f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
vendor

Menerima Hadiah dari Vendor, Apa yang Harus Dilakukan?

Dalam suatu kesempatan, seorang manajer bagian procurement PT Alas Hak diundang makan siang oleh salah satu vendor. Vendor ini kebetulan sedang mengikuti proses tender sebuah pekerjaan di PT Alas Hak. 

Sang manajer procurement, sebut saja Andi adalah yang menangani proses tender tersebut. Sementara itu, vendor diwakili oleh manajer marketing, David.

Terjadilah dialog berikut ini:

Andi : Terimakasih banyak pak David atas undangan makan siangnya. Kalau boleh tahu dalam rangka apa ini Pak?

David : Tidak, Pak. Tidak dalam rangka apa-apa. Kami hanya ingin sekedar silaturahmi dengan Bapak. Kami mau ngobrol-ngobrol santai saja. Oia, kami juga ingin menyerahkan ini, Pak. (sambil menyodorkan amplop putih)

Andi : Apa ini, Pak?

David : Ini sekedar ucapan dan salam perkenalan dari kami, Pak. Ini bukan yang terakhir Pak, masih akan ada lagi untuk Bapak. Namun kami mohon agar dalam tender ini kami dapat dimenangkan Pak.

Andi : Apa yang harus saya lakukan? (berkata dalam hati)

Jika para pembaca sekalian berada pada posisi seperti Andi? Apa yang akan Anda lakukan?

Ketika situasi ini ditanyakan kepada para peserta workshop Code of Conduct; maka sebagian besar jawabannya adalah menolak. Ya, sebagian akan menolak dengan beragam alasan. 

Ada yang mengatakan karena hal tersebut tidak diperbolehkan oleh perusahaan; ada yang mengatakan bahwa harta yang diperoleh menjadi haram dan berbagai alasan lainnya.

Namun, pernahkan berpikir seandainya kita yang dihadapkan pada situasi tersebut? Kira-kira masih bisakah kita menolaknya? Kalau jawaban anda tetap iya, maka itu bagus. Namun seringkali kita tidak kuasa untuk mencegahnya.

***

Jika kita memiliki idealis tinggi, mungkin pada percobaan pertama kita mampu untuk menolaknya. Namun di kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya, masih mampukah kita untuk menolak?

Baca Juga  Tetap Berprogres Ketika di Rumah Saja

Berbicara tentang pemberian hadiah, maka tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam suatu perusahaan, terdapat konsep 20:60:20, di mana 20 persen orang di suatu perusahaan dari awalnya sudah baik. 

Di sisi sebaliknya, ada 20 persen orang di suatu perusahaan yang dari awalnya memang sudah jelek/jahat. 

Orang dengan tipe jahat seperti ini, maka ketika pertama kali masuk perusahaan, yang terpikirkan adalah bagaimana mencari/memanfaatkan keuntungan dari perusahaan ini untuk kepentingan pribadi. Jika ini yang terjadi, maka dapat kita pastikan bahwa perusahaan akan mengalami kerugian. 

Sementara sisanya, 60 persen adalah orang yang ikut-ikutan. Jika yang lebih kuat adalah 20 persen yang baik, maka yang 60 persen akan ikut menjadi baik. Namun, jika yang lebih kuat adalah 20 persen yang jahat, maka yang 60 persen akan ikutan menjadi jahat juga. 

Untuk itulah, dengan penerapan GCG, tantangan terbesar adalah sebanyak mungkin menciptakan orang-orang baik, agar orang-orang baik di perusahaan menjadi mayoritas.

***

Kembali ke soal gratifikasi. Maka pejabat perusahaan, harus membiasakan diri untuk menolaknya. Hal ini penting untuk menghindari persoalan dan jeratan hukum di masa mendatang. Dengan menolak gratifikasi, akan mengamankan diri kita. Namun memang bukan persoalan mudah.

Kita sudah menolaknya, baik secara halus maupun terbuka, tapi pemberian tersebut tetap dapat saja terjadi. Kalaupun ternyata pemberian tersebut sudah kita terima, entah ditinggalkan di meja kerja kita, dititipkan kepada rekan kerja atau bahkan diberikan kepada keluarga di rumah, maka hal lain yang dapat dilakukan adalah dengan melaporkan pemberian tersebut.

Kesannya seperti menolak rezeki ya? Tetapi perlu kita sadari bahwa ketika kita mendapatkan hadiah atau suatu pemberian, kita bisa tanyakan dulu pada diri kita. Apakah pemberian tersebut memang tulus ikhlas, atau karena ada hal lain?

Baca Juga  Cara Mengelola Keuangan Sekolah

Kita jangan GR duluan, karena ternyata pemberian tersebut ternyata “karena ada maunya”. Pemberian tersebut terjadi karena jabatan yang kita miliki. Coba kita tanyakan; Apakah ketika kita sudah tidak berada di posisi tersebut masih akan ada yang memberikan hadiah? Mungkin ada, tapi saya rasa mayoritas tidak akan memberikan lagi.

Perusahaan, ketika menerima laporan seperti ini, sudah seharusnya merasa bangga kepada karyawan. Hal ini menunjukkan bahwa karyawan tersebut benar-benar bekerja dengan sepenuh hati untuk perusahaan, bukan semata-mata tergiur atau tergoda oleh uang.

***

Langkah lanjutan yang dapat perusahaan tempuh adalah dengan memanggil vendor yang memberikan hadiah tersebut. Sampaikan secara baik-baik di awal bahwa perbuatan tersebut adalah salah dan jangan mengulangi-nya lagi. Berikan sanksi apabila ternyata di masa mendatang kejadian tersebut berulang.

Oleh karena itulah, komitmen dan konsistensi dalam penerapan hal-hal seperti ini perlu terus diperhatikan oleh perusahaan. Tunjukkan komitmen dari high level position, jadikan sebagai contoh. Jika high level position sudah menerapkannya, maka level-level di bawahnya juga akan ikutan.

Mungkin akan sulit, tetapi bukan berarti mustahil. Ketika hal ini mulai dilakukan, maka hal ini akan menyebar dan diharapkan menjadi gerakan kebaikan. Beranikah kita sekarang berkomitmen “Say No To Gratifikasi?”

Bagikan
Post a Comment