Hampers: Antara Gengsi atau Peduli
Oleh : Hassanalwildan Ahmad Zain
Masyarakat Indonesia memang dikenal dengan keramahannya. Selalu menyunggingkan senyum, bahkan kepada orang yang belum dikenal sekalipun. Gaya interaksi inilah yang mungkin membuat banyak turis mancanegara menyukai Indonesia dan selalu ingin kembali.
Tak hanya kepada turis asing, masyarakat Indonesia juga ramah dan baik dengan sesamanya. Terbukti dengan banyaknya tradisi yang biasa dilakukan di hari-hari besar adat maupun agama. Salah satunya adalah budaya mengirim makanan ke tetangga dan kerabat dekat menjelang hari lebaran.
Ada banyak sebutan untuk tradisi saling memberi makanan ini. Mawakeun misalnya, sebutan untuk kebiasaan berbagi makanan saat lebaran yang ada di daerah Bandung dan sekitarnya. Menjadi hal yang paling ditunggu terutama di tahun 70-an hingga 80-an. Maklum, mengingat hidangan daging saat itu menjadi makanan mewah yang jarang dikonsumsi masyarakat.
Adapula Munjung, kebiasaan yang juga sering dilakukan oleh beberapa masyarakat Jawa Tengah. Tidak jauh berbeda dengan Mawakeun, mereka juga dianjurkan untuk mengunjungi kerabat dan tetangga dekat. Tak lupa dengan membawa makanan seperti ketupat, lontong, opor ayam dan sejenisnya.
Tidak hanya di pedesaan, hal seperti ini juga bisa kita temui di perkotaan. Tentu saja, isi bingkisan dan hantarannya sedikit berbeda. Isinya tergantung keinginan dan selera si pengirim. Kadang berisi kue kering, nastar, sirup, susu dan makanan serta barang lainnya. Hantaran ini biasa disebut dengan hampers. Beberapa tahun lalu juga biasa dikenal dengan sebutan parcel.
Bentuk Kepedulian Tanpa Perlu Bertemu
Hampers kini menjadi salah satu simbol silaturahmi antar umat muslim. Tanpa bertemu, kita sudah bisa menyampaikan niat kebersamaan di kala lebaran. Cukup memesan di toko atau penyedia jasa hampers, kemudian mencantumkan alamat si penerima. Bingkisan bisa langsung dikirim oleh penyedia jasa atau juga menggunakan ojek online. Hal yang mudah sekali, mengingat teknologi kini semakin maju.
Apalagi di tengah masa pandemi seperti ini. Banyak yang menggunakan hampers sebagai ganti dari kunjungan yang biasa dilakukan di hari raya pada tahun-tahun sebelumnya. Meski harus berjauhan dan melakukan social distancing, silaturahmi harus terus dilakukan, bukan? Selain untuk merayakan hari raya Islam, juga sebagai bentuk persaudaraan antar sesama umat.
Hampers Layaknya Merek Gawai
Meski omzet penjualan turun–dilansir dari Kompas.tv–hingga 70 persen, hampers masih menjadi primadona sekalipun di tengah pandemi korona. Dukungan teknologi juga membuat pemesanan dan pengantaran lebih mudah. Silaturahmi masih bisa terlaksana, kesehatan keluarga pun tetap terjaga.
Sayangnya, beberapa orang menilai bahwa tujuan tradisi mengirim hampers kini mulai bergeser. Mengirim bingkisan kini malah menjadi bagian dari gengsi setiap orang. Ada standar yang mengatur dan membuatnya memiliki nilai yang berbeda di mata masyarakat. Padahal tujuan paling utama dari berbagi adalah saling peduli agar bisa merasakan indahnya kebersamaan tanpa memandang kasta sosial.
Layaknya gawai yang memiliki sekat-sekat seperti logo apel kroak yang dinilai dari kalangan menengah ke atas, pengguna Sam**ng yang merasa lebih ketimbang android lainnya, serta gawai merek Cina yang tidak jarang dianggap sebagai kelas bawah. Pengkotak-kotakan seperti ini membuat orang bisa seenaknya menilai status orang berdasarkan benda dan produk yang dimiliki atau dikirim oleh si pemilik. Padahal tidak semua barang yang dimiliki menjadi representasi dari status sosial seseorang.
Begitupun dengan hampers, muncul standar-standar yang secara tidak langsung merusak esensi dari berbagi. Bingkisan yang berisi makanan ataupun kue-kue mewah dianggap mewakili golongan kalangan atas. Begitu pula sebaliknya, hampers yang tersusun dari makanan biasa dianggap sebagai representasi dari sikap dan nilai seseorang kalangan tertentu.
Selalu Ingat Niat Awal
Menukil dari hadis yang diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, disebutkan bahwa sedekah itu dapat menghapuskan dosa seperti air memadamkan api. Terlepas dari berbagai motif dibalik unggahan media sosial tentang hampers, tidak ada salahnya untuk selalu mengingat hadis di atas. Semua hal perlu dibersihkan dan disucikan termasuk harta dan hati kita.
Selain sebagai usaha untuk menyucikan diri, sedekah juga bisa memupuk rasa kepedulian sosial dan meningkatkan rasa syukur. Selalu beri bingkisan atau uang secukupnya bagi mereka yang membutuhkan. Utamanya orang-orang terdekat terlebih dahulu seperti saudara, kerabat, tetangga dan anak yatim.
Ketika muncul rasa riya, sombong ataupun gengsi, selalu ingat niat awal bersedekah –berbentuk parcel, bingkisan, uang ataupun hampers– adalah untuk berbagi, membersihkan harta serta peduli. Jangan sampai esensi saling membantu yang ditanamkan orang-orang dulu berubah menjadi ajang pamer dan gengsi. Selalu ingat perkataan Rasulullah, ketika tangan kanan memberi, jangan sampai tangan kiri tahu. Keliru niat tentu akan berakibat kepada hasilnya, baik secara lahiriyah maupun hal yang tak tampak.
*)Penulis adalah Alumnuns Twinning Program HKI-Hukum Universitas Muhammadiyah Malang. IG @hazzadan
Alumni Twinning Program HKI-Hukum UMM
