Tips Mudik Aman dan Nyaman
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, hai Rahmania yang saleh dan salehah. Tak terasa bulan Ramadan 1444 Hijriah akan segera selesai. Tersisa beberapa hari lagi untuk kita beramal sebanyak-banyaknya di bulan yang penuh berkah ini. Sepanjang Ramadan, seluruh umat Islam berlomba-lomba mencari pahala sebesar-besarnya. Tak hanya melalui shaum Ramadan, umat Islam juga mencari keberkahan dengan kegiatan-kegiatan lain, seperti tadarus Al-Qur’an, salat sunnah, mengikuti ceramah, dsb.
Di penghujung Ramadan, masyarakat Indonesia memiliki tradisi yang mereka lakukan di tiap tahunnya. Ya, pulang ke kampung halaman atau yang bias akita sebut dengan mudik. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka bertemu saudara, keluarga, orang tua, teman, nyekar ke makam orang tua/keluarga yang sudah wafat, silaturahim dengan tetangga sekitar, dsb.
Tradisi mudik ini pada akhirnya menjadi kebiasan masyarakat dari berbagai kalangan, tak hanya umat Islam saja. Hawa kampung memang selalu kita rindukan. Apalagi ketika mengikuti kegiatan takibar di jalan, sungguh menebarkan hati dan terkadang membuat kita sedih karena indahnya Ramadan akan segera usai. Namun, di tengah situasi pandemi Covid-19 tahun 3 tahun belakangan, pemerintah menganjurkan masyarakat Indonesia untuk tidak mudik. Maka ini kesempatan untuk bermudik kembali adalah moment kebahagian yang kita tunggu.
Nabi Muhammad Saw. Pernah Mudik
Tradisi mudik ini sebenarnya pernah Nabi Muhammad Saw. lakukan. Dalam buku berjudul “Pengantin Ramadhan”, M. Muchlis Hanafi menejelaskan, dalam konteks yang berbeda Nabi Muhammad Saw. bersama para sahabatnya ternyata juga pernah “mudik” ke kampung halamannya. Ia menjelaskan bahwa Nabi Saw. beserta para sahabat pernah melakukan perjalanan dari Madinah ke Makkah. Menurut Muchlis, Nabi pulang ke Makkah pada tangga; 20 Ramadan tahun ke delapan Hijrah, setelah hampir delapan tahun ita terpaksa keluar dari kota kelahirannya tersebut. Menurutnya, Nabi kembali ke Kota Makkah dengan kemenangan sesuai dengan janji Allah Swt. dalam firmannya pada Surat Al-Qashash [28]: 85.
اِنَّ الَّذِيْ فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ لَرَاۤدُّكَ اِلٰى مَعَادٍ ۗقُلْ رَّبِّيْٓ اَعْلَمُ مَنْ جَاۤءَ بِالْهُدٰى وَمَنْ هُوَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
Artinya : “Saat masih di Makkah berjuang menyebarkan Islam, Allah Swt. memang sudah menurunkan sebuah ayat Alquran: “Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Muhammad) untuk (melaksanakan hukum-hukum) Alquran, benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali”
Untuk memperlancar perjalanan mudik Rahmania sekalian, berikut 9 tips mudik aman dan nyaman.
1. Mudik aman dan nyaman tanpa berhutang.
Mudik lebaran adalah kegiatan tahunan yang telah menjadi budaya bagi masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, persiapan dalam melakukan mudik lebaran di mulai dari persiapan finansial terlebih dahulu. Mudik aman dan nyaman bila dipersiapkan dengan sedemikian rupa, apabila dengan mudik justru menyebabkan kita berhutang pada akhirnya maka hal tersebut juga tidak dibenarkan. Maka, pemudik harus sejak jauh-jauh hari mempersiapkan persiapan mudik. Kita mulai dari biaya perjalanan hingga biaya darurat.
2. Mudik aman dan nyaman dengan persiapan fisik yang kuat dan sehat.
Di masa pandemi ini para pemudik diwajibkan untuk sehat secara fisik, jasmani, dan rohani. Hal ini untuk menjaga keamanan, kenyamanan, dan keselamatan selama perjalanan menuju kampung halaman. Para pemudik yang sakit tidak dianjurkan untuk melakukan mudik lebaran hingga ada dalam kondisi yang sehat. Agar sehat, para pemudik dianjurkan memiliki jam tidur yang cukup sebelum melakukan perjalanan jauh. Hal ini menjadi sangat penting bagi para pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi.
3. Mudik aman dan nyaman dengan kendaraan yang prima.
Bagi para pemudik yang menggunakan kendaraan pribadi wajib menyiapkan kendaraan dalam kondisi prima. Bagi kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat, pemudik harus melakukan pengecekan terlebih dahulu ke bengkel, melakukan service apabila perlu, dan menyiapkan peralatan tambahan untuk penanganan apabila di jalan mengalami kendala.
4. Mudik aman dan nyaman berbekal P3K.
Hal itu penting disiapkan agar apabila terjadi hal yang tidak diinginkan selama perjalanan dapat dibantu dengan pertolongan pertama. Selain itu, para pemudik juga dianjurkan untuk menyiapkan obat-obatan dan keperluan pribadi yang dibutuhkan selama perjalanan.
5. Mudik aman dan nyaman dengan protokol kesehatan (prokes).
Meski jumlah pasien Covid-19 telah menurun, tetap saja para pemudik tetap dianjurkan untuk mentaati prokes baik selama perjalanan, setelah sampai ke kampung halaman, dan sampai kembali ke rumah. Yang paling penting adalah memakai masker, rajin mencuci tangan, dan menjaga kebersihan selama perjalanan.
6. Mudik aman dan nyaman dengan lengkapi vaksinasi covid-19.
Pemerintah menyiapkan program vaksinasi bagi seluruh masyarakat Indonesia. Bagi para pemudik diwajibkan untuk mendapatkan vaksinasi ke 3 atau booster. Dengan melakukan vaksin, mudik menjadi terasa lebih aman dan nyaman bagi semua. Lebih-lebih ini menjadi salah satu ikhtiar menjaga kesehatan bersama.
7. Mudik aman dan nyaman dengan persiapan perlengkapan ibadah pribadi.
Ibadah selama mudik akan menjadi lebih aman dan nyaman apabila mempersiapkan peralatan ibadah sendiri. Karena masih dalam suasana pandemi, tentunya masyarakat perlu berhati-hati dalam menggunakan barang di tempat umum. Untuk itu, demi menjaga kesehatan bersama pemudik harus membawa peralatan ibadah sendiri.
8. Mudik aman dan nyaman dengan berdoa sebelum melakukan perjalanan
Mudik aman, nyaman, dan selamat tentunya akan semakin lengkap dengan doa sebelum memulai perjalanan. Para pemudik dianjurkan melakukan doa keluar rumah dan doa sebelum naik kendaraan berikut ini.
Doa Ketika Keluar Rumah
بِسْمِ اللهِ تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ لاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ اِلاَّ بِاللهِ
Artinya: “Dengan menyebut nama Allah, aku menyerahkan diriku pada Allah dan tidak ada daya dan kekuatan selain dengan Allah saja.
Doa ketika naik kendaraan
سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِ نِيْنَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ
Artinya: “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami (di hari kiamat).”
8. (Boleh) Tidak berpuasa dalam perjalanan.
Dalam perjalanan mudik para pemudik boleh tidak berpuasa. Kenapa begitu? Mudik saat berpuasa tentunya memerlukan tenaga yang ekstra, apalagi mereka yang mengendarai kendaraan pribadi, seperti mobil maupun sepeda motor. Dalam Islam, hal ini tergolong sebagai musafir. Lalu, bagaimana hukum tidak puasa karena dalam perjalanan mudik lebaran 2023?
Allah Swt. berfirman dalam Surat Al Baqarah:184
يَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Artinya : (Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
Namun Imam Malik, Imam Abu Hanifah dan Imam Syafi’i menyatakan jika umat muslim masih kuat, lebih utama berpuasa ketika dalam perjalanan jarak jauh.
Muhammadiyah melalui kajian Tarjihnya juga menyampaikan bahwa terdapat keringanan (rukhsoh) untuk orang yang berpergian (musafir). Keringanan ini didasarkan pada firman Allah, seperti Surat Al Hajj ayat 78, Surat An Nisa’ ayat 28, Surat Al Baqarah ayat 185. Sebagai hukum azimah (keharusan) puasa diwajibkan kepada semua orang Islam yang sudah baligh. Namun bagi orang-orang yang mendapat kesulitan untuk puasa mendapatkan rukhsah (keringanan) untuk tidak berpuasa. Seperti orang yang sakit atau musafir (orang yang sedang bepergian) boleh tidak puasa dan menggantinya pada hari lain. Hal ini berdasarkan Surat Al Baqarah ayat 184. Sebab kalau orang-orang tersebut tetap berpuasa, akan timbul masyaqah (kesulitana/keberatan).
Nah, bagaimana hukumnya jika tidak berpuasa saat mudik dan berangkatnya setelah subuh? Orang yang pergi setelah memasuki waktu subuh menurut pendapat yang kuat adalah tidak diperkenankan meninggalkan puasa pada hari itu. Jika perginya dua hari ke atas, maka hari kedua dan seterusnya ia baru boleh meninggalkan puasa selama belum kembali pulang ke rumah.
Itu dia tips-tips mudik dari Rahama Id. Semoga Rahmania semua bisa mempersiapkan diri sebelum mudik dan akan berkumpul bersama keluarga besar. Semoga bermanfaat semua.
Seorang Journalis Politik yang mengenyam pendidikan Ilmu Komunikasi di Universitas Terbuka. Instagram : @pearl.anagram.
