Berpikir ala Buya Syafi’i, Bertindak ala Buya Hamka
Bila dicermati realitas perkembangan zaman menggunakan batin kita secara mendalam, maka dapat ditemukan fakta pahit bahwa masyarakat modern –sebagai subjek peradaban– saat ini telah mengalami krisis kemanusiaan yang hebat. Secara ironis kita menyaksikan bahwa laju perkembangan zaman tidak berbanding lurus dengan tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan. Kemajuan zaman yang ditandai dengan hadirnya teknologi digital yang serba canggih nyatanya belum menjadikan manusia menemukan hakikat ontologisnya sebagai manusia. Justru di tengah arus modernisasi inilah, kesadaran individu akan hakikatnya sebagai manusia tenggelam dalam cara pandang kapitalistik yang tak manusiawi.
Di tengah kondisi tersebut, penting untuk kita merenungkan kembali realitas praktik beragama, bahwa umat beragama –utamanya di Indonesia– belum sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai keagamaan yang sejuk dan teduh (Qodir, 2021). Wajah kemanusiaan yang suram belum sepenuhnya terobati oleh nilai agama. Bahkan di titik tertentu agama –melalui penganutnya– justru semakin merunyamkan keadaan, terlebih ketika agama dipolitisasi secara ugal-ugalan oleh politisi tak bertanggung jawab yang berakibat pada rusaknya citra, nilai dan makna agama sehingga agama kerap tereduksi pada persoalan simbolik semata.
Akibat dari absennya nilai kemanusiaan, maka tak jarang beredar di media sosial berita korupsi, pembunuhan, penganiayaan, pencurian, kekerasan seksual, hingga kejahatan siber yang semakin memicu kecemasan. Di tengah porak-porandanya kondisi sosial kita, maka pertanyaan reflektif yang dapat diajukan ialah dimanakah peran elit-tokoh masyarakat? apakah kita telah mempraktikan nilai-nilai pancasila yang luhur? apakah praktik nilai keberagamaan kita telah membumi? Reaksi atas pertanyaan tersebut mendorong Budiman Tanuredjo (2025) membangun diskursus mengenai fenomena krisis keteladanan di Indonesia.
Mendayung di antara dua Tokoh Arif
Dalam lintasan sejarah bangsa Indonesia, kita telah banyak dianugrahi tokoh-tokoh bangsa yang berlimpah disertai pemikiran dan kebijaksanaannya dalam merajut keindonesiaan. Namun di tengah arus politik praktis, martabat pemimpin bangsa kita kerap tergadaikan dengan kepentingan elektoral dan kekuasaan jangka pendek sehingga mengabaikan warisan keteladanan dari tokoh-tokoh bangsa. Ketidakmampuan batin dalam merenungi sejarah mejadikan keteladanan tokoh bangsa kita hanya sekadar cerita inspiratif yang belum membumi. Romo Magnis Suseno (2014) menyatakan bahwa tanpa refleksi sejarah, bangsa akan mudah kehilangan arah moralnya. Di bawah rezim yang tunasejarah, tentunya suatu bangsa mengalami kesulitan untuk menjadikan sejarah sebagai bahan refleksi moral.
Melihat situasi kemanusiaan yang memprihatinkan, penulis mengajak pembaca untuk menelusuri kembali dua tokoh bijaksana yang menjadi guru bangsa, yaitu Ahmad Syafi’i Ma’arif atau Buya Syafi’i dan Abdul Malik Karim Abdullah atau Buya Hamka. Dua guru bangsa yang berdarah Minang itu dapat menjadi oase keteladanan di tengah kegersangan modernisme saat ini. Sangat tepat apabila kedua tokoh tersebut mendapat predikat ‘suluh bangsa’ karena dedikasinya dalam mendidik bangsa dengan nilai-nilai kemanusiaan untuk membangun bangsa berkeadaban melalui semangat religius-nasionalis yang menjadi dasar spirit perjuangannya. Pada tulisan ini, penulis tidak mendikotomikan kedua tokoh tersebut bahwa Buya Syafi’i lebih unggul diberpikir dan Buya Hamka dalam tindakannya. Namun keduanya memiliki gaya dakwahnya tersendiri dalam mengaktualkan nilai keislaman dan kemanusiaan.
Berpikir ala Buya Syafi’i
Tiga kata kunci merangkum pemikiran Buya Syafi’i: keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan. Banyak orang menyebut ketiga aspek ini sebagai ‘trilogi pembaruan’. Trilogi ini bertujuan melepaskan belenggu pemikiran konservatif fundamentalis dan sekularisme barat.
Buya membangun sintesis pemikiran ini melalui perjalanan intelektualnya, terutama saat belajar di Universitas Chicago. Di sana, ia mencari konsep keberagamaan yang relevan dengan situasi kebangsaan dan modernitas. Pertemuannya dengan Fazlur Rahman mengubah pemikiran Buya Syafi’i secara signifikan. Ia beralih dari formalisasi Islam menuju Islam yang lebih substantif (Nirwansyah, 2020).
Dalam konteks kemanusiaan, pemikiran Buya Syafi’i merujuk pada model berpikir inklusif, humanis, dan kosmopolitan. Ia menggunakan model ini untuk melihat pluralitas masyarakat Indonesia. Perbedaan identitas dalam pluralitas tersebut sering kali memicu gesekan sosial dan konflik horizontal di ruang publik.
Di tengah kondisi ini, Buya mengubah cara pandang beragama teosentris (berpusat pada Tuhan) menjadi humanis. Ia mendorong umat agar tidak beragama secara kaku atau dogmatis. Sebaliknya, umat harus lebih memperhatikan realitas kemanusiaan. Langkah ini lahir dari kegelisahan Buya. Menurutnya, persoalan agama terlalu sering membahas Tuhan, tetapi mengabaikan manusia (Shofan, 2023).
Pemikiran Buya Syafi’i juga mengedepankan kejernihan pikiran dalam menghadapi masalah. Sayangnya, masyarakat sering mendahulukan reaksi emosional saat merespons persoalan publik sehingga memperkeruh keadaan. Oleh karena itu, Buya mengingatkan masyarakat untuk memprioritaskan nalar waras. Nalar ini membantu kita membedakan hal yang benar dan keliru dalam merespons kenyataan (Putra, 2021).
Kepentingan politik juga kerap memprovokasi umat hingga memicu perpecahan. Padahal, Buya menegaskan bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin. Islam harus menampilkan wajah yang ramah, adil, dan santun. Dengan begitu, Islam menjadi lilin harapan untuk membangun negeri yang lebih baik (Ma’arif, 2009)
Bertindak ala Buya Hamka
Di tengah terpaan krisis sosial dan praktik beragama yang cenderung kontra-produktif, Buya Hamka membawa konsep tasawuf modern untuk merevisi konsep ajaran tasawuf yang dianggap melemahkan gerak manusia dan menjauhkan manusia dari kehidupan duniawinya dengan mengasingkan diri hanya untuk beribadah pada Allah. Tasawuf yang dimaksudkan Hamka ialah ajaran Tauhid yang mampu menghasilkan peningkatan budi pekerti dan pembersihan jiwa agar Islam membawa kedamaian dan kebahagiaan (Hamka, 2015). Artinya, Hamka menginginkan urusan agama tidak hanya berfokus pada urusan Tuhan semata, namun juga menghasilkan transformasi diri seorang hamba dalam menyikapi persoalan sosial.
Bertindak ala Hamka ialah bertindak berlandaskan budi pekerti dan jiwa yang suci sebagaimana nilai yang tertanam dalam konsep tasawuf modern yang ditulisnya. Nilai tersebut melahirkan kelembutan hati yang tercermin dalam tindakannya. Kelembutan hati Hamka ia tunjukan dalam sifat pemaaf dan tidak pendendam sebagaimana kisah ketika Hamka mendapatkan pesan (wasiat) dari Soekarno yang disampaikan melalui ajudannya untuk meminta Hamka memimpin sholat jenazah ketika Soekarno wafat. Lantas dengan mantap Hamka menerima amanah tersebut. Padahal di bawah rezim Orde Lama, Hamka dipenjara atas fitnah makar Pemerintah dan Anti-pancasila yang dilayangkan padanya (Muasyafa, 2019). Namun seluruh perlakuan buruk yang ia dapatkan dari rezim Soekarno melebur dalam kelembutan hati Hamka.
Dalam kisah lain, Hamka pernah diminta Astuti –anak gadis Pramoedya Ananta Toer– untuk memualafkan serta mengajarkan agama Islam kepada calon suaminya yang merupakan non-muslim. Ternyata Hamka dipilih sebagai ulama yang dirujuk untuk mengajarkan Islam kepada calon suaminya yang berdasarkan perintah dari Pram, karena Hamka dianggap satu-satunya Ulama yang mantap dalam membahas Tauhid. Padahal di tahun 1962, melalui rubrik Bintang Timur Hamka dituduh oleh Pram sebagai Plagiator dalam karyanya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk yang menjatuhkan reputasi Hamka. Namun permintaan maaf Pram kepada Hamka secara eksplisit ia lakukan dengan mengutus anak dan calon menantunya untuk belajar kepada Hamka yang kemudian disambut hangat oleh Hamka (I. Hamka, 2013).
Penutup
Kedua cendekiawan tersebut telah banyak meninggalkan jejak pemikiran dan keteladanan bagi republik ini. Keduanya menekankan pentingnya memadukan antara iman dan ilmu pengetahuan dalam praksis kehidupan berbangsa dan bernegara. Praksis tersebut menghasilkan nilai-nilai kemanusiaan yang tidak hanya sekadar wacana yang terus mereka timbulkan, melainkan keduanya berupaya mendorong gerakan kemanusiaan yang mewujud dalam aksi toleransi, keberagaman, persatuan, keadilan serta menghargai harkat dan martabat sesama manusia tanpa diskriminatif. Keduanya bergerak memandu umat untuk memperkuat energi spiritual yang bersenyawa dengan nilai kemanusiaan.
Mahasiwa S1 Ilmu Pemerintahan UMY. Instagram : Achmdbdri Facebook : Ahmad Baiduri.
