Tips Decluttering dengan Mudah dan Bahagia
Decluttering adalah mengeluarkan barang yang tidak kita gunakan dari rumah kita. Intinya membuat rumah kita lebih rapi, lapang, bersih dan tentunya membuat kita bahagia. Hari ini saya mengeluarkan berbagai barang yang sudah menahun bertumpuk dalam rumah. Saya sudah mulai risih dengan kondisi barang-barang tersebut, namun penghuni rumah nampaknya baik-baik saja.
Tentunya saya harus meminta persetujuan seluruh penghuni rumah. Kesulitan tiap orang adalah ketika harus merelakan barang yang selama ini tidak terpakai. Kita kadang berpikir, siapa tahu besok kita akan pakai. Siapa tahu, besok kita butuh. Meski pada faktanya sudah puluhan tahun kita tak memakainya.
Dari sini saya memikirkan cara agar kita mudah melepas barang yang sudah menemani kita bertahun-tahun.
1. Hisab
Ingat bahwa barang yang kita miliki akan selalu dihisab nantinya. Barang, harta, dan umur kita akan dimintakan pertanggung jawabannya kelak, jadi kita harus memanfaatkan barang yang kita miliki. Jika barang dalam rumah kita tak bermanfaat, lantas bagaimana kita akan mempertanggung jawabkannya kelak?
Ketika saya mengeluarkan barang dari rumah, penghuni rumah tidak semuanya setuju. Mereka masih merasa sayang pada barang tersebut. Lalu ketika saya sampaikan bahwa kelak semua barang ini akan dihisab, mereka langsung melunak.
2. Salurkan pada orang yang tepat
Salah satu barang yang saya keluarkan adalah TV rusak. Saya tawarkan pada jasa servis TV karena saya pikir spare part nya masih bisa digunakan. Saya malas membawa ke tempat servis maka saya minta orang untuk mengambilnya ke rumah. Lalu orang itu bertanya harga TV rusak tersebut.
Saya pikir TV itu sudah rusak dan tak bernilai bagi saya, dan saya juga malas mengantarkannya. Jadi TV tersebut langsung saya berikan saja tanpa harga. Orang itu berterima kasih berkali-kali, dan mendoakan semoga menjadi amal kami.
Jadi, pastikan barang yang kita keluarkan sampai di tangan orang yang tepat.
3. Niatkan untuk sedekah
Kita kadang menyayangkan barang yang kita miliki jika kita berikan pada orang, atau bahkan jika dijual murah. Hal ini karena kita mengingat bahwa harga beli barang tersebut dulunya mahal. Dan tentunya kita mengupayakan untuk mendapatkan barang tersebut. Ketika mau dilepas, rasanya tak rela mengingat uang dan jerih payah yang kita lakukan.
Sehingga kita ingin setidaknya mendapatkan harga yang setimpal dengan jerih payah kita. Padahal, untuk menjual barang yang sudah tak digunakan dengan harga yang setimpal itu tidak mudah, bisa jadi tidak mungkin.
Lalu kita berpikir, jika tak ada yang mau beli dengan setimpal, maka lebih baik disimpan. Setidaknya, jerih payah selama ini masih ada bekasnya. Padahal, barang yang tidak bermanfaat bagi kita hanya akan membebani kita kelak, dan tentunya membuat rumah kita penuh.
Maka dari itu, kita harus ubah mindset kita. Niatkan kegiatan decluttering ini untuk sedekah, Tuhan yang menilai barangnya. Jika barang tersebut ternyata sampai pada orang yang tepat dan bermanfaat, tentunya pahala akan tetap mengalir pada kita. Jerih payah yang sudah kita lakukan selama ini tidak akan sia-sia.
Sebagaimana yang saya ceritakan di atas, orang yang saya beri TV rusak berkali-kali berterima kasih. Padahal ini cuma TV rusak yang tak ada nilainya bagi saya, tapi bagi orang yang tepat akan menjadi manfaat.
Saya juga terapkan metode ini bagi keluarga saya. Saya sampaikan agar meniatkan kegiatan decluttering ini untuk bersedekah. Hasilnya, berbagai macam barang keluar dengan mudahnya dari rumah.
4. Pikirkan dampaknya bagi kita
Saat memilah barang, pikirkan dampak barang itu bagi kita. Apakah memberi manfaat? Membuat kita bahagia? Apakah jika tak ada barang tersebut kita baik-baik saja?
Jika berkurangnya barang tersebut tidak membuat kita kerugian secara material maka barang tersebut wajib kita keluarkan. Jika barang itu sudah tak bermanfaat bagi kita, maka sudah saatnya kita salurkan pada yang membutuhkan.
5. Semua barang memiliki jodohnya
Untuk barang yang masih berfungsi dengan baik, kita bisa menjualnya dengan harga yang sudah kita sepakati dengan keluarga. Misalkan pakaian yang jarang dipakai dan masih bagus, headphone dan kamera yang jarang dipakai, atau barang yang sering dipakai tapi sudah tak ingin kita pakai lagi. Misalkan kita ingin membeli lemari dengan baru, maka lemari yang sudah ada di rumah baiknya kita jual saja dan diganti yang baru. Sehingga isi rumah tidak menumpuk.
Tak perlu sedih jika kita barang bekas tak kunjung terjual, karena semua barang akan menemukan jodohnya. Saya pernah menjual lemari milik saya karena ingin ganti model. Saya ingin lemari drawer, sedangkan milik saya lemari model biasa dengan dua pintu. Intinya, saya menjual bukan karena sudah jelek atau rusak. Kondisinya masih sangat bagus dan jarang dipakai.
Banyak yang menawar lemari tersebut dengan harga rendah, alasannya karena bekas. Saya tolak semua tawaran itu, bahkan kadang komentar mereka membuat saya sakit hati. Suatu hari ada yang menanyakan lemari tersebut, ia bertanya apakah kondisinya masih bagus. Saya lansung meminta orang tersebut datang ke rumah agar memastikan kondisinya, karena saya menjamin lemari saya masih bagus. Ketika orang itu mengecek lemari, ia juga setuju bahwa lemari itu masih sangat bagus. Ia langsung membayar dan membeli lemari tersebut.
****
Ternyata pembeli ini adalah pasangan yang baru menikah. Mereka sebelumnya juga membeli Kasur bekas, dan kini mereka senang karena sudah memiliki lemari. Saya paham betul rasanya jadi pengantin baru, bisa memiliki barang meski bekas adalah sesuatu. Karena saya sendiri pun banyak membeli barang bekas, yang penting punya. Kami memulai pernikahan kami dari kondisi nol.
Yang terpenting baik saya maupun pasangan yang membeli lemari tersebut sama-sama bahagia. Jadi, suatu barang akan bernilai jika bertemu dengan jodohnya. Jodoh lemari ini adalah pasangan baru tersebut, tak perlu tawar menawar, tak perlu komentar manyakitkan, lemari langsung terjual. Kita hanya perlu bersabar untuk menemukan jodohnya.
6. Penyaluran
Barang yang sudah tidak berguna bisa kita salurkan ke penampungan rongsok atau bank sampah. Jika kita ingin sedekah, kita bisa berikan pada tetangga yang sering menyalurkan ke rongsokan. Apabila tak memungkinkan kita bisa mengiklankannya di grup jual beli dan marketplace facebook.
Jika barang tersebut masih bernilai, kita bisa berikan harga sesuai keinginan kita. Platform yang lain adalah carousell dan prelo. Platform tersebut khusus mempertimukan penjual dan pembeli barang bekas namun kondisinya masih bagus. Selain itu kita bisa juga menjual di olx, kaskus, shopee, tokopedia, bukalapak, dan lain-lain.

Seorang mompreneur, founder and teacher tahsinonlinebenome.
