Spirit Habis Gelap Terbitlah Terang dalam Hari Raya
Kisah hidup Raden Ajeng Kartini akan diulas setiap tanggal 21 April, bertepatan dengan hari kelahirannya di tahun ini juga diperingati sebagai Hari Raya Besar Umat Islam yakni Hari Raya Idul Fitri 1444 H oleh sebagian kalangan umat muslim di Indonesia lebih tepatnya warga Muhammadiyah. Pemikirannya dalam korespondensi dengan beberapa kawan dan aktivis di Belanda pada masa kolonial terangkum dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku tersebut mengungkap bahwa pemikiran Kartini yang bermuara mulia itu dulu dan seterusnya memberi kesempatan perempuan untuk mandiri dan menentukan gaya hidupnya. Selain pemikirannya tentang emansipasi dan persamaan hak bagi perempuan, Kartini juga menceritakan perjalanannya mempelajari Islam dalam buku tersebut.
“Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya? Al Quran terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apa pun, agar bisa dipahami setiap Muslim. Di sini tidak ada orang yang mengerti bahasa Arab. Di sini, orang belajar Al Quran tapi tidak memahami apa yang dibaca. Aku pikir, tidak jadi orang soleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu Stella?,” tulis Kartini dalam surat kepada seorang aktivis perempuan Belanda, Stella Zeehandelaar bertanggal 6 November 1899 dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang.
Perjalanan Kartini mempelajari makna Al-Quran membawanya bersama Muhammad Sholeh ke Samarani yang dikenal dengan KH Sholeh Darat atau Mbah Sholeh Darat. Kiai Sholeh adalah ulama Jawa terkemuka saat itu. Ia belajar tasawuf, Ilmu Fiqih dan astronomi dengan ulama Jawa dan Mekkah. Ia membangun Pesantren Darat di Kecamatan Darat, Semarang Utara, Jawa Tengah. Pertemuan Kartin dengan Kiai Sholeh Darat terjadi saat pernyataan di rumah pamannya Pangeran Ario Hadiningrat yang saat itu menjabat sebagai Penguasa Demak. Saat itu, Kiai Sholeh memberikan ceramah tentang makna Surat Al-Fatihah.
Sebelum berangkat, Kartini disuruh meminta pamannya untuk bertemu dengan Kiai Sholeh, Kiai Sholeh yang merupakan Guru dari K.H Ahmad Dahlan dan K.H Hasyim Asyari juga merupakan Guru Kartini dalam belajar Agama Islam. Dalam dialog tersebut, Kartini mengaku baru mendengar penjelasan surat Al-Fatihah tentang arti kiai. Kartini juga mempertanyakan mengapa para ulama melarang terjemahan Alquran ke dalam bahasa Jawa. Jika ini dilakukan, menurut Kartin, umat Islam akan lebih mudah mempelajari makna Al-Qur’an. Setelah mendengar pertanyaan Kartini, Kiai Sholeh mengucapkan tasbih. Usai pertemuan, Kiai Sholeh menerjemahkan Al-Quran dari bahasa Arab ke dalam bahasa Jawa atau Pego. Tafsir ini disebut Faidhul Rahman.
Selain itu, Kiai Sholeh juga menerjemahkan kitab Al-Hikam ke dalam bahasa Jawa. Tujuannya adalah untuk memudahkan penafsiran ajaran yang terkandung di dalamnya. Prosesnya tidak mudah karena pemerintah Hindia Belanda melarang penerjemahan Alquran. Bahkan saat itu, para ulama melarang terjemahan Al-Qur’an. Namun, Kiai Sholeh melakukannya. Dalam buku tersebut, Kiai Sholeh Faidhul Rahman menerjemahkan 13 surah dari Surah Al-Fatihah menjadi Surah Ibrahim. Buku itu kemudian dipersembahkan sebagai hadiah pernikahan kepada Kartini dan Raden Mas Joyodiningrat, penguasa Rembang. Kiai Sholeh tidak sempat menyelesaikan tafsir karena meninggal dunia. Membaca buku terjemahan yang diberikan Kiai membuat Kartini mengalami perjalanan spiritual. Hal itu terungkap dalam surat Kartini kepada Jacoba Maria Petronella Nellia Porreij van Kol, istri politikus sosialis Belanda Henri Hubert van Kol.
Spirit Habis Gelap Terbitlah Terang
“Saya bertekad dan berupaya memperbaiki citra Islam yang selama ini kerap menjadi sasaran fitnah. Semoga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang Islam sebagai agama yang disukai,” tulis Kartini dalam surat tertanggal 21 Juli 1902. Jelas tertulis spirit Kartini untuk terbebas dari belenggu ketidaktahuan akan Islam. Maka di momentum ini, sekiranya 21 April 2023 ini juga bertepatan dengan hari raya Idulfitri bagi sebagian orang yang merayakannya. Maka menahan diri dari nafsu dan keinginan yang berlebihan pada 11 bulan telahlah dilebur dalam tempaan 1 bulan di bulan Ramadan kemarin, setelah ini akan ada terbitan diri yang baru, diri yang Fitri, kembali lagi suci dan memulai keistiqomahan beribadah di sebelas bulan dan seterusnya, spirit inilah yang harus terus dipertahankan agar terangnya iman dapat dirasakan hingga keseharian umat muslim dalam hidupnya.
Kabid IMMawati DPD IMM Jawa Tengah 2022-2024. Mahasiswa S2 Universitas Jenderal Soedirman Program Studi Ilmu Manajemen. IG : nia_nurpratiwi

Yums
Jangan lupa cantumkan referensinya biar nanti buku-buku tersebut bisa jadi rujukan atau bahkan rekomendasi bacaan. Terimakasih..