f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
raithah sakher

Ghosting dan Pentingnya Menyempurnakan Janji

Suatu ketika, di Kota Mekah hidup seorang gadis dari keluarga terpandang. Nama gadis itu adalah Raithah binti Amru. Wajahnya tidak terlalu buruk. Telah lama ia menanti laki-laki yang datang meminang agar hidupnya tidak hampa. Hari demi hari yang telah ia lewati tak memberi kabar gembira akan harapannya itu. Hatinya terasa pilu. Tiada hari tanpa menguras air mata. Terlebih, jika ia mengingat usianya yang semakin bertambah. Begitu banyak air mata yang tumpah menjadikan wajah gadis itu kusam dan berkerut.

Melihat wajah anak gadis murung, sang ayah segera menghampiri dan menghiburnya. “Ayah akan pergi menghadap berhala Hubal. Dengan kedua tanganku ini, akan kuhamburkan kepadanya harta yang banyak. Akan kubasahi kakinya dengan darah sembelihan domba yang gemuk, sehingga dia merestuimu, wahai putriku sayang! Kelak Hubal akan mengirimkan padamu pemuda terhormat dari kaumnya untuk datang meminangmu.”

Mendengar ucapan ayahnya, muncul semangat dan asa di dalam hati Raithah. Ia hitung hari demi hari hingga menjadi minggu, bulan dan tahun. Namun, apa yang dijanjikan ayahnya tidak segera menemui kenyataan. Ia kembali meratap. Linangan air mata terus menetes. Pertanyaan tentang kapan datangnya sang pemuda selalu ia ulang-ulang dalam batinnya.

***

Raithah kembali tampak bermuram durja dan bersusah hati. Hal itu membuat ibunya sedih, lantas ia segera menghampiri Raithah. Sang ibu berusaha segara meredakan tangisnya dengan berkata, “Raithah anakku sayang, tak usah kau bersedih dan khawatir. Seorang dukun perempuan dari Thaif telah memberitahuku bahwa pernikahanmu tidak lama lagi. Waktu yang kau nantikan itu akan tiba saat bulan purnama nanti.” 

Raithah yang semula cemberut menjadi berseri kembali wajahnya setelah mendengar penuturan ibunya. Ada harapan baru yang bersemi kembali di dalam hatinya. “Benarkah apa yang ibu katakan itu? Aku tidak melihat ibu berangkat ke Thaif dan menemui dukun perempuan itu. Jangan-jangan ibu hanya memberi harapan kosong padaku!” Dengan memelas ia meminta penegasan dari ibunya.

“Hak seluruh Tuhan, aku bersumpah bahwa apa yang kukatakan ini adalah benar. Aku menjumpainya tadi malam. Dia dipikul di atas sebuah tandu oleh beberapa orang ketika mengelilingi Ka’bah. Tubuhnya lumpuh dan lemah. Ketika sampai di sumur Zamzam aku sempat menghampirinya dan meletakkan kepingan emas di tangannya. Lalu aku menanyakan soal pernikahanmu. Dengan suara lirih dan mendongak ke arah langit sembari memandang bulan sabit dia menjawab, “Perkawinan anakmu akan berlangsung saat bulan sabit itu menjadi purnama.”

Baca Juga  Shalahuddin Sang Pemersatu Umat Islam dan Pendiri Dinasti Ayyubiyah

Waktu terus berganti. Pergantian sabit ke purnama terus berputar. Untaian kalimat indah dari ayah ibu Raithah seperti omong kosong. Doa yang dipanjatkan pada berhala Hubal maupun ucapan dukun perempuan tiada yang terkabul. Penantian Raithah seperti hanya impian belaka. Bahkan, sampai ayahnya menutup mata.

Kedatangan Tamu Saudara Ibu

Pada suatu pagi yang cerah tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Setelah pintu dibuka, betapa terkejutnya ibu Raithah karena tamu yang datang adalah saudara kandungnya yang belasan tahun tidak bertemu. Saudaranya ini telah lama mengikuti suaminya tinggal di perkampungan Bani Tamim. Ia datang dengan membawa serta putra kesayangannya yang sangat tampan, Sakher namanya. Kira-kira berusia dua puluh tahun.

Kakak adik ini berpelukan mesra. Lalu, saudaranya itu memberi isyarat pada putranya agar masuk. “Ini anakku Sakher,” sang ibu memperkenalkan putranya tersebut. Raithah dan ibunya menyambut hangat kedua tamunya itu.

Mendengar bibinya menyebut nama Sakher, bergetarlah hati Raithah. Inikah lelaki yang lama ia nantikan kehadirannya? Apakah laki-laki ini yang akan menikahinya? Mereka berdua diperkenalkan dan saling menyapa. Singkat cerita, kedatangan bibi Raithah ini adalah dalam rangka meminang dirinya untuk Sakher.

Dalam perjalanan pulang, ibu Sakher terus membujuk putranya agar mau menikah dengan Raithah. “Memang wajahnya tidak terlalu menarik, tapi hartanya banyak. Dengan ini kamu akan memilikinya dan terbuka jalan bagimu untuk menjadi orang kaya. Gunakan harta itu untuk modal berdagang. Setelah itu kamu bisa kawin lagi dengan gadis lain yang kamu sukai. Kamu bisa menggunakan hartanya untuk apa saja yang kau inginkan. Ingat, jangan sampai harta Raithah lepas dari tanganmu,” tutur ibunya menasehati panjang lebar.

Raithah Menikah dengan Sakher

Tak lama setelah pertemuan itu, keluarga Sakher kembali datang untuk melangsungkan pernikahan Sakher dengan Raithah. Meskipun tanpa didampingi ayah dan ibu, Raithah tetap bahagia karena penantian panjangnya telah berakhir. Demi meluapkan kegembiran dan rasa syukurnya, Raithah pergi ke Ka’bah untuk mempersembahkan sesajen kepada berhala. Di sisi lain, kegembiraan Sakher bukan atas pernikahannya dengan Raithah, namun lebih karena  kematian ibu Raithah. Dengan demikian,  akan mudah mewujudkan niat jahatnya untuk mengeruk harta Raithah.

Baca Juga  Ketika Suami Tercinta Tutup Usia

Suatu waktu, sepulang dari Ka’bah ia segera menemui Sakher suaminya. Ada yang janggal dari tingkah suaminya. Raithah bertanya-tanya, mengapa Sakher tampak sangat sedih. Apakah Sakher merasa bosan bersamanya? Atau ada sesuatu yang tengah ia pikirkan? Sakher menjawab bahwa ia ingin pergi berdagang ke Syam untuk mendapatkan keuntungan besar, namun tidak mempunyai cukup modal. Raithah mengatakan bahwa hartanya cukup banyak sehingga tidak perlu khawatir. Akhirnya, ia mengizinkan Sakher untuk pergi berdagang ke Syam dan memberi bekal secukupnya.

Keesokan harinya, bersama dengan kafilah yang akan berangkat ke Syam, Sakher meninggalkan Kota Mekah. Ia meninggalkan Raithah seorang diri. Sampai waktu yang dinanti, ia tidak pernah kembali.

Raithah Menyusul ke Syam

Raithah semakin curiga dan cemas. Apa sebenarnya yang terjadi pada Sakher. Apakah ia telah meninggal? Atau terbunuh karena dirampok? Pertanyaan-pertanyaan yang tak kunjung ada jawaban itu mendorong Raithah segera menyusul Sakher di perkampungan Bani Tamim. Ia ingin segera mengetahui keadaan sebenarnya.

Setibanya di perkampungan Bani Tamim, Sakher mengaku  bahwa ia tertahan di sana karena orang mencuru perbekalannya. Raithah bertanya, jika demikian yang terjadi, kenapa ia tidak segera memberitahunya. Namun, betapa terkejutnya Raithah ketika mendengar jawaban dari sang suami. Sakher mengatakan bahwa ia bukan lagi suami Raithah. Mengapa pula ia harus kembali ke Thaif. Bahkan, ia mengejek Raithah bahwa atas alasan apa ia harus menghabiskan masa mudanya bersama wanita tua seperti Raithah. Mendengar perkataan Sakher yang menyakitkan tersebut tiba-tiba pandangan Raithah gelap, lalu ia jatuh pingsan.

Terbayang betapa sakitnya perasaan Raithah. Ia menanggung malu, merasa terhina dan ingin marah. Setelah siuman, ia memanggil-manggil nama Sakher. Orang-orang yang mengerumuninya berkata bahwa Sakher telah diusir oleh kaumnya karena menjadi berandal dan berbuat onar. Bersama para bandit, Sakher telah meninggalkan perkampungan Bani Tamim dan tidak akan berani kembali lagi.

Kembali ke Mekah dan Berputus Asa

Dengan perasaan berkecamuk Raithah kembali ke Mekah. Hari-hari ia lalui kembali dengan hampa, tiada lagi yang dapat menjadi sandaran pelipur lara. Ayah ibunya telah tiada. Suami pun tidak mau bertanggungjawab atas kepedihannya. Ia kerap mengurung diri. Menutup rapat pintu kamarnya. Melampiskan kekesalannya dengan mogok makan dan minum. Makin hari tubuhnya makin lemah.

Baca Juga  Obrolan Gabut tentang "Minta Maaf"

Suatu hari, untuk melampiaskan kekosongan hatinya itu Raithah meraih seutas  benang dari bulu domba dan alat pemintal milik ibunya. Segenggam bulu domba dipintalnya menjadi benang. Ketika malam telah datang, ia nyalakan lampu agar sekitar terasa benderang, namun tidak dengan batinnya yang tetap terasa gelap.

Ketika apa yang ia pintal itu telah terbentuk, apakah akan dijadikan kain atau pakaian, ia bertanya lagi kepada dirinya. Untuk apa kupintal benang-benang ini? Andai telah jadi kain dan pakaian, siapa yang akan memakainya? Apakah ia akan memakainya sendiri? Tetapi untuk apa ia berpakaian dan berdandan? Ataukah untuk anaknya? Dengan siapa ia akan memiliki anak. Atau akan ia hadiahkan pada teman-temannya?

Ah, pertanyan yang membingungkan bagi diri Raithah. Karena kebingungan, ia ambil kembali benang yang telah dipintal dan dirajutnya itu, lalu diurai seperti sedia kala. Ia putus-putus menjadi tak berbentuk.  Ia lakukan hal itu secara terus menerus –memintal lagi, lalu menguraikan kembali. Ia rajut, lalu ia lepaskan lagi rajutannya. Apa yang Raithah lakukan menjadi sia-sia belaka.

***

Kisah Raithah ini memberikan pesan penting kepada kita. Pertama, pergi tanpa memberikan kabar dan kepastian merupakan sebuah sikap yang menunjukkan rendahnya komitmen moral seseorang, lebih-lebih jika ia telah menetapkan sebuah janji. Kedua, dalam kasus tertentu mengkhianati janji akan berdampak pada sisi-sisi kemanusiaan seseorang: emosi, melakukan perbuatan sia-sia, dan putus asa.

Oleh karena itu, apa yang sekarang kita kenal sebagai ghosting sejatinya ialah ketiadaan komitmen seseorang untuk menepati janji. Hal ini sebagaimana Sakher lakukan kepada istrinya, Raithah –sang perempuan pemintal benang. Al-Qur’an pun mengabadikan cerita kepiluan Raithah ini sekaligus memberi pelajaran bagi manusia tentang pentingnya menyempurnakan janji.

“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali, kamu menjadikan sumpah (perjanjian)mu sebagai alat penipu di antaramu, disebabkan adanya satu golongan yang lebih banyak jumlahnya dari golongan yang lain. Sesungguhnya Allah hanya menguji kamu dengan hal itu. Dan sesungguhnya di hari kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan itu.” (Q.S. An-Nahl: 92)

Bagikan
Comments
  • itakustari Atjep Kusmana

    ماشاء الله تبارك الله
    الحمد لله رب العالمين
    اللهم صل على سيدنا محمد وعلى اله وصحبه وسلم تسليما
    جزاكم الله خيرا كثيرا
    والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

    Maret 12, 2021
  • Nurul Chusna

    Wow…bagus&inspiratif bu nyai…👍

    Maret 13, 2021
Post a Comment