Pengalaman Biologis Perempuan Menjadikannya Layak untuk Jadi Pemimpin
Perempuan dan kepemimpinan. Perempuan selalu layak dan pantas untuk ada di depan dan tidak melulu harus berperan dari belakang. Lantas apa kaitannya perempuan dan kepemimpinan?
Perempuan merupakan jenis kelamin manusia yang lain dengan laki-laki. Dalam bahasa Sansekerta kata perempuan berasal dari kata “Per”, “Empu”, dan -an. Per, memiliki arti makhluk, dan empu yang berarti mulia, tuan, mahir. Jadi, dengan kata lain perempuan adalah makhluk yang memiliki kemuliaan atau kemampuan. Mulia secara kedudukan dan mampu secara kepemimpinan.
Kepemimpinan berarti sosok pemimpin yang berjiwa leadership, di mana seseorang yang bisa mempengaruhi orang lain. Dalam arti luas, seorang pemimpin dapat mengajak, mengoordinasikan, memonitoring orang lain dalam suatu kepentingan tertentu, kemudian bisa menjadi panutan, pembimbing, dan pendukung orang di sekitarnya. Serupa dengan filosofis yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara : Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tutwuri Handayani. Ketiga kalimat tersebut artinya adalah “di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan”.
Perempuan adalah Mahkota
Mahkota merupakan simbol. Di mana mahkota ini selalu dikenakan di atas kepala. Secara tidak langsung mahkota ini penting dan posisinya lebih tinggi dari kepala. Tokoh yang selalu mengenakan mahkota adalah para raja, ratu, atau dewa. Mengandung simbol yang luar biasa; mahkota merupakan simbol atau lambang kekuasaan, legitimasi, keabadian, kejayaan, kemakmuran, kejayaan, dan kewibawaan.
Mahkota selalu identik dengan sosok yang istimewa, begitu juga perempuan. Bagaimana tidak? Perempuan dari lahir sampai meninggal dunia pun selalu menarik perhatian banyak orang. Teringat zaman Nabi Muhammad Saw, zaman jahiliyah, zaman di mana Islam belum hadir dan kehadiran perempuan di dunia pada zaman itu selalu diburu, dicari, dan akan dibunuh secara kejam dengan dikubur hidup-hidup.
Seperti diungkapkan Khalifah Umar Ibn Khattab RA. Sebelum memeluk agama Islam, lahirnya seorang anak perempuan dalam sebuah keluarganya, bagaikan ‘aib’ bagi keluarga. Apalagi bila mereka mempunyai kedudukan terhormat dalam kelompok masyarakat. Karena itu, demi menutupi aib-nya, anak perempuan yang baru dilahirkan harus dibunuh. Kalau tidak, anak perempuan di zaman pra-Islam ini hanyalah menjadi pemuas kaum pria. Ia wajib melayani kehendak pria, termasuk bapaknya sekalipun.
Perempuan yang selalu terkait dengan tiga -ur: sumur, dapur, dan kasur menjadikan perannya terbatas dan cukup di dalam rumah saja. Pandai membersihkan kamar mandi, mencuci baju, dan hal lainnya yang berkaitan dengan sumur. Cakap dalam mencuci piring dan memasak. Lihai dalam ranjang, memberikan pelayanan yang enak di kasur. Dalam pandangan masyarakat perempuan, hanya alat penerus generasi dan semacam pembantu rumah tangga serta pelepas nafsu seksual lelaki.
Pengalaman_pengalamn Biologis Perempuan
Saat tumbuh remaja, perempuan beranjak dewasa dengan tanda mengalami menstruasi (haid), sedangkan laki-laki tidak. Banyak sekali tanda-tanda yang perempuan perempuan saat beranjak dewasa, bahkan lebih banyak ketimbang laki-laki. Perempuan mengalami haid rutin selama sebulan sekali, dengan jangka waktu haid 3-7 hari. Rasa sakit yang tak pernah laki-laki rasakan, tetapi juga mendapat keistimewaan tersendiri yaitu tidak perlu melaksanakan solat dan memegang Al-Qur’an.
Setelah dewasa, laki-laki akan melemar dan meminang. Kemudian dalam berumah tangga, sosok perempuan menjadi serba bisa dalam segala urusan. Ibarat kata istri bisa hidup tanpa suami, namun suami tidak bisa hidup tanpa istri. Peran perempuan dalam sebuah keluarga lebih banyak dan kompleks daripada laki-laki. Buktinya, kebutuhan suami selalu saja istri yang bantu, istri yang dampingi, dan istri juga terlibat di dalamnya.
Lebih luar biasanya lagi, perempuan hamil 9 bulan 10 hari. Merasakan sensasi yang luar biasa, membawa perut besar dan berat di mana dan ke manapun ia berada. Pengorbanan seorang perempuan yang dalam hal ini biasa kita sebut ibu. Tergambar heroik dalam mengandung buah hatinya, makan tidak enak, berjalan sakit, duduk tidak nyaman, tidur pun tidak nyenyak, itu semua ibu rasakan saat hamil. Apalagi saat menjelang kelahiran buah hatinya, rasa sakit, cucuran keringat, air mata, darah, dan pengorbanan menjadi satu. Pertaruhan antara hidup dan mati demi lahirnya bayi mungil yang masih suci.
Perempuan adalah mahkota yang istimewa. Banyak sekali kejadian, kisah-kasih, kegiatan, tumbuh kembang, dan apa-apa yang hanya terjadi pada perempuan. Sensasi yang perempuan alami selalu istimewa untuk menjadi perbincangan dan pembelajaran dalam kehidupan.
Jejak Rekam Perempuan Hebat Indonesia
Sejarah mencatat bahwa banyak sekali volunteer/relawan/pahlawan mudi Indonesia yang ikut andil dalam berjuang untuk Indonesia, untuk merebutkan kemerdekaan, untuk menggapai hak-hak perempuan yang sebenarnya harus diperhatikan dan dipenuhi. Tak hanya laki-laki, banyak tokoh hebat dari kalangan perempuan yang benar-benar membantu menyongsong peradaban dunia, seperti R.A Kartini, Cut Nyak Dhien, Cut Muthia, Siti Rahim, Siti Walidah, dan lain-lain. Kalau disebutkan semua 1000 kata masih kurang, begitu hebatnya perempuan.
R.A Kartini, tentu tidak asing lagi bagi telinga para penduduk nusantara. Perempuan hebat yang lahir di Pulau Jawa, tepatnya di Jepara dengan segudang prestasi yang ditorehkan dalam kamus bangsa Indonesia. Dilansir dari suarapantura.com, R.A Kartini menjadi seorang wanita yang memiliki pikiran dan gagasan yang melampaui zamannya dan menyuarakan pikiran; gagasannya untuk membela, bahkan merebut hak kaum wanita. Bersama dengan saudari-saudarinya yakni Kardinah dan Rukmini, tulisan Kartini banyak membahas soal perjuangan kaum wanita untuk memperoleh kebebasan, persamaan hukum, dan pendidikan yang layak setara dengan kaum lelaki.
Siti Walidah (Nyai Ahmad Dahlan), juga sudah tidak asing sekali dengan beliau, pahlawan Indonesia berdarah Muhammadiyah dan Aisyiyah ini turut menapakkan dan melangkahkan kaki menempuh Indonesia merdeka. Nyai adalah istri dari seorang pendiri Muhammadiyah, Ahmad Dahlan. Selain menjadi pahlawan Indonesia, Nyai Ahmad Dahlan juga menjadi tokoh emansipasi perempuan. Emansipasi di sini adalah memberi kebebasan dengan memastikan secara penuh ruang bagi perempuan untuk mengembangkan diri, selalu melibatkan perempuan, memberi hak sesuai semestinya, dan memberi kesempatan untuk memimpin.
Siti Walidah dan R.A Kartini adalah dua perempuan yang mewakili tokoh pahlawan perempuan yang lain; karena dengan dua perempuan hebat ini, kedudukan dan keberadaan perempuan lebih disegani dan haknya pun terpenuhi. Sudah barang tentu, perempuan menjadi luas jangkauannya dan mereda stigma yang berkeliaran mengenai isu perempuan.
***
Di akhir tulisan ini, penulis akan mengajak pembaca untuk mengulik sosok Buya Syafii Maarif yang belum lama ini meninggalkan kita. Beliau adalah sosok laki-laki yang turut menggelorakan perempuan agar mendapatkan hak yang sama dengan laki-laki, atau dengan kata lain kesetaraan gender. Buya Syafii sangat setuju dan mengiyakan bahwa perempuan sanggup dan bisa menjadi pemimpin dan bersikeras melibatkan perempuan dalam mengambil kebijakan, baik bersifat pemerintahan atau organisasi.
Platform yang penulis sukai adalah Instagram milik rahmadotid/@rahma.id karena selalu memuat nama perempuan. Isu keperempuanan sering mereka angkat. Satu hal yang penulis merinding membacanya, ketika RahmaID mengutip perkataan Buya Syafii. “Jika ada kaum laki-laki yang merendahkan dan menghina perempuan, jelas mereka adalah jenis manusia yang berada di luar wilayah peradaban. Akan tetapi, untuk tetap memuliakan, kaum perempuan harus pula tetap menjaga martabat dan kehormatan dirinya,” tutur Buya Syafii dalam unggahan rahmadotid.
Oleh karena itu, lahir dan hadirnya sosok perempuan bukan tanpa alasan, Allah Swt. sudah mendesain sedemikian rupa mulianya perempuan. Perempuan adalah mahkota, dan sepatutnya mahkota itu ada di atas kepala. Mahkota adalah perangai yang selalu dipakai di atas kepala seorang raja atau ratu. Ratu ini berperan penting dalam memajukan daerah kekuasaannya. Itu artinya, perempuan bisa menjadi garda terdepan untuk mengambil alih posisi menjadi seorang pemimpin, terkhusus memimpin sebuah perkumpulan dalam lingkup kecil atau lingkup besar.

Rezza Fahlevi berkelahiran Pekalongan, Alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta.Ketua PW IPM Jawa Tengah Bidang PIP.
