Sekat
Aku tidak mengerti tentang perubahan itu. Selama 10 tahun pernikahan yang aku jalani seperti ini. Apa yang salah dengan aku? Apa yang salah dengan pernikahan ini? Yang aku pahami pernikahan adalah menyatukan 2 karakter manusia yang memiliki perbedaaan dan saling melengkapi. Memahami kelebihan dan kekurangan masing-masing, di situ ada saling menghargai dan menghormati. Saling membutuhkan. Tanpa sekat. Yahhh… Ada kata saling dalam menjalin suatu hubungan, walaupun itu bukan hanya ada pada sebuah pernikahan. Hubungan itu adalah saling mengkaitkan satu sama lain.
Seringkali aku menyalahkan diri sendiri dan berhipotesa bahwa ini karena aku terlalu mandiri. Sehingga dengan kemandirian ini suamiku merasa tidak dibutuhkan, suamiku merasa yakin aku mampu mengatasi setiap masalah yang aku hadapi. Aku selalu menyelesaikan apapun yang berkaitan dengan urusan rumah tangga, pendidikan anak, anak sakit, urusan ekonomi termasuk utang-utang yang kami miliki. Aku tak mau berkonfrontatif, selalu mengalah atas apapun, dan akhirnya aku akan menghadapi konsekuensi yang terjadi.
Sekat perbedaanku terlalu dalam. Mungkin hampir tidak ada persamaan. Pemahamanku tentang laki-laki adalah manusia egois, dan termasuk juga suamiku yang sangat egois membuat aku semakin frustasi. Semakin memupuk kebencian. Apakah ini yang namanya pernikahan? Pertanyaan ini terus memburu dalam hatiku. Tidak seindah drama korea yang sering aku tonton sebagai pelampiasan rasa sesak ini.
“Ibu kenapa nonton terus? “ kata anakku yang paling bontot.
“Asyiiikk ceritanya …seru!” jawabku sambil mata terus melihat ke layar laptop. “Harusnya itu akhir ceritanya jangan begitu, tapi asli itu tokoh utamanya memainkan karakter yang pas banget,” ucapku seolah aku seorang analis film.
“Aneh.. ibu dulu gak suka nonton drama korea, tapi sekarang nonton terus hampir setiap hari.” Anakku terus berceloteh.
***
“Ibu suka sama mereka, mainnya all out. Pendalaman karakternya luar biasa, improvisasi dan visualisasi emosinya bagus.” Jawabku sambil terus ujung mataku menatap teks subtitle terjemahannya. Dan hati kecilku menambahkan, aku ingin melupakan semua masalah yang ada; aku ingin mencari jawaban dari sela-sela adegan drama korea, aku ingin menghabiskan waktu dengan mencerna setiap dialog dalam drama itu.
Dialog tentang ekspresi marah seorang suami ketika mendapatkan istrinya membuka hp atau pun dompet suaminya. Ketika istri menghitung jumlah uang yang ada di dompet suami atau ketika mencari nomer hp dan obrolan di ruang chat WA. Aku rasa adegan ini menarik. Ternyata drama ini menggambarkan sebuah pernikahan yang memberi sekat ada ruang rahasia yang tidak boleh diketahui istri.
Asumsiku mengatakan omong kosong yang namanya pernikahan itu adalah peleburan dua rasa; gambaran sebuah hubungan yang terang benderang sehingga dapat dilakukan penetrasi pada ruang-ruang gelap sisi rahasia pasangan.
Ternyata rahasia masih menjadi bagian penting dalam pernikahan. Semakin dalam rahasia, maka akan semakin misterius sebuah pernikahan. Rasanya kontra dengan yang aku yakini, merahasiakan masa lalu itu perlu, tapi tidak merahasiakan apapun dalam semasa hubungan pernikahan.
“Bu itu dompet kok berubah posisi di saku celana bapak?” Tanya suamiku sambil menyimpan hp di ujung meja rias.
“Oh tadi dikira celananya mau dicuci.” Jawabku sambil memandang heran suami. Gak nyangka kok hal kecil itu ditanyakan.
“Tidak dibuka-buka dompetnya?” tanyanya dengan pandangan mata yang menusuk.
“Memangnya kenapa kalau dibuka?” tanyaku kembali tambah tak menyangka hal yang tak penting itu ditanyakan. Toh dibuka ataupun tidak dompet itu tidak menjadi masalah. Aku rasa apakah suamiku juga nonton drama korea yang tadi siang aku tonton. Mungkin suamiku meniru adegan dalam drama itu. Selama ini suamiku tidak pernah mempermasalahkan dompet.
***
“Ya harusnya jangan dibuka, itu tidak sopan!” tubuhnya mematung menyiratkan ketegangan dan kemarahan.
Aku semakin heran, suamiku berbicara tentang ketidaksopanan membuka dompetnya. Sejak kapan punya persepsi bahwa membuka dompet masuk kategori tidak sopan. Tidak ada dalam kontrak bahwa selama menjalani pernikahan ini tidak boleh membuka dompet pasangan. Dompet atau tasku mau dibuka silakan saja, toh tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Aku tidak tahu harus marah atau minta maaf. Akhirnya aku hanya diam dan bertanya dalam sekat hati, “maksudnya?”
Sebenarnya aku merasa tersinggung dengan masalah dompet itu, aku merasa sudah tidak ada kepercayaan lagi. Ini tentang sebuah kata ajaib yaitu kepercayaan. Mungkinkah di antara aku dan suamiku sudah tidak ada kepercayaan. Aroma ketidakpercayaan begitu kental.
Akupun pernah sangat tersinggung dengan kata-kata suamiku. “Masih tidak cukup uang yang dikasih?”. Uang suamiku hanya cukup untuk setengah kebutuhan, lalu suamiku tidak percaya semua dipakai untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Mungkin sekat ketidakpercayaan itu bermula dari situ. Dan dari situ juga mulanya, aku berikrar dalam hati untuk tidak meminta uang pada suami.
Aku konsisten tidak meminta uang untuk kebutuhan keluarga, tidak tahu dan tidak ingin tahu pendapatan suami, dipakai apa dan untuk siapa uang pendapatan suami. Mungkin ini sebuah kebodohan atau kemandirian. Entahlah.
“Ibu… malam ini bapak pergi lagi ada kunjungan ke luar kota.” Kata suamiku memecah ketegangan dan kekakuan gara-gara dompet. Tangannya yang kekar meraih tas ransel hitam yang langsung mendarat di punggungnya.
“Malam ini juga?”
“Iyah, pake bis saja biar bisa tidur selama perjalanan di bis.” Jawab suamiku sangat serius sambil tangannya mengambil hp yang berdering.
“Waalaikumsalam… oh gitu, okey… Teman-teman sudah mulai bergerak. Okey. Sesuai agenda.” Jawab suamiku terlihat lebih serius dari sebelumnya.
Itu pembicaraan terakhir suamiku satu minggu yang lalu. Sesaat aku tertegun melihat berita pada acara Morning News tentang penangkapan beberapa orang yang tersangkut dengan pelanggaran UU ITE.
***
Napasku terhenti sesaat sambil melihat pada beberapa foto yang terpampang di televisi. Yang di antaranya ada seorang laki-laki, yang memakai rangsel hitam dengan memakai baju biru bermotif batik. Jam tangan hitam yang sangat familier. Dia yang sejauh ini aku kenal. Lelaki yang satu atap tinggal denganku selama bertahun-tahun.
“Itu bener. Dia yang di TV itu adalah suamiku. Kenapa bisa tersangkut pelanggaran UU ITE? Kayanya Suamiku tak terlibat dunia politik atau dunia konspirasi.” Pikirku begitu. Sependek yang aku tahu, dia tidak mau masuk ke kancah politik, walaupun beberapa teman aktivisnya ada banyak yang masuk partai atau pemerintahan. Dan ada beberapa yang berkiprah di LSM dalam maupun luar negeri.
“Tuttt..tuttt…tutt…” suara dering hp yang tidak diangkat. Aku terus menghubunginya, ada 20 kali panggilan atau mungkin lebih, tapi tidak diangkat terus. Mungkin hpnya ada dalam ransel, saku, meja atau malahan ada di suatu tempat tertentu yang tersembunyi. Entahlahh… aku bingung harus melakukan apa. Haruskah aku pergi ke stasiun TV atau ke instansi yang lakukan penangkapan itu? Aku tidak tahu duduk persoalannya seperti apa? Aku bingung anak-anak masih kecil untuk diajak pergi ke luar kota.
Malam semakin sunyi senyap, terasa angin dingin menjalar menembus pembuluh darahku. Menepi menyumbat bilik-bilik oksigen di jantungku. Napasku tenggelam dalam malam penuh misteri dan kebekuan. Saat mataku tertumpu pada barisan chat WA di hpku. “ Urusannya semoga cepat selesai, besok lusa juga bapak pulang.”
Ada sedikit perasaan lega di hati, walaupun bongkahan tanya masih terus mengganjal. Apa yang dia lakukan? Apa yang dia sembunyikan? Adakah ini berhubungan dengan kami? Banyak pertanyaan yang belum menemukan jawabannya.
“Bapak kok lama sekali pulangnya ya Bu?” Pertanyaan si Bontot yang masih terngiang di telingaku, sepulang dari sekolahnya.
***
“Masih banyak pekerjaan yang belum selesai. Sibuk banget bapak kayanya, Nak.” Jawabku sambil memberikan segelas teh manis pada anakku. Sebenarnya aku agak khawatir, anakku melihat tayangan berita tentang bapaknya di TV. Aku nanti akan lebih sibuk mencari kata-kata untuk menjelaskannya. Ya karena akupun tidak tahu persis kejadiannya.
“Semoga bapak sebentar lagi pulang yahh.” Tempalku lagi menenangkan. Sengaja beberapa hari ini aku tidak menyetel TV. Untungnya memang anakku sedang ada ujian dan kesepakatannya tidak nonton TV selama ujian formatif tersebut.
Hari-hari berlalu seperti sebelumnya. Dia jarang ada di rumah karena banyak kegiatan di luar. Aku terbiasa dengan rutinitas pekerjaan rumah dan aku terbiasa dengan mengurus semuanya sendiri. Setelah shalat subuh aku biasanya langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan anak-anak sebelum ke sekolah. Tapi sesaat setelah menyibak kain hijau tirai area dapur, terdengar suara bel.
Aku tertegun melihat suamiku ada di depan pintu ruang tamu. Sejurus kemudian pintu pun terbuka dan langsung suamiku masuk sambil mengucapkan salam.
“Assalamualaikum…” Suaranya terdengar parau dan pelan.
“Waalaikumsalam.” Jawabku sambil langsung aku raih tangan suamiku. Dan suamiku membalas dengan pelukan sambil bicara perlahan, “Semuanya baik-baik. Bapak hanya ikut agenda reunian, tapi teman-teman lain ada pertemuan lanjutan untuk membuat gerakan konsolidasi dengan kelompok oposisi pemerintah.”
***
Aku belum sempat menjawab, suamiku langsung menuju kamar dan mengganti baju dengan pakaian kaos dan celana training. Langsung pergi tidur. Tampak tidurnya pulas, walaupun tanpa selimut. Aku hanya mampu berbisik lirih “Semoga yang perkataan suamiku itu betul. Semoga ini bagian terkecil dari kebenaran yang terungkap. Semoga ini bagian sekat yang terkikis” Tanganku langsung ambil selimut untuk menutupi bagian badannya.
Apapun dia masih tetap suamiku. Suami yang memilih sisi rahasia menjadi bagian dalam pernikahan kami. Suamiku yang membuat sekat ini ada di tengah-tengah hubungan kami. Jauh di lubuk hatiku masih bersyukur, cukup aku masih melihat suamiku terlelap dalam mimpinya. Cukup melihat dia pulang ke rumah dengan selamat. Setidaknya dia masih ada, walaupun dunia kami berbeda. Dunia yang penuh sekat, yang senantiasa mengetalase rasa benci dan rindu yang kami miliki.

Waryo Sela
Kisah yang sangat menyentuh.