f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
Perbuatan

Pudarnya Pesona Jawa di Jagat Maya

Sebagai makhluk sosial, kita tidak akan pernah lepas dari keburukan orang lain baik dalam bentuk lisan maupun perbuatan. Sudah banyak sekali bukti dari kejadian ini. Allah, Dzat Yang Mahasempurna saja masih tertuduh memiliki anak, diragukan kemahakuasaan-Nya, dan lain sebagainya. Kemudian Nabi Muhammad, makluk yang Allah tinggikan derajatnya dan sanjung keluhuran akhlaknya juga demikian. Tidak lepas dari cemoohan umatnya, baik dari dulu hingga sekarang. Beliau dianggap sebagai orang gila, tukang sihir, dan lainnya. Apa lagi kita manusia biasa yang penuh kekurangan dan terbiasa dengan kesalahan?

Muslim sejati adalah mereka yang orang lain merasa selamat dan aman dari gangguan lisan dan perbuatannya. Kata Nabi dalam hadis sahih, al-muslim man salima al-muslimūn min lisānihi wa yadihi. Orang muslim yang baik keislamannya adalah orang yang muslim lainnya selamat dari lisan dan tangannya. Sesuai dengan akar katanya, muslim, keselamatan orang lain menjadi tugas yang tidak bisa lepas dari seorang muslim. Namun demikian, kita masih sering menjumpai realita yang kontras dengan hadis Nabi dalam riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim tadi. Terlebih di sosial media, saling menghina dan sumpah serapah menjadi pemandangan yang lazim kita temui.

Tidak jarang orang yang kemarin sore belajar agama berani menghakimi ulama yang sudah puluhan tahun mempelajari Islam. Banyak sekali komentar yang keluar hanya dengan modal ayat saja tanpa mengetahui konteks dan asbāb nuzūl daripada ayat tersebut. Sedikit saja seorang tokoh keliru dalam berucap dan bersikap, dunia maya akan gempar seketika dengan perbuatan tersebut. Sikap kontroversi yang sebelumnya sudah diklarifikasi akan bermunculan kembali dengan mengabaikan penjelasan tokoh tersebut. Seakan-akan hal itu adalah dosa atau kesalahan yang tidak pernah termaafkan.

Baca Juga  Mencari Jati Diri Sebagai Seorang Muslim
Faktor Timbulnya Kontroversi

Banyak sekali faktor yang memicu hal ini. Pertama, tidak adanya pertemuan antara kedua belah pihak secara fisik yang membuat keduanya merasa aman dari kemungkinan perbuatan buruk rivalnya. Kedua, kemungkinan memiliki bahasa tulis. Bisa jadi komentar yang sebenarnya penyampaian dengan nada rendah, tertangkap oleh lawan bicara sebagai ungkapan dengan penyampaian nada tinggi. Dari sini saja sudah memicu konflik. Apa lagi jika kontennya jelas-jelas menyerang.

Ketiga, budaya malas membaca terhadap materi sebagai sumber perselisihan. Padahal apapun masalahnya, jika berangkat dari informasi yang valid dan komprehensif akan mudah terselesaikan. Dalam bahasa agama, hal ini terkenal dengan istilah tabāyun yang harus didahulukan saat kedatangan informasi miring (QS. al-ḥujurāt: 6). Keempat, tidak adanya perasaan ingin ‘bertemu’ lantaran keduanya sama-sama merasa paling benar.

Inilah faktor yang paling dominan dalam memicu perpecahan. Allah tidak suka terhadap hamba-Nya yang merasa dirinya paling suci dan benar (QS. al-Najm: 32). Bahkan Nabi Muhammad sendiri mendapat ajaran dari Allah untuk menyampaikan kemungkinan posisinya sebagai yang benar atau salah (QS. Saba`: 24). Bukankah perpecahan juga termasuk larangan Allah?

Kelima, dangkalnya ilmu agama. Faktor yang masih berkelindan dengan faktor ketiga ini sangat nampak ketika topik yang menjadi selisih tidak jauh dari hukum Islam. Masih banyak saudara kita yang belum tahu bahwa satu ayat ataupun hadis bisa melahirkan dua pemahaman yang berbeda. Kata lāmastum yang menjadi penyebab batalnya wudu misalnya. Kata yang secara bahasa bermakna ‘menyentuh’ ini menurut Imam Syafi’i sebagai ‘persentuhan antara kulit dengan kulit’. Sementara gurunya, Imam Malik memahami kata dalam QS. al-Nisā`: 43 tersebut dengan ‘hubungan suami istri’.

Baca Juga  Prinsip Integralistik Manhaj Tarjih dalam Memandang Hadis Misoginis
Pentingnya Saling Menghormati

Tentunya masih ada lagi faktor lain yang ikut memicu fenomena aneh ini. Sebagai umat muslim, kita perlu untuk saling menghormati, menjaga lisan untuk tidak menghina, berprasangka baik kepada saudara, tabayyun atas sesuatu yang janggal, dan perintah lainnya yang membawa pada ketentraman dan kenyamanan hidup bermasyarakat. Tidak hanya kepada sesama muslim saja melainkan juga kepada mereka yang berbeda keyakinan.

Belum lagi jika melihat marwah bangsa Indonesia yang terkenal sebagai bangsa yang santun, murah senyum, dan ramah. Kok masih saja ada saudara kita yang hobinya beradu ‘otot’. Bahkan sampai berani men-judge bahwa rivalnya adalah orang munafik, sesat, terlaknat Allah, ahli neraka. Inikan sesuatu yang luar biasa mengeherankan?!

Terakhir, ada sebuah hadis qudsi yang sangat menarik untuk kita renungkan bersama. Dalam sebuah hadis Riwayat Muslim, Allah merasa tersinggung terhadap mereka yang berkata mengatasnamakan diri-Nya. Suatu ketika ada seorang lelaki yang berkata: demi Allah, Dia tidak akan mengampuni si fulan. Allah pun kaget kemudian menjawab: “Siapa itu yang bersumpah mengatasnamakan-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Ketahuilah, Aku telah mengampuninya dan mencampakkan amal kebaikanmu”.

Bukankah ini sebuah sinyal bagi kita untuk lebih berhati-hati dalam menilai saudara kita? Terlebih pengetahuan kita terhadapnya sangat terbatas pada apa yang nampak darinya. Itupun jika kita tidak mudah mengonsumsi gosip tetangga. wallāhu a’lam …

Editor : Amanat Solikah

Bagikan
Post a Comment