f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
penyemangat

Menuntut Hidup Bahagia, Mengingat Tuhan Seperlunya

Siapa sih orang yang tidak mau hidupnya dilimpahi oleh kebahagiaan? Semua orang pasti menginginkannya bukan?.

Kebahagiaan adalah suatu keadaan, pikiran atau perasaan yang ditandai dengan kecukupan hingga kesenangan, cinta, kepuasan, kenikmatan, atau kegembiraan yang “intens”.

Tolak ukur kebahagiaan setiap orang itu berbeda-beda. Terkadang hal yang menurut orang lain sederhana, adalah hal yang membahagiakan bagi kita.

Kebahagiaan itu kita sendiri yang menciptakan. Oleh karenanya, kebahagiaan akan sulit dicapai apabila kita terlalu tinggi mematok ukuran suatu kebahagiaan. Sebab pada dasarnya, kebahagiaan itu merupakan kesederhanaan dan meciptakan rasa nyaman.

Ragam Kebahagiaan

Ada sifat-sifat yang dapat menjauhkan hidup kita dari kebahagiaan, antara lain adalah takut mati. Sebenarnya, perasaan ini menimpa mereka yang tak tahu mati. Mereka tidak tahu ke mana jiwa raganya pergi sesudah mati, atau disangka setelah tubuhnya hancur maka jiwanya pun ikut hancur, sedangkan alam ini kekal dan orang lain terus mengecap nikmat, sementara dirinya tak ada lagi di sana.

Ada juga yang menyangka bahwa kematian itu adalah penyakit yang paling hebat dan tidak ada obatnya. Padahal kematian bukanlah penyakit melainkan suatu takdir; yang nanti semua orang akan mengalaminya dan harus siap menghadapinya sewaktu-waktu.

Kebahagiaan banyak sekali macamnya. Namun, kebahagiaan yang paling hakiki dan paling utama adalah kebahagiaan rohani, yang mana kebahagiaan tersebut tercipta karena terjalin baiknya hubungan seorang umat kepada Tuhannya.

Namun, kebanyakan orang tidak menyadari bahwa yang diberikan Tuhan adalah yang terbaik untuk mereka. Kebanyakan dari mereka hanya terlalu fokus dengan apa yang mereka impikan; tanpa menyadari bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan yang terbaik, walaupun itu bukan  seperti yang mereka mau.

Baca Juga  Cinta dalam Diam, Kisah Cinta Ali kepada Fatimah

Hal tersebutlah yang membuat para manusia lupa bahwa semua kebahagiaan akan datang di waktu yang tepat dan dengan cara yang tidak disangka-sangka.

Namun, ada juga segelintir orang yang beranggapan bahwa hidup yang bahagia itu letaknya pada harta. Akan tetapi yang berpikiran seperti ini adalah orang yang putus asa dalam kemiskinannya. Mereka hendak menjadi kaya namun selalu gagal. Kadang-kadang pendapatnya tak didengar orang lantaran ia miskin. Karena itu mereka memutuskan  bahwa kebahagiaan itu terletak pada uang, bukan pada hal lainnya. Biasanya kaidah ini berasal dari hati yang kecewa.

Menemukan Kebahagiaan

Buya Hamka, dalam Tafsir al-Azhar, menjelaskan banyak juga yang tidak menemukan kebahagiaan meskipun ia sudah mencapai keinginannya. Contohnya adalah orang miskin yang mengejar kekayaan, sebab dalam bayangannya, jika kaya ia akan mampu menolong sesama. Akan tetapi, setelah kaya ia malah menjadi sombong dan kikir.

Ada juga negarawan yang ketika menjadi anggota parlemen berjanji akan menolak segala kezaliman, namun setelah jadi Presiden atau Perdana Menteri justru ia sendiri yang menzalimi rakyatnya.

Hal-hal tersebut terjadi karena memang pada dasarnya manusia mudah sekali utuk terlena dengan keriuhan dunia apalagi ketika mereka memiliki harta yang banyak, yang dengan mudah dia bisa mendapatkan apapun yang mereka mau.

Sebenarnya kita tidak perlu merisaukan perihal kehidupan, apalagi yang berkaitan dengan materi. Semua yang akan kita peroleh sudah diatur sedemikian rupa oleh Tuhan hingga waktunya tiba kita akan mendapatkannya. Jadi, kita hanya perlu berikhtiar dan juga berserah kepada Tuha; setelah kita  berusaha dengan semaksimal mungkin untuk mencapai apa yang kita inginkan.

Pada dasarnya manusia memang memiliki sifat “peminta” terlebih dengan Tuhan yang meciptakannya; terkadang seorang umat hanya ingat kepada Tuhannya ketika mereka merasa kesusahan.

Baca Juga  Hati yang Lembut, Terbalut Luka Tak Kasat Mata

Saya pun juga merasakan hal tersebut, ketika semua kebahagiaan berada ditangan kita, dunia seakan terus memanjakan kita. Sampai-sampai kitapun lupa dari siapa nikmat semua itu kita dapatkan.

Jika kita sudah mencapai titik terendah dalam kehidupan, kita baru akan mengingat Tuhan. Dengan segala doa dan rayu, beribadah yang menggebu-gebu. Pada titik inilah, manusia akan  sadar bahwa yang tetap bertahan dengan segala tingkah laku dan kesalahan kita hanyalah Tuhan semata.

Tuhan tetap selalu memberi apapun permintaan hambanya; sekalipun mereka kurang atau bahkan tidak menaati perintahnya dan menjalankan kewajiban-kewajibannya. Namun, Tuhan selalu memberi yang terbaik bagi hamba-hambanya.

Materi, Bukanlah Sumber Kebahagiaan

Adapun kisah  yang dapat dijadikan pelajaran bagi kita yaitu kisah dari Rockefeller. Sepanjang hidupnya, ia mengejar kekayaan. Namun setelah menjadi miliuner, semuanya itu tak lagi berarti. Di usianya yang sudah 97 tahun, ia hanya ingin agar dicukupkan hidupnya menjadi 100 tahun.

Ternyata harta yang banyak itu tak mampu sekadar untuk membeli kekurangan yang tiga tahun, karena pada tahun itu juga ia wafat. Sesuatu yang belum kita miliki dalam hidup sering disangka menjanjikan kebahagiaan, namun manusia kerap kali tidak mampu menghargai apa-apa yang sudah dimilikinya.

Pada intinya mereka yang menilai kebahagiaan dengan materi, hanyalah orang-orang yang tertipu. Karena, segala sesuatu yang ada di dunia ini hanya memiliki harga sesuai kemampuan manusia, dan itu fana. Yang abadi adalah kehidupan kita kelak di akhirat. Di mana kehidupan di akhirat tersebut dapat diwujudkan sebaik mungkin dengan memperbanyak amal, sedekah, dan juga pahala ketika kita masih hidup di dunia.

Ada seorang ahli agama berkata “Dunia diibaratkan lautan, semakin kita meminum airnya, maka akan semakin haus lah tenggorokan. Begitulah, ketika dunia yang dikejar, kita tak akan pernah puas untuk terus memburunya.”

Baca Juga  Dari Opini ke Jurnal: Ganti Gigi Format Kepenulisan

Begitu juga dengan kebahagiaan, apabila kita hanya mengejar kebahagiaan dunia saja, maka kebahagiaan akhirat akan tertinggal. Tetapi, ketika kita mengejar kebahagiaan akhirat, maka dengan kehendak Tuhan Yang Maha Esa, kebahagiaan di dunia pun akan senantiasa tercukupi bahkan bisa melebihi dengan apa yang kita harapkan.

Bagikan
Post a Comment