f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
ibu guru

Tempat yang Bersih dan Lampunya Terang untuk Ibu

Sekali waktu, ketika saya masih duduk di bangku SD, ibu saya pernah mengatakan; bahwa Kanjeng Nabi Muhammad menyebutkan sebanyak tiga kali kata “ibu” sebelum menyebutkan kata “ayah” dalam hal porsi menghormati. Perkataan itu beliau utarakan tepat selepas saya bercerita bahwa di sekolah, saya mendapati ibu guru yang mengajarkan matematika dengan cara menyebalkan. Saya bercerita cukup panjang mengenai perasaan saya ketika berjumpa dengan guru tersebut. Saya dan teman-teman di kelas kerap merasa “takut” dan meriang setiap kali guru tersebut mengajar.

Apa yang ibu saya katakan tentang sabda Nabi Muhammad tersebut tentu adalah penyataan yang sama sekali baru bagi saya. Setidaknya untuk saat itu. Saya tidak bertanya lebih jauh apa maksud beliau mengucapkan sabda dari Nabi Muhammad tersebut. Saya hanya menduga bahwa beliau tidak menginginkan saya untuk membenci cara mengajar guru matematika yang menyebalkan itu. “Kau tahu,” kata ibu, “bahwa maksud dari kata “ibu” yang diucapkan oleh Nabi Muhammad adalah ibu yang mengasuhmu, ibu mertua dan ibu gurumu. Dan bagaimanapun menyebalkannya ibu gurumu, engkau harus tetap menghormatinya. Seperti apa yang Nabi telah perintahkan”.

Sampai detik ini, saya tidak pernah benar-benar menanyakan dari mana beliau menemukan tafsir kata “ibu” yang disabdakan oleh Nabi Muhammad tersebut. Namun satu hal yang pasti, bahwa ibu saya adalah perempuan lulusan pesantren, dan bisa dipastikan tafsir mengenai sabda Nabi tersebut bermuara dari para gurunya yang ada di pesantren. Saya yakin Anda pun demikian. Maksud saya, tentu Anda juga sesekali pernah mendengarkan sabda Nabi Muhammad tersebut di sembarang momen. Entah di kutipan buku, dari ceramah para ustaz, atau mungkin orang tua Anda secara langsung.

Di situlah saya merasa, bahwa ucapan atau mungkin lebih tepat jika disebut petuah ibu saya tersebut, secara tidak langsung membentuk ingatan tersendiri di benak saya. Tahukah Anda, bahwa ingatan, seperti yang Eka Kurniawan katakan dalam esainya Berebut Kenangan adalah sejenis pemandu atau penghibur di saat hati goyah menghadapi kehidupan. Dan melalui ucapannya, ibu saya telah berhasil memandu dan memberi pemahaman sederhana kepada saya tentang bagaimana seharusnya saya memberi penghormatan lebih kepada “ibu”.

Baca Juga  Sepotong Pizza untuk ASI

Misalnya, jauh setelah ibu saya mengucapkan sabda Nabi Muhammad tersebut, tepatnya semasa SMA, saya menjumpai cerita menarik tentang pengaruh besar seorang ibu dalam kehidupan anaknya. Cerita itu ditulis oleh AS Laksana dalam kolomnya di koran Jawa Pos. Sayangnya, lembar koran yang sempat saya kliping itu lenyap ketika rumah saya sedang direnovasi. Seperti halnya cerita-cerita bagus yang lain, tulisan AS Laksana tersebut tetap memikat dan mengendap dalam ingatan saya.

Dalam tulisannya, AS Laksana menceritakan bahwa pernah ada seorang bocah laki-laki yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata teman sekelasnya. Dia sangat cakap nyaris di setiap mata pelajaran dan memiliki prestasi yang mentereng. Namun di tengah-tengah masa belajarnya, bocah laki-laki itu mengalami degradasi prestasi dan semangat belajarnya anjlok. Kenyataan tersebut dirasakan langsung oleh ibu gurunya yang saya menduga ia adalah wali kelas bocah itu. Sang ibu guru heran. Bertanya-tanya kenapa bocah itu mengalami hal demikian.

Si bocah laki-laki enggan bercerita. Ia diam dan menutup diri pada wali kelasnya itu. Ibu guru memakluminya dan tetap berusaha memberi motivasi kepada sang bocah. Hingga sampai pada suatu ketika, tepat di mana hari kelahiran sang ibu guru diperingati, teman satu kelas bocah itu bersepakat untuk merayakan. Kelas direhatkan sejenak. Semua murid memberikan perhatian lebih untuk merayakan hari ulang tahun gurunya. Para murid memberikan banyak macam kado untuk sang guru; ada sepatu, ada kerudung, hingga jam tangan. Semua murid merasa senang, sebab bisa memperingati hari penting gurunya. Begitupun sebaliknya, ibu guru merasa senang sebab murid-muridnya memiliki cara tersendiri untuk menghormati gurunya.

Sayangnya, kegembiraan itu tidak dirasakan oleh bocah laki-laki. Sang bocah menepi dari gerombolan teman-temannya. Selepas perayaan dan para murid satu persatu mulai beranjak meninggalkan kelas, ibu guru kemudian mendekati bocah laki-laki itu. Ia duduk di samping bocah itu dan menanyakan keadaan yang selama ini belum terjawab di benaknya. “Maaf, Bu, saya tidak bisa memberikan hadiah bagus seperti teman-teman yang lain,” itulah ucapan pertama yang keluar dari mulut sang bocah. Ibu guru hanya tersenyum kemudian menepuk pundak sang bocah.

Baca Juga  Menyadari Hobi sebagai Langkah Awal Membahagiakan Diri

Bocah itu kemudian menangis. Ibu guru mencoba bertanya dan mencari tahu lebih dalam, namun sang bocah tak sanggup berkata-kata. Bocah itu terus mengalirkan air mata. Hingga kemudian bocah itu mengeluarkan satu botol minyak wangi yang isinya tinggal setengah. “Saya hanya punya minyak wangi ini dan saya harap ibu senang dengan hadiah sederhana ini,”. Bocah itu kemudian bercerita bahwa beberapa bulan sebelumnya ibunya telah wafat, dan minyak wangi yang diberikan sebagai hadiah ulang tahun tersebut adalah minyak wangi sisa almarhumah ibunya. Bocah itu menginginkan agar sang guru selalu menggunakan minyak wangi tersebut setiap kali ia mengajar.

Singkat cerita, ibu guru tersebut menunaikan keinginan sang bocah. Dan perlahan-lahan, semangat bocah yang selama ini sempat hilang telah kembali menguat berkat minyak wangi almarhumah ibunya yang selalu dipakai oleh sang guru saat mengajar. Kepada cerita tersebut kita bisa mendapatkan inspirasi; bahwa kehadiran seorang ibu memiliki pengaruh besar dalam kehidupan anaknya. Dan pada titik tertentu, cerita-cerita semacam itu seakan membentuk suatu kredo di benak saya; sepertinya Tuhan telah memberikan tempat yang bersih dan lampunya terang untuk ibu. Maksud saya, segala ucapan, doa dan keputusan seorang ibu pada titik tertentu dapat mengilhami dan menjadi jalan bagi siapa pun yang terlibat.

Pada kesempatan lain misalnya, ketika saya memasuki masa kuliah, saya pernah berada pada titik di mana saya nyaris putus asa dan tak dapat merancang harapan-harapan ke depannya. Saya kerap kali gagal ketika mengikuti perlombaan, kompetisi ataupun kesempatan-kesempatan lainnya. Singkatnya, saya tertinggal beberapa kesempatan dari teman-teman saya.

Introspeksi dan evaluasi saya terapkan, namun tetap saja, pikiran saya mandek dan buntu dalam pencarian solusi. Hingga pada akhirnya, saya menghadap ibu saya dan menceritakan semua keresahan yang saya alami. Kepada ibu, saya memohon rida dan kerelaan untuk memaafkan segala kenakalan saya. Tentu pada saat itu ibu saya memasang raut bingung dan bertanya-tanya. Sebab selama ini saya tidak pernah melakukan hal tersebut sama sekali.

Baca Juga  Refleksi Hari Ibu: Berjuang Meski Tak Berisik

Sebagai ibu, tentu beliau selalu membukakan pintu maaf kepada anak-anaknya. Dan saat itu, saya memang tidak meminta apapun selain keridaan dan permohonan maaf yang tulus. Dialog cukup lama dan saya tak cukup kuat membendung air mata. Saya cium kaki beliau dan pada akhirnya beliau turut mengucurkan air mata. Kami berdua pun saling rida dan mendoakan. Saya merasa keadaan lebih tenang dari sebelumnya. Memang pada titik tertentu, rasa gengsi dan ego kerap menjadi hambatan kita hanya untuk sekadar meminta doa kepada orang tua.

Beberapa bulan seusai momen sentimentil itu. Saya mendapati pengumuman bahwa nama saya masuk dalam daftar mahasiswa yang menerima beasiswa. Mengetahui hal tersebut, ingatan saya seperti dihempaskan pada cerita-cerita dan moment sentimentil bersama ibu. Saya seperti merasakan langsung kesakralan dan kemagisan seorang ibu. Harapan yang sebelumnya tampak remang-remang kini menjadi terang benderang berkat keridaan ibu. Jujur, saya sebenarnya sudah tidak meletakan ekspetasi lebih pada beasiswa tersebut. Sebab saya sudah lebih tenang selepas meminta rida kepada ibu dan bagi saya itu lebih dari cukup. Namun Tuhan memberi lebih.   

Tentu, saya yakin Rahmania juga sesekali tidak secara sadar merasakan betapa magisnya rida ibu, entah melalui doa-doanya ataupun ucapannya. Masih banyak cerita yang berserak mengenai kedahsyatan seorang ibu. Mungkin ada ribuan atau jutaan atau bisa kita menyebutnya dengan sederhana; tak terhingga. Dan jika tidak berlebihan, saya pun memercayainya sekali lagi, bahwa selama ini Tuhan memang benar-benar memberikan, menyediakan dan bahkan mempersiapkan tempat yang bersih dan lampunya terang untuk ibu dan juga kepada para perempuan yang memiliki peran sebagai “ibu”. Entah melalui ucapan, tindakan maupun doa-doanya.  

Bagikan
Post a Comment