Perjumpaan-Perjumpaan yang Menjadi Anugerah
Dalam perjalanan hidup, manusia diberi banyak sekali anugerah. Salah satu anugerah unik yang diberikan pada manusia adalah konflik batin. Hampir setiap manusia memiliki konflik batin di dalam dirinya. Tentu saja konflik batin muncul karena kemampuan manusia itu sendiri untuk berpikir dan menganalisa kehidupannya sendiri.
Ada tipe manusia yang mampu menyelesaikan konfliknya sendiri, mungkin tipe ini adalah tipe manusia yang suka berkontemplasi dengan dirinya sendiri secara berkesadaran. Maka selain diberi kemampuan menemukan masalah, ia juga diberi kemampuan menemukan solusinya.
Namun, tak semua manusia mampu berpikir berkesadaran. Banyak juga yang terjebak dalam permasalahan yang ditemukan ketika berkontemplasi dengan dirinya. Untuk yang seperti ini pun, ada anugerah yang diterima berupa perjumpaan dengan manusia lain.
Berjumpa dengan Oma
Perjumpaan dengan manusia lain sungguh bisa menjadi anugerah ketika sosok yang dijumpai entah bagaimana membawa solusi untuk konflik batin yang membebani manusia. Ini bukan berdasarkan teori apapun, ini hanya saya alami dan rasakan seiring menuanya diri saya.
Pernah ada masa di mana saya kesulitan membangun bonding dengan anak kedua. Saya berkutat di pikiran itu dan mencoba mencari solusi dengan membaca kisah serupa dari ibu lain di media sosial dan mencoba mempraktikkan saran yang banyak diberikan oleh warganet. Namun nihil. Saya masih saja kesulitan.
Hingga saya berjumpa dengan Oma, ibu dari kawan saya, Ivy Sudjana.
Percakapan kami dimulai dengan pujian dari Oma. Nampaknya, beliau teringat dengan masa mudanya, ketika melihat saya menggandeng anak pertama sambil menggendong anak kedua saya.
Oma pun bercerita tentang betapa pahamnya beliau akan kelelahan ibu beranak dua yang usia anaknya masih balita semua. Beliau dulu juga mengalaminya. Oma bercerita sembari menerawang. Beliau menceritakan bagaimana pergolakan batinnya ketika menolak kehamilan kedua. Oma mencoba aneka ramuan supaya kehamilannya gugur.
Saya sudah hampir menangis mendengarnya. Saya tak pernah mencoba ramuan apapun saat kehamilan kedua, sementara anak pertama saja belum tuntas minum ASI, baru 13 bulan. Kehamilan saya, membuat saya kesal karena hak anak pertama belum bisa saya penuhi, belum lagi saya sendiri masih trauma dengan persalinan pertama saya.
Cerita Oma tentang Ivy
Maka ketika dalam perjalanan mengasuh anak kedua, bonding-nya tak seerat seperti saat anak pertama, saya merasa hal itu adalah kesalahan saya sendiri yang semasa hamil memang tak bisa membuat ikatan ibu dan anak. Ketika mendengar kisah dari Oma, rasanya tak terbayangkan bagaimana konflik batin Oma dalam membesarkan kawan saya.
Kisah seperti ini, jarang dituturkan. Tentu saja, terdengar sangat aib, bagaimana kok seorang ibu kesulitan membangun ikatan kelekatan dengan anaknya sendiri, sepenuh hati. Tapi kisah seperti ini, sungguh nyata, ada di sekitar kita. Banyak pula yang tak selesai, menyisakan luka di hati anak dan jarak dalam hubungan ibu dan anak..
Oma melanjutkan pembicaraan dengan fakta yang membuat saya bersyukur dan lalu mengubah saya seketika. Bahkan, rasanya konflik batin saya selesai saat itu juga. Oma berkata bahwa ia bersyukur diberi anugerah berupa kehadiran Ivy. Di masa tuanya, Ivy menjadi kawan, perawat, dan sekaligus anak yang membaktikan diri pada Oma.
Senyum menyungging di bibir Oma selama membicarakan kebaikan-kebaikan Ivy. Oma jelas bangga pada anak perempuannya itu. Oma menutup pembicaraan dengan mengatakan bahwa mungkin kelak saya pun akan mengalami seperti yang dialaminya, memiliki kawan di masa tua yang lahir dari rahim sendiri. “Anak ini besok jadi kawanmu.” kata Oma sembari memegang hidung bayi dalam gendongan saya.
Oma tidak pernah tahu konflik batin saya. Saya tak pernah menceritakannya ke orang lain waktu itu. Tapi Oma memberi cerita yang menyembuhkan saya tanpa beliau sengaja. Pertemuan dengan manusia lain seperti inilah yang saya maksud sebagai anugerah.
****
Kini, saya banyak bertemu dan berinteraksi dengan kawan di media sosial. Meski interaksi di media sosial terbatasi layar, namun bagi saya, setiap interaksi akan membawa saya ke pertemuan-pertemuan dengan sesama manusia. Saya yakini, setiap pertemuan itu dapat menjadi anugerah entah untuk diri saya atau sebaliknya, untuk orang yang berinteraksi dengan saya.
Bagaimana dengan Anda? Siapa orang yang dipertemukan dengan Anda dan menjadi anugerah buat hidup Anda? Bisa saja tukang sayur langganan, bisa juga pengantar paket Anda, bisa pula pengamen yang kemudian mendoakan Anda dengan doa yang tepat untuk permasalahan Anda.
Sulit menemukan karena tidak suka berbincang dengan orang lain? Ah, tenang saja, selalu ada anugerah untuk umatNya. Tunggu saja.
(Tulisan ini saya kirim ke Rahma.Id setelah mendapat izin dari Ivy Sudjana, putri dari Oma, yang juga kawan saya sesama orang tua di Sanggar Anak Alam Yogyakarta. ) *******
Butet Rs M adalah ibu dari tiga anak, tinggal di Bantul.
