Refleksi 17-an : Menjadi Indonesia Tanpa Tetapi
“Mbak, dirimu nyaman dipanggil apa? Mbak, Kakak, Teteh, Ibu, Cici, atau …” Sebuah pertanyaan yang kerap ditanyakan, umumnya dalam sesi perkenalan komunitas. Saya sontak tertawa. “Apa saja boleh, bahkan nama saja juga nggak apa.” Semua tatapan, eh nggak juga, sih, beberapa senyuman malah mengarah ke saya. Ini bukan hal baru. Dulu saya bisa balik memelotot … Read more
