Lakuna
Pagi ini, langit terlihat indah karena dirinya sendiri. Aku tersenyum tanpa sadar saat angin mulai mengusikku lembut. Ah, kupu-kupu itu saja terlihat girang dengan segala keindahannya. Andai aku bisa seperti mereka, terbang ke segala arah tanpa khawatir dengan apa yang terjadi. Terkadang, merasa bodoh amat dengan kehidupan itu perlu bukan?
“Cessa, ngapain di situ?” suara sahabatku membuyarkan segala lamunanku.
Cassandra adalah namaku, tapi dia lebih memilih memanggilku dengan nama Cessa. Katanya sih lebih simple saja.
“Jes, kalau kamu dilahirkan kembali di kehidupan selanjutnya, kamu ingin menjadi apa?” tanyaku kepada Jessica. Si cantik yang terlihat selalu bahagia, padahal aku tahu jika setiap malam dia menangis tersedu.
“Emm…Aku ingin jadi kupu-kupu saja. Lihat, mereka terbang tanpa harus memikirkan apa yang mereka lakukan, apa yang akan mereka hadapi. Mereka seperti selalu terlihat bahagia,” jawab Jessica sambil memperhatikan kupu-kupu yang terbang tanpa tujuan.
“Hei, tidak bisa! Akulah yang akan menjadi kupu-kupu!” ucapku sambil melangkah mendekati kupu-kupu yang sedang hinggap di bunga.
“Kalau begitu, kita bisa menjadi sahabat lagi di kehidupan kita selanjutnya. Terbang tanpa tujuan dan berhenti tanpa khawatir dengan segala hal. Melakukan apapun yang kita mau tanpa takut dengan lain halnya,” jawab Jessica sambil tersenyum menatap seekor kupu-kupu yang berhasil kutangkap.
“Kenapa kita harus menunggu kehidupan selanjutnya jika sekarang saja kita bisa seperti mereka?” ucapku semangat.
“Benar sekali! Iya, kamu benar. Astaga, kenapa aku tidak terpikir sebelumnya?” ucap Jessica sambil tertawa dan melangkah mendekatiku.
“Hai, kupu-kupu cantik! Terimakasih sudah muncul di hadapan kami. Sekarang, terbanglah kamu sesuka hatimu! Jangan pedulikan hal-hal yang tidak berpihak kepadamu,” ucapnya kembali sambil melepaskan kupu-kupu yang aku tangkap.
Setelahnya, kita kembali ke dalam rumah dengan segala harapan dan mimpi baru. Tapi, tanpa kita sadari kupu-kupu tadi kehilangan arah dan terperangkap tanpa tau jalan keluar.
*
Sebenarnya, kita bertemu di situati yang sama dan merasa kalau kita senasib. Banyak hal yang telah kita lalui bersama seperti manis pahit kehidupan. Kita sama-sama tidak dianggap ada oleh keluarga kita. Sama-sama dipojokkan karena tidak bisa seperti apa yang mereka inginkan. Hingga kami bertemu di kampus yang sama dengan bekal kita sendiri. Sampai saat ini kita telah sampai di semeter 5 yang menurut kita berat.
Sebagai seorang anak perempuan yang menginjak dewasa sulit bukan? Menghidupi kehidupan sendiri dan tidak pernah dicari oleh keluarga? Makan seadanya, tinggal di tempat seadanya dan apapun serba seadanya. Untung kami sama-sama menerima Bidikmisi Prestasi yang cukup membantu kehidupan kita.
“Baiklah, hari ini kita harus hidup layaknya kupu-kupu yang terbang tanpa tujuan. Meskipun kita tau, selama ini tanpa kita sadari kita memang benar-benar kupu-kupu itu!” ucap Jessica yang memang benar pada kenyataannya. Aku hanya tersenyum bodoh memikirkan kehidupanku selama ini.
Waktu berlalu dengan begitu cepat sampai kami tidak sadar sampai di penentuan hidup kami. Memang benar, hidup seperti kupu-kupu yang terbang tanpa tujuan menyenangkan. Benar, sangat menyenangkan. Buktinya, kami sampai di waktu ini. Waktu yang seharusnya membuat kami menangis bahagia bersama orang tua yang bangga dengan kami. Bukankah tidak semua orang bisa seperti kami?
“Hei, kamu tidak perlu sedih. Aku ada di sini untuk kamu. Kita, kita pasti bisa berhasil meskipun tanpa hadirnya orang tua kita di sini!” ucap Jessica yang tersenyum bahagia. Aku tau, dia hanya tidak ingin aku melihat tangisnya. Hidup bertahun-tahun dengannya membuatku tahu bagaimana dia sebenarnya.
“Ah, kamu benar. Untuk apa aku bersedih jika saat ini ada kamu yang selalu mendukungku?” ucapku berusaha kuat. Aku tau jika tidak hanya aku saja yang merasakan harus baik-baik saja.
*
Setelah acara selesai, kami merayakan kelulusan dengan cukup sederhana. Kami kemah di suatu tempat yang luas, mendirikan tenda, dan membuat api unggun. Tidak, itu bukan tempat yang jauh! Itu di samping tempat tinggal kami. Masih ingat kan ketika kami melihat kupu-kupu yang merubah hidup kami? Ah, benar! Dari mana kami mendapat rumah ini? Ini rumah peninggalan nenek aku, dia yang sangat menyayangiku. Tidak ada yang tau jika nenek meninggalkan rumah yang cukup luas.
“Aku ingin merasakan kehidupan yang lebih bebas lagi, Cessa,” ucap Jessica sambil menatap api unggun.
“Kehidupan yang bagaimana maksud kamu, Jes?” tanyaku yang penasaran dengannya.
“Entahlah! Aku ingin saja merasakan hidup yang berbeda. Dengan cara kita seperti ini, kita tidak bisa membuktikan kepada orang yang telah Membuang kita, Cessa,” jelas Jessica yang menatapku dalam.
“Lalu, apa rencana kamu, Jes?” tanyaku semakin penasaran.
“Sudahlah, hari ini kita harus merayakan kelulusan kita. Kita tidak perlu memikirkan hal lainnya,” ucap Jessica sambil tersenyum. Aku setuju saja dengan pemikirannya. Dan, bodohnya aku yang tidak memaksakan Jessica mencerikatan apa yang dia rencanakan.
Setelah hari itu, selepas ia berkata ingin kehidupan yang berbeda, dia jadi jarang pulang tepat waktu, biasanya juga tidak pulang. Ketika aku bertanya, dia hanya menjawab jika dia sibuk. Baik, di sini tidak hanya dia saja yang sibuk, aku juga. Dia jadi lebih banyak mengeluarkan uang entah itu bermanfaat atau tidak. Tidak masalah sih, itu juga hasil kerja kerasnya sendiri, bukan? Dia juga selalu ingat denganku.
*
Hari ini, aku keluar dengan kekasihku. Dia tau latar belakangku sebenarnya dan dia tetap selalu bersama denganku. Kami berjalan keliling dengan jalan kaki sebagaimana kebiasaan kita. Tapi, tepat di depan hotel, aku melihat Jessica dirangkul oleh laki-laki yang sepertinya lebih tua, seperti umur ayahnya sendiri. Aku tidak tahan, dan segera mendekatinya.
“Kamu ngapain di sini? Kamu ngapain!” teriakku marah.
“Ini yang kamu bilang hidup lebih bebas, hah? Kamu tau Jessica? Kamu udah jauh berbeda dengan Jessica yang aku kenal. Dan kamu tidak tau jika hidup yang terlalu bebas bisa menghancurkan diri kamu sendiri, Jes? Dulu aku setuju dengan apa yang kamu katakan. Tapi, kita tidak pernah tau jika kupu-kupu itu terjebak, Jessica. Sama seperti kamu saat ini yang terjebak di duniamu sendiri!” Ucapku sangat marah kepadanya.
“Apa yang kamu tau tentangku, Cassandra? Kamu tidak tau apapun tentangku. Berhenti mengusik kehidupanku mulai sekarang. Aku bisa mengurus diriku sendiri dan aku akan pergi jauh dari kehidupamu,” ucap Jessica kemudian sambil berjalan masuk ke dalam hotel.
“Kamu tidak apa-apa, Cessi? Sebenarnya aku sudah tau dari beberapa waktu lalu. Hanya saja aku tidak ingin terlibat dengan urusan kalian. Maafkan aku, Cessi,” ucap kekasihku.
*
“Tidak mengapa, aku yang salah selama ini tidak pernah berusaha bertanya apapun kepadanya. Aku juga selalu mendukung apapun yang dia lakukan. Sekarang aku sadar, jika kehidupan kupu-kupu tidak selamanya baik, dia mungkin mati karena tidak adanya tujuan di hidupnya. Aku bukan sahabat yang baik, kan? Aku bahkan tidak bisa berbuat apa-apa ketika aku pernah melihat dia diantar seseorang. Pikirku itu hanya rekan kerjanya saja. Aku sungguh sahabat yang buruk,” ucapku sambil menangis dan mendapat pelukan dari kekasihku.
“Sudah, tidak mengapa. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Sekarang, kamu tau jika kehidupan seperti kupu-kupu tidak sepenuhnya baik. Kamu harus bisa membawa diri kamu sendiri, Cessi. Tidak, jadilah dirimu sendiri, lakukan apa yang kamu inginkan dan buat semuanya bangga denganmu!” dia berusaha menenangkanku.
Mulai hari itu, aku tidak melihat Jessica lagi. Bahkan, dia mengambil barang-barangnya selagi aku tertidur. Dan terakhir kali, dia pergi keluar kota dan tidak pernah kembali. Benar, kehidupan kupu-kupu lebih berbahaya dibanding kita. Setiap langkah yang dia ambil, dia tidak tau jika ada bahaya yang mengancam. Benar, lakuna akan hadir jika di dalam diri seseorang tidak ada kebaikan. Seperti halnya manusia dan hewan yang berjalan dalm kegelapan.

Batas50
Mantap👍