f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
komitmen

Memaknai Kembali Komitmen dalam Hubungan

Dewasa ini, media sosial tak pernah berhenti berisik; tak terkecuali juga twitter yang sering menjadi perbincangan publik dengan kata-kata yang selalu menarik dan asyik. Di sini saya akan menyoroti postingan twitter salah seorang aktor terkenal bernama Al Ghazali. Al mengatakan di postingannya kalau komitmen itu cuman bisa bikin sakit hati, kalo yang satunya nggak sakit satunya pasti sakit hati

Wah, kata-katanya relate banget ya dengan kondisi dewasa ini. Kalau dari kalian sendiri sependapat nggak nih sama kata-katanya Al?

Dengan beragam komentar di postingannya tersebut, pastinya ada yang sependapat dan ada juga yang tidak. Bagi segelintir orang yang belum merasakan sakitnya sebuah komitmen, ia merasa kata-kata itu tidak sesuai. Tapi, bagi yang tahu pahit manisnya lika-liku sebuah percintaan pasti paham betul nih rasanya komitmen itu seperti apa. Ya begitulah persepsi masing-masing orang itu berbeda.

Segala hal terkait dengan cinta memang tiada habisnya jika kita perbincangkan. Berbicara mengenai komitmen dalam sebuah hubungan itu sangat rumit. Memang sih, komitmen itu terlihat sederhana, sebuah kata yang terkesan sepele dan mudah sekali untuk diucap. Akan tetapi, nyatanya banyak orang bilang komitmen itu susah dan nggak semua hubungan mampu melewatinya.

Apa itu Komitmen?

Arti sebuah komitmen dalam hubungan percintaan adalah saat seseorang rela mendedikasikan diri, waktu, dan cinta kepada pasangan dalam jangka waktu yang lama. Bentuk dari sebuah komitmen bisa kita lihat dari adanya kepercayaan, komunikasi yang baik, hingga membuat target dalam hubungan.

Komitmen ada untuk mencapai tujuan dan mempertahankan hubungan. Dengan sudut pandang dan pemikiran yang berbeda, harus terbentuk komitmen yang kuat antara kedua belah pihak; sehingga akan mempererat hubungan, bukan malah merusaknya. Dengan adanya komitmen, hubungan juga akan berjalan lebih harmonis.

Baca Juga  Jangan Jadi Pengabdi Media Sosial

Sebuah hubungan yang serius dibangun atas dasar komitmen bersama, bukan hanya salah satu pihak. Hubungan tidak akan harmonis, jika hanya salah satu pihak saja yang berusaha mempertahankan. Sebuah ikatan yang dilakukan dengan main-main, akan berakhir menyakitkan.

Apakah Komitmen Menjamin Berhasilnya hubungan?

Teman dekat saya telah menjalin komitmen pacaran selama 7 tahun–sungguh waktu yang lama bukan? Kalau kata saya sih jika buat nyicil mobil sudah lunas itu. Kisah yang berawal dari teman sekelas lalu timbul benih-benih cinta. Saya tau banget gimana perjuangan mereka untuk dapat mempertahankan hubungan walau di titik terendah sekalipun kala itu. Seriously saya sampe iri ingin punya doi juga. Hubungan mereka dahulu bener-bener menarik untuk diperbincangkan. Bayangin aja mereka dari SMP kelas satu udah pacaran, yang saya aja belum tau apa-apa tentang dunia percintaan. Punya temen cowok aja sebatas teman kelas yang jumlahnya hanya seberapa.

Sewaktu SMA jujur di benak saya bertanya-tanya kenapa bisa pacaran lama banget, emang nggak bosen gitu. Saya aja yang ngeliat nya bosen. Yang jelas saya bosan jadi tempat curhatnya dan menjadi pelampiasan kegalauannya

Namun disayangkan sekali akhir kisah mereka begitu menyakitkan. Setelah setahun kelulusan SMA, mereka memutuskan untuk berpisah. Entah penyebabnya apa saya nggak tau. Yang jelas tak lama setelah itu, si cewek memutuskan untuk menikah dengan laki-laki lain. Dan akhirnya si cowok hanya berakhir jadi tamu undangan. Sungguh miris sekali bukan? Nyesek udah pasti. Bayangin aja nih kalian berada di posisi yang sama. Perjuangan akan terkesan sia-sia dan hanya membuang waktu.

*

Tentu saja, ketika kita menjalin hubungan, fokus kita hanyalah kepada pasangan kita. Kita seolah tutup mata dengan orang-orang di sekitar kita. Lalu, saat ini harus dipaksa oleh keadaan bahwa orang yang selama ini kita cintai dan  kita sayangi dengan sepenuh hati, nyatanya sudah tidak fokus pada kita lagi, melainkan pasangan barunya. Prioritas mereka bukan lagi kita. Mereka yang selalu ada, menyapa kita dengan senyuman, mengingatkan makan, jadi support system, dan tak lupa ucapan selamat malam yang indah; sudah tidak dapat kita dapatkan lagi.

Baca Juga  Pandangan Pertama Sebagai Kunci Akhir Kisah Asmara

Tak dipungkiri juga dengan berakhirnya hubungan, pasti seseorang akan merasa sedih, kecewa, dan jangan lupakan sakit hatinya. Walaupun saya belum pernah mengalaminya, tapi dari luapan kisah sedih yang dialami teman saya, sangat menunjukan rasa yang teramat sakit. Dia juga berkata, ada sedikit trauma dalam dirinya untuk dapat memulai hubungan dengan orang baru. Tidak mudah memang, untuk dia bangkit dari posisi terendah. Saya sebagai temannya hanya berusaha untuk menjadi pendengar yang baik dan tempat ia beradu segala rasa sakitnya. Saya hanya menyayangkan waktu yang begitu lama dibuang oleh teman saya hanya untuk hubungan yang tak pasti.

Penyebab Gagalnya Sebuah Komitmen

Menyatukan dua hati dan dua pikiran memang tidak mudah. Dalam hubungan pasti ada aja hal yang diributkan, terlebih ketika masih meninggikan ego masing-masing. Setiap orang juga punya kekurangannya masing-masing yang mana sebagai sepasang harus saling melengkapi bukan malah menyakiti.

Komitmen yang kuat harus terjalin di antara keduanya. Terkadang orang belum mempunyai mental yang kuat untuk dapat memulai komitmen dengan orang lain atau pasangan kita. Apalagi untuk masa-masa remaja yang masih labil dan penuh dengan kebebasan.

Ketika masih remaja saya aja males banget tuh kalau diatur-atur. Ngerasa nggak bebas aja gitu, kemana-mana harus izin, dan lain hal yang membuat saya malas untuk berkomitmen.

Jika kalian masih punya sifat seperti saya yang masih labil dan masih ingin bebas, sebaiknya jangan komitmen dahulu sampai merasa diri yakin dan dewasa. Apalagi kalau kalian masih suka nethink terhadap pasangan, juga tidak percayaan, cepat atau lambat hal itu akan berpengaruh terhadap hubungan kalian kedepannya.

Perbedaan kita dengan pasangan kita juga dapat menjadi salah satu penyebab retaknya hubungan. Perbedaan cara pandang dan pola pikir menyebabkan masalah yang nantinya jika tidak dapat bersikap dewasa dan mengalah menurunkan ego maka akan terjadi pertengkaran yang menimbulkan perpisahan.

Baca Juga  Apakah Cinta Pertama Sulit Dilupakan?
Jangan Khawatir, Jodoh Sudah Diatur

Faktanya kematian, rezeki, dan juga jodoh adalah misteri Sang Maha Kuasa. Kita sebagai manusia hanya dapat berikhtiar dan berdoa. Selebihnya apapun yang terjadi adalah kehendak-Nya. Perpisahan bukan akhir dari segalanya. Masa depan kalian juga masih panjang, masih banyak yang perlu diperjuangkan dan dipertahankan. Jangan lemahkan hati hingga galau berhari-hari. Tubuh butuh nutrisi bukan hanya ilusi.

Perbaiki dan persiapkanlah diri, karena pasangan yang akan menjadi menjadi jodoh kita kelak adalah cerminan dari diri kita sendiri. Ingatlah Allah memberikan apa yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan. Apa yang baik menurutmu belum tentu baik menurut Allah.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu,dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal amat buruk bagimu. Allah maha mengetahui, sedang tidak mengetahui.” (QS. al-Baqarah [2]:216)

Bagikan
Post a Comment