f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
kearifan lokal

Belajar: Kearifan Lokal Tertinggi Kaum Pelajar

Kata kearifan lokal mungkin banyak orang hanya sebatas budaya yang diturunkan turun-temurun, mulut ke mulut yang tidak dapat dipisahkan dari masyarakat itu sendiri. Padahal jika kita mau mendalami makna kearifan lokal; maka seharusnya kita meruntutkan dari segi makna harfiah “bahasa” maupun epistemologi “istilah” walaupun hanya dari perspektif kita belaka.

Menurut pandangan penulis, kata kearifan sendiri berasal dari kata arif yang memiliki arti bijaksana, sedangkan lokal merupakan ciri khas dari daerah setempat. Entah kedua arti ini disebut sebagai cocoklogi semata; namun ini adalah sebagai bentuk berpikir radikal atau berpikir keakarnya terlebih pelajar juga harus melakukan hal yang demikian.

Selanjutnya, berbicara tentang pelajar atau kaum terpelajar sendiri mungkin kebanyakan kita yang mengaku pelajar; kini tugasnya hanya ulah handphone, rebahan, tawuran, atau mungkin main cinta-cintaan. Hal-hal demikian menurut saya sendiri adalah ndrawasi atau mengkhawatirkan.

Takutnya saya perilaku demikian menjadi semacam peninggalan yang diturunkan temurun dari generasi sekarang hingga generasi mendatang, dan terlebih takutnya hal tersebut dimaknai sebagai kearifan lokal.

Seperti saya bilang tadi, kata kearifan yang berasal dari kata arif memiliki makna bijaksana, pandai, cakap dalam berilmu; sedangkan lokal adalah daerah setempat atau bisa diartikan sebagai dalam negeri sendiri. Jadi dapat disimpulkan bahwasannya kearifan lokal merupakan kebijaksanaan yang dilandasi oleh ilmu sebagai ciri khas suatu kaum.

Salah Kaprah Kearifan Lokal

Seorang pelajar lazimnya saat berada di dalam kelas harusnya memperhatikan guru yang sedang mengajar bukan; bukan malah sibuk upload story, main HP atau berbalas ria pesan Whatsapp belaka, dan malah sibuk guyon dengan teman sebangku.

Seharusnya kalau mengaku pelajar entah dari sekolah, madrasah, universitas, hingga organisasi manapun harusnya menerapkan konsep memperhatikan wulangan guru. Itulah makna seorang pelajar. Apalagi jika kita membahas tentang tingkah mahasiswa yang di dalam kelas yang tidak memperhatikan keterangan seputar teori, konsep dan aplikasi dosen saat menjelaskan di depan kelas.

Baca Juga  Membebaskan Diri dari Penjara Toxic Marriage

Memang benar tidak semua pelajar berperilaku demkian, tapi ya tidak semua pelajar tidak berperilaku yang demikian pula kan? Maka dalam tulisan ini saya hanya ingin mengingatkan tentang makna kearifan lokal bagi pelajar itu sendiri.

Seharusnya sebagai seorang pelajar sebelum dengan suara lantang disertai urat dalam leher berbicara ngalor-ngidul tentang kearifan lokal; dan hanya berhenti pada kata budaya yang sebatas retorika. Maka selayaknyalah kita sebagai orang yang terpelajar, mengatakan dengan lantang kembali bahwa kearifan lokal pelajar ya adalah belajar sebagai budaya kita.

Ndakik-ndakik Membahas Kearifan Lokal

Ndakik-ndakik berbicara kisruh politik, sosial dan budaya tanpa dilandasi oleh ilmu, maka hanya menimbulkan omongan yang unfaedah bukan. Seringkali penulis merasakan bahwa kita terlalu jauh berpikir sampai membuat otak tidak dapat mencerna dengan baik akan peristiwa yang dibahas karena saking rumitnya.

Hal ini diakibatkan oleh tingkah pelajar yang menyepelekan konsep literasi secara sistematis; yang di antaranya adalah membaca, diskusi, ikut kajian, dan menulis. Saat kita mau mengulik sisi historis asal mula Islam tentunya kita akan mengerucutkan kepada Nabi Muhammad Saw.

Nabi Muhammad Saw. saja pada awal mula akan menerima wahyu kenabian juga diperintahkan oleh Allah Swt. lewat perantara malaikat untuk membaca; atau dalam bahasa arab dikenal sebagai iqra’ atau juga ditashrifkan menjadi qaraa-yaqrau-qiraah.

Kata iqra’ sendiri memiliki arti bacalah, Nabi Muhammad Saw. yang dijamin segala ucapan dan perilakunya mendapatkan bimbingan langsung dari Allah Swt. masih juga disuruh membaca dan terus membaca. Apalagi kita yang masih banyak dengan kebodohan melupakan salah satu hal terpenting, yakni membaca.

Membaca memiliki makna sebagai suatu pembelajaran, maka tak heran bila ada sebuah kata yang masih kita lestarikan hingga saat ini; yakni membaca adalah jendelanya ilmu dan dunia. Artinya membaca dapat membuka pemikiran kita yang disertai dengan beragam imajinasi yang fenomenal.

Baca Juga  Menjadi Orang Tua Asyik dalam Mengasuh Anak

Tentunya membaca tak hanya sebatas membaca buku lantas usai; lebih daripada itu, membaca juga tidak dapat diartikan sebagai kegiatan tekstual belaka. Membaca juga dapat diartikan sebagai gerakan membaca gejala sosial atas beragam fenomena yang terjadi di lingkungan masyarakat.

Dengan membaca secara teksual ataupun secara gejala sosial tentunya kita dapat membuat ide dan gagasan sebagai solusi atas permasalahan negeri yang kita cintai ini bukan? Dengan membaca pemikiran manusia semakin terbuka serta membuat diri semakin produktif dan menghasilkan banyak karya, terutama dalam bidang karya tulis.

Maka seharusnya, konsep kearifan lokal oleh para pelajar ini yang pertama dan ditanamkan dalam hati dan pikiran adalah menganggap kegiatan belajar adalah sebagai kearifan lokal tertinggi dalam hidup.

Belajar bisa darimana saja, boleh dari sekolah, organisasi hingga dalam perjalanan hiduppun kita sering menerima pembelajaran. Maka kegiatan literasi seperti membaca sebagai kajian tekstualis dan sarana diskusi atau kajian haruslah dimasifkan oleh para kaum terpelajar sebagai kearifan lokal yang diwariskan dari turun-temurun.

Bagikan
Post a Comment