f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.
bahagia

Tidak Perlu Kaya untuk Bahagia

Dewasa ini hedosnisme, konsumersime dan tampil bermewah-mewahan telah menjadi lifestyle masyarakat. Bahkan sikap berlebih-lebihan dalam menjalani kehidupan, memaksakan diri untuk ikut arus trend kekinian kian marak di masyarakat kita. Orang menjadi sibuk dengan membeli barang-barang branded yang sejatinya tidak dibutuhkan. Mereka berusaha mengejar dan berlomba menyaingi teman dan kerabat yang telah membeli pakaian ini-itu, smartphone ini-itu dan banyak lainnya.

Tentu di atas bukanlah perilaku yang baik, alias jauh dari makna kesederhanaan. Mereka berbuat atau melakukan sesuatu tidak berdasarkan kemampuan dan kebutuhan mereka. Memahami makna kesederhanaan di zaman yang serba ‘hedon’ ini sangat penting agar bisa hidup seimbang. Tentu dalam prosesnya dibutuhkan menejemen keuangan yang baik, tidak sembarang melakukan pengeluaran. Akan tetapi memiliki skala prioritas, sehingga pengeluaran disesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan.

Makna Sederhana

Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (KBBI) sederhana bisa diartikan bersahaja atau tidak berlebih-lebihan. Artinya tengah-tengah, proporsional, menyesuaikan kemampuan dan kebutuhan. Menurut Ibnu Munabbih: “Boros adalah jika seorang berpakaian atau makan atau minumang-barang yang di luar kesanggupannya”. Sederhana sesungguhnya tidak tentang miskin dan kaya, akan tetapi tentang gaya hidup (lifestyle). Artinya setiap orang bisa berlaku sederhana atau sebaliknya baik ia kaya ataupun miskin.

Kesederhaan juga merupakan salah satu tema ajaran Kristen, menurut Thomas Aquinas, Tuhan adalah kesederhanaan yang tidak terbatas. Begitupun dalam ajaran agama Islam banyak ayat Al-Qur’an yang mengandung nilai kesederhanaan. Sederhana juga bisa diartikan tidak berlebih-lebihan, dan tidak mubadzir (membuang-buang) segala suatu. Hal tersebut telah diatur dalam ayat Al-Qur’an dengan berbagai macam konsep tentang arti kesederhanaan. Bahkan mulai dari hal-hal keseharian seperti makan dan minum umat Islam tidak boleh untuk berlebihan.

Baca Juga  Hampers: Antara Gengsi atau Peduli

“Makan dan minumlah, tetapi janganlah berlebih-lebihan; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan” (al-A’raf  31)

Itulah yang menjadi dasar bahwa manusia dituntut untuk menjalani kehidupannya secara sederhana dan seimbang. Menurut Buya Hamka dalam tafsirnya bahwa sikap boros dan berlebih-lebihan itu membawa celaka bagi diri sendiri. Dalam sebuah hadis: “Makanlah dan minumlah dan bersedekahlah dan berpakaianlah, tetapi tidak dengan sombong dan berlebih-lebihan. Karena Allah amat suka melihat bekas nikmat-Nya pada hamba-Nya.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Mardawaihi, Al-Baihaqi, dan Abd Bin Humaid).

Kesederhanaan juga erat kaitannya dengan rasa syukur. Rasa syukur sendiri memiliki dampak positif bagi mental atau jiwa seseorang. Salah satunya mampu meningkatkan self-esteem (menghargai diri). Menghargai dan meyakini bahwa apapun yang kita miliki saat ini tidak lain hanyalah titipan Tuhan. Selayaknya kita hargai dan syukuri dengan menerimanya dengan sebaik-baiknya.

Sederhana Melahirkan Syukur

Jiwa kesederhanaan mengajarkan manusia tentang rasa peduli, menghargai diri dan orang lain, menghemat dan bersyukur. Siapapun yang hidup dengan sederhana pasti ia mensyukuri setiap nikmat Tuhan dalam hidupnya. Rasa syukur itulah yang muaranya akan membawa orang sampai pada kebahagiaan jiwa yang sejati (The authentic happiness). Yakni diperoleh dari nilai-nilai kebaikan yang ada pada diri mereka sendiri, salah satunya adalah kesederhanaan.

Suri tauladan Rasulullah Muhammad Saw juga mengajarkan umat manusia secara umum dan umat Islam secara khusus tentang makna kesederhanaan hidup. Mulai dari makanan, minuman, pakaian hingga rumah dan isinya. Beliau sangat bersahaja, tidak ada dari barangnya yang mewah.

Ada sebuah kisah menarik tentang kesederhanaan Rasulullah. Saat Umar bin Khattab berkunjung ke rumah nabi, betapa kagetnya ia melihat nabi tidur di atas sebuah tikar sederhana. Umar bertanya: “Kenapa engkau menggunakan tikar itu ya Rasulullah? Padahal engkau bisa menggunakan permadani, pastilah lebih nyaman”.

Baca Juga  Tips Emak Tetap Happy Selama Pandemi

Nabi menjawab: “Apa urusanku dengan dunia? Permisalan antara aku dan dunia bagaikan seorang yang berkendaraan menempuh perjalanan di siang hari yang panas terik, lalu dia mencari teduhnya pohon beberapa saat, kemudian ia beristirahat di sana lalu meninggalkannya.” (HR. Tirmidzi)

Begitulah sederhananya Nabi Muhammad, sehingga beliau senantiasa mensyukuri apapun yang terjadi dalam hidupnya. Beliau pernah berkata:

“Mengabarkan atau menyebut nikmat Allah adalah salah satu tanda bersyukur. Meninggalkannya berarti kufur atau mengingkari nikmatnya. Barang siapa yang tidak mau mensyukuri nikmat yang sedikit sama artinya dengan tidak mensyukuri nikmat yang banyak. Barang siapa yang tidak mau bersyukur pada manusia sama artinya tidak bersyukur kepada Allah. Bersatu adalah rahmat, sementara bercerai-berai adalah azab.” (HR. Al-Baihaqi).

Rasa syukur adalah cara paling sederhana untuk memperoleh kebahagiaan. Dalam buku psikologi positif karya Imam Setiadi, menurut Robert A. Emmons seorang professor dan pakar peneliti tentang gratitude dari University of California: gratitude atau rasa syukur secara ilmiah terbukti memberi beberapa manfaat baik fisik, psikologis dan sosial. Beberapa manfaat secara psikologis di antaranya lebih bersuka cita, gembira, optimis dan bahagia.

Tidak Perlu Kaya untuk Bahagia

Bahagia adalah impian setiap manusia dalam perjalanan hidupnya. Semua cita dan harapan manusia pada ujungnya hanyalah satu yaitu mencapai kebahagiaan. Seorang Dalai Lama pernah berkata:

”I believe that the very purpose of our life is to seek happiness. That is clear. Whether one believes in religion or not, whether one believes in this teligion or that religion, we all are seeking something better in our life. So, I think, the very motion of our life is towards happiness.”

Baca Juga  Bahagia, Bukanlah Angka

Menurut aliran terbaru psikologi—psikologi posistif bahwa kebahagiaan sejati (authentic happiness) merupakan tujuan akhir semua umat manusia. Menariknya untuk mencapai bahagia tidak muluk-muluk harus kaya, memiliki mobil mewah, jet pribadi, rumah dengan harga miliaran, dan lain sebagainnya. Bahkan cukup dengan kita hidup sederhana bisa hidup bahagia. Seperti yang telah diuraikan di atas bahwa hidup nabi sangat sederhana dan selalu mensyukuri apa yang ada, nabi pun tetap bahagia.

Kebahagiaan sejatinya bukan tentang harta kekayaan,ataupun kemiskinan, akan tetapi pola pikir untuk selalu bersyukur atas nikmat yang ada. Lebih jauh dari pada itu, menurut Aristoteles bahwa a happy life is an eudaimonic life. Hidup bahagia bukan hidup yang bergelimang kesenangan, akan tetapi pengelolaan hidup dengan bijaksana sehingga terasa penuh makna. Seorang bisa miskin materi tapi belum tentu ia miskin secara hati, karena sejatinya kebahagiaan itu terletak di hati.

Bagikan
Post tags:
Post a Comment