terpuruk dan tidak menemukan solusi permasalahan, kita bahkan menyalahkan keadaan dan diri sendiri.
Di sisi lain, ketika ada orang lain yang sedang bermasalah, kita tidak pernah kekurangan solusi cerdas terhadap masalah-masalah yang dihadapinya. Terlepas dari siapa atau seberapa banyak pengetahuan hidup yang kita miliki, dengan mudah kita mendapatkan satu set lengkap metode untuk menyelesaikan dilema dan persoalan orang lain.
…
Seandainya, kita mau merekam semua saran yang kita berikan kepada orang lain, mungkin itu akan menjadi buku acuan yang berharga untuk diri sendiri. Jadi ketika bertemu masalah yang sama, kita tidak perlu terlalu banyak berpikir, tinggal melihat kejadian masa lalu saja.
Ya begitulah, kita tidak menyadari sepenuhnya segala potensi, keunggulan bahkan kekurangan yang ada pada diri sendiri. Bahkan sering tidak bisa menilai diri sendiri. Ketika segala sesuatu berjalan lancar, kita cenderung menilai diri terlalu tinggi. Menganggap diri sangat diberkati dengan kemudahan dan nasib baik.
Ketika keberuntungan sedang menurun, kita menyalahkan dan meremehkan ketidakmampuan diri dalam menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Juga menyalahkan keadaan yang begitu jahatnya tidak mau berpihak pada kita. Menjadi begitu marah dan kesal kepada semua yang ada di sekitar kita.
Dua hal tersebut tidak akan terjadi jika kita memiliki kesadaran untuk memahami diri sendiri secara akurat, mengetahui kelebihan dan kekurangan diri. Tak perduli bahwa diri ini adalah pohon yang besar dan kokoh atau mungkin hanya rumput liar yang bahkan tak dianggap keberadaannya.
Jika kita memahami diri sepenuhnya, kita akan menemukan diri kita yang sejati. Memahami apa dan bagaimana diri kita. Memahami kelebihan serta kelemahan diri. Hingga akhirnya memiliki dorongan dan rasa percaya diri untuk melawan kemalangan serta membuat resep-resep antisipasi dengan takaran yang pas untuk kita lakukan.
Pada dasarnya, manusia terlahir dengan karakter, emosi, kemampuan berpikir dan kemampuan bertindak yang tidak sama. Jadi tak mungkin kita mengharapkan reaksi kita bisa sama dengan orang lain. Bahkan ketika berhadapan dengan persoalan yang sama persis sekalipun. Perbedaan lingkungan dan pengalaman hidup juga memberikan kontribusi yang berbeda dalam cara pandang kita terhadap sebuah permasalahan.
…
Tidak semua hal bisa kita kendalikan dengan baik. Jika sudah menyangkut urusan Tuhan, seperti bencana alam, kematian, jodoh, dan apapun yang berada di luar jangkauan manusia, sangat mustahil bagi kita untuk bisa mengendalikannya.
Seperti yang sedang dialami oleh salah satu teman saya beberapa minggu lalu. Armada pengiriman barang pesanannya terjebak macet karena banjir yang terjadi di beberapa titik di jalur pantura. Padahal dia adalah stokist yang juga ditunggu infonya oleh para reseler. Bencana banjir adalah ketentuan Tuhan. Meskipun kita tetap bisa memprotes bahwa banjir tidak akan terjadi jika manusia tidak ceroboh.
Demikian juga, kita tidak bisa mengendalikan urusan orang lain. Misalnya, ada orang malas di sekitar kita. Tak mungkin sifat malas orang tersebut berhasil kita ubah tanpa kerjasama dari orang itu sendiri untuk mengubah kemalasannya. Atau, ketika kita sudah membantu seseorang sepenuh hati tapi ia tidak tahu berterima kasih.
Kita seringkali memiliki banyak masalah yang berasal dari mencampuri urusan orang lain dan mengkhawatirkan urusan Tuhan. Rasanya perlu bagi kita untuk bisa mengelola dengan baik urusan sendiri, keluar dari urusan orang lain, dan berhenti mencemaskan urusan Tuhan.
Berdamai dengan diri sendiri, menyadari bahwa tak semua kesialan disebabkan karena kurang cakapnya kita. Berdamai dengan situasi, menyadari bahwa semua skenario dan cerita yang tersaji tak selalu sesuai dengan apa yang kita harapkan.
Dunia tidak akan selesai ketika kita mengambil langkah mundur sejenak. Hidup akan menjadi luar biasa ketika kita bisa berdamai dengan diri sendiri dan situasi di sekitar kita. Semoga.
Ibu rumah tangga dan pemilik Bimbel Pintar
