Seiring dengan derasnya laju revolusi 4.0, roda konsumerisme masyarakat dunia juga melesat secepat cahaya, lebih dari masa-masa sebelumnya. Merencanakan belanja barang A sampai Z. Engga papa lah, sekali-kali. Padahal kenyataannya tidak demikian, pola seperti itu kerap terulang hingga beberapa kali, pada bulan-bulan berikutnya. Yang bahkan, keluar jauh dari perencanaan keuangan yang telah disusun sebelumnya. Tentu, pola hidup seperti ini tidak dianjurkan bagi umat Islam. Sebagai upaya ngeremin pola hidup konsumerisme, dalam Islam terkenal istilah Zuhud. Sebuah seni agar menjadi manusia minimalis.
Mengenal Zuhud
Secara etimologi, Zuhud berasal dari zahada atau mengosongkan. Sedangkan secara terminologi, yakni raghaba ‘ansyai’in wa tarakahu yang artinya adalah tidak tertarik terhadap sesuatu dan bersedia meninggalkannya. Atau dalam pengertian universalnya, zahada fi al-dunya yaitu mengosongkan diri dari kesenangan dunia untuk beribadah kepada Allah Swt. Menurut Wahib bin Ward, Zuhud adalah tidak merasa putus asa tatkala harta benda dunia terlepas dari genggaman dan tidak merasa senang ketika ada perkara dunia yang datang. Pengertian tersebut menjadi pengertian yang paling tepat diterapkan dalam konsepsi decluttering ini. Dengan makna lain untuk mengeluarkan manusia dari jeratan konsumerisme tiada ujungnya.
Zuhud bukanlah semata-mata meninggalkan segala sesuatu yang berkaitan dengan dunia, hanya untuk fokus ibadah kepada Allah. Zuhud menjadi formulasi perintah yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, hal tersebut terkandung dalam Q.S. An Nisa ayat 77:
“Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sedikit dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa [mendapat pahala turut berperang] …'” (QS. An-Nisa [4]: 77).
Dari ayat tersebut, bisa kita pahami betul bahwa hakikat mutlak dari Zuhud adalah dengan meninggalkan kelebihan dunia serta mengharapkan akhirat. Tingkatan tertinggi dalam Zuhud yakni dengan tidak berharap lebih terhadap dunia beserta gemerlapnya, selain pada Allah Swt. Menerapkan konsepsi Zuhud adalah bersikap minimalis. Tidak mengeluarkan harta untuk membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan. Sikap ini sebenarnya membawa manusia untuk tidak serta merta mengalir dalam trend dunia. Sehingga, Zuhud menjadi pola hidup yang sudah semestinya bisa diimplementasikan oleh setiap manusia dalam menjalani kehidupannya.
Meskipun demikian, Zuhud mengajarkan kepada manusia untuk tidak perlu mencintai dunia sedemikian indahnya. Perkara dunia hanyalah untuk mengantarkan manusia pada kehidupan akhir, yakni akhirat. Itulah mengapa tidak ada ramuan khusus bagi manusia untuk mencintai dan menetap lama di dunia.
Mengenal Decluttering
Mengutip dari kamus Oxford, Decluttering diartikan sebagai usaha mengemasi atau menyingkirkan barang-barang yang tidak lagi difungsikan atau tidak terpakai. Baik itu di asrama, di rumah, atau di kos-an. Usaha ini tidak dengan serta merta menyingkirkan barang dalam artian membuangnya. Tapi dengan cara menyortirnya, melihat, memilah, dan menentukan. Gaya hidup decluttering ini mulai dikenal cukup populer melalui buku Marie Kondo yang berjudul The Lifechanging Magic of Tidyning Up. Dalam buku tersebut Marie Kondo mencoba menjelaskan bagaimana kita untuk menyingkirkan barang-barang yang tidak lagi dipergunakan atau yang tidak sparking joy atau memunculkan kebahagiaan. Secantik apapun barang yang kita punya, tentu tidak selamanya memiliki masa membahagiakan. Akan ada waktu bagi barang-barang tersebut untuk kembali berkelana, entah itu dengan dibuang, dibagikan kepada orang lain, diperjual belikan ulang.
Ada beragam cara dalam melakukan decluttering di antaranya dengan teknik empat kotak, packing party, dan minimalist game. Kendati demikian teknik empat kotak, adalah teknik yang tepat bagi pemula yakni dengan menyiapkan 4 kotak kosong guna mengelompokkan barang, yang sebelumnya sudah menentukan masing-masing kotak akan diisi dengan apa. Sebagai contoh kotak 1 akan diisi barang yang masih dimanfaatkan, tapi jarang dipakai. Kotak 2 akan diisi barang yang sudah tidak layak pakai dan akan dibuang. Kemudian kotak 3 akan diisi dengan barang yang layak pakai dan akan dijual. Terakhir, kotak 4 akan diisi dengan barang yang layak pakai dan akan diberikan kepada orang lain. Sehingga, barang-barang tersebut dapat dikategorisasikan dengan jelas.
Sedari kecil saya sudah jatuh cinta dengan kegiatan berkemas-kemas, menyingkirkan barang tidak terpakai, merapikan almari di hari libur, dan kegiatan menyortir lainnya; meskipun tidak amat pandai dalam pengelolaannya. Memang, awalnya sering orang lain anggap sebagai kecintaan yang sia-sia, seperti ngapain beres-beres mulu, eh jangan dibuang dulu disimpanlah, ga baik lho kalo barang-barang kaya gitu dibuang. Hingga akhirnya saya harus masuk ke pesantren, yang justru menjadikan saya jatuh cinta lebih jauh terhadap dunia berkemas-kemas, dan itu tetap menyenangkan.
Beranjaklah saya pada dunia yang lebih luas, yang pada akhirnya mengenalkan saya pada istilah decluttering. Setelah terus belajar tentang bagaimana konsepsi decluttering itu sendiri dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Saya jadi menyadari bahwa ada silent messages yang bisa saya pahami dari decluttering, yakni segala sesuatu yang saya miliki saat ini tidak akan saya bawa mati; apa pun itu sekalipun kaos kaki atau sepatu yang amat sangat saya cintai. Yang dalam Islam, mengalirlah satu pola hidup yang dinamakan zuhud.
Decluttering dan zuhud. Memang lahir dari dua kubu yang berbeda. Tapi manfaat dan tujuannya sama, yakni memberikan makna hidup tidak sekadar pencapaian memiliki barang serta tidak menggantungkan manusia dalam bayang-bayang kecintaan terhadap dunia. Meskipun demikian, namanya juga manusia yang hidup dalam gemerlap duniawi.
Tak ayal, acapkali terbesit keinginan seperti bisa beli baju kekinian cardigan rajut macam orang-orang, padahal masih ada cardigan layak pakai, beli sneakers, padahal masih ada sneakers layak pakai, dan tentu masih banyak lagi keinginan beli ini dan itu. Yang diembel-embeli dengan buy now cry later, lebih baik nyesel beli dibanding nyesel engga beli atau mumpung ada promo, seolah-olah tingkat urgensi dari barang yang ingin kita beli itu tinggi. Padahal seharusnya mindset setiap kali hendak beli barang adalah rethink before you buy, untuk meminimalisir pola hidup konsumtif, karena kita dituntut untuk memikirkan matang-matangnya keputusan terlebih dahulu, sebelum akhirnya memutuskan untuk membeli. Sekaligus menghindari penyesalan apa pun ketika sudah memutuskannya.
Setidaknya ada dua hal sederhana yang terus saya pakai dalam menerapkan decluttering yakni,
Pertama, bahwa barang tidak selamanya mendefinisikan diri kita yang sebenarnya atau the real me seperti ingin dipanggil dengan sebutan cewek bumi, cewek kue, cewek seblak, cewek mamba, atau apapun itu. Poin pentingnya bukan pandangan orang lain terhadap apa yang kita kenakan, karena barang ya tetap barang. Selagi barang tersebut bisa digunakan sebagaimana baiknya, tidak merepotkan diri sendiri atau pun orang lain. Gunakan saja.
Kedua, bahwa memiliki atau menimbun barang terlalu banyak, hanya menghabiskan energi. Karena setiap barang yang kita miliki, masing-masing darinya terikat vibrasi kepada pemiliknya. Sehingga, tidak akan pernah berhenti energi kita yang terseret dari banyaknya tumpukan barang.
Barangkali tulisan ini tidak cukup kuat untuk memotivasi pembaca dalam menerapkan hidup yang minimalis untuk hidup yang zuhud. Akan tetapi, perlu terus dipahami bersama, bahwa segala sesuatu yang datang, pasti akan pulang, segala sesuatu yang pergi, pasti akan kembali. Sehingga, tidak ada kepastian yang mutlak bagi manusia untuk mencintai dunia beserta isinya.
