f

Get in on this viral marvel and start spreading that buzz! Buzzy was made for all up and coming modern publishers & magazines!

Fb. In. Tw. Be.

Bersama Jaga Dapur Tetap Ngebul

Oleh : Lika Muflihah*

Rahmania, pandemi covid-19 yang melanda dunia memberi banyak perbedaan dalam keseharian umat manusia, dan sangat terasa di Indonesia. Apalagi di momen Ramadan dan Syawal 1441 H ini, semua begitu berbeda. Masyarakat Indonesia yang suka kumpul-kumpul terbelenggu di dalam rumah. Momen buka bersama yang biasanya sekaligus untuk reuni bersama teman-teman sirna sudah. Masjid-masjid yang biasanya ramai bersahutan dengan aneka ceramah keagamaan dan penuh sesak oleh jamaah tarawih juga hilang, digantikan kajian online yang tak putus-putus dari link-link zoom maupun youtube live yang berbeda-beda.

Memasuki 10 hari ke-2 Ramadan, biasanya keramaian sedikit bergeser dan masjid menuju pusat-pusat ekonomi seperti pasar atau mall. Persiapan menyambut lebaran dimulai. Ibu-ibu mulai berburu kuliner pelengkap meja ruang tamu. Toko-toko pakaian yang sudah mulai kulakan pakaian sejak sebelum Ramadan mulai kebanjiran pembeli, bahkan tidak hanya pakaian tapi juga gorden baru, taplak baru, karpet baru turut disiapkan. Kebutuhan rumah tangga dan bingkisan lebaran seakan tiada habisnya dan bisa menghabiskan berapa saja yang ada di kantong kita. Namun Ramadan-Lebaran kali ini berbeda.

Di televisi sudah disiarkan berulang-ulang himbauan (bahkan larangan) untuk mudik ke kampung halaman. Warga perantauan yang biasanya menggerakkan perekonomian daerah di kala lebaran tidak lagi bisa berbuat banyak. Tidak bisa pulang atau terpaksa putar balik karena cegatan Pak Polisi di titik-titik pengecekan. Memang kebijakan selalu punya 2 mata pisau yang siap menyakiti salah satu sisi. Seperti larangan mudik ini, jika mudik akan merugikan masyarakat yang didatangi mudik dari segi kesehatan, jika tidak mudik akan menyakiti masyarakat sesungguhnya juga sudah terpuruk secara ekonomi dan butuh “pulang”. Dua sisi ini sama-sama butuh hidup sehat, baik fisik, rohani, juga dompet.

Baca Juga  Bahagia Menjadi Wirausaha Tanpa Mengenal Usia

Di moment jelang lebaran kali ini banyak yang tidak peduli lagi dengan pakaian baru. Bahkan merasa bersalah membeli pakaian baru karena banyak orang yang kehilangan pekerjaan dan kesulitan untuk sekedar makan. Tahun ini banyak yang tidak merasa butuh kue-kue kalengan atau sirup-sirup karena mungkin tidak akan ada open house setelah shalat ied seperti tahun-tahun biasanya. Yang penting bisa makan saja sudah cukup, bahkan setiap hari masak sendiri untuk menghemat pengeluaran. Jika masih ada sisa uang ditabung untuk hari esok yang penuh ketidakpastian. Atau disimpan dulu untuk liburan jika badai covid-19 sudah berlalu. Ramadan-Lebaran yang biasanya puncak meraup rupiah untuk industri pakaian dan makanan ambyar sudah.

Tidak ada yang salah sebetulnya. Semua orang punya hak untuk membelanjakan uangnya dengan cara bagaimana. Tapi kemudian saya juga terpikir, kalau semua orang setiap hari setiap saat masak sendiri, pantas warung-warung makan bahkan restaurant akan kolaps karena tidak punya pelanggan. Jika semua rumah tidak membeli baju baru, apa kabar industri garmen, toko pakaian, pasar garmen, yang juga punya kebutuhan untuk melanjutkan hidup, yang punya karyawan untuk digaji. Saya dengan naif percaya bahwa seluruh pengusaha inginnya tidak melakukan PHK terhadap karyawannya. Tapi melihat situasi saat ini, mungkin itu menjadi pilihan sulit bagi pengusaha. Pemasukan yang minimal tentu tidak bisa mengeluarkan gaji selayaknya biasa.

Dalam pembahasan teori pertumbuhan ekonomi, jika ada investasi baru, misalkan berdirinya sebuah pabrik baru, maka secara ekonomi akan mempengaruhi minimal sejumlah karyawannya. Jika ada 1000 karyawan yang dipekerjakan maka 1000 orang ini akan memperoleh manfaat langsung dari pabrik berupa gaji. Hilang sudah 1000 pengangguran. Jika dari 1000 orang, 500 adalah pendatang, maka akan ada rumah-rumah yang memperoleh pendapatan dari kamar-kamar kos. Di sekelilingnya akan berdiri warung-warung dan toko yang menjual kebutuhan sehari-hari karyawan pabrik. Ada usaha londre yang bermunculan. Tukang ojek baru muncul untuk memenuhi kebutuhan transportasi. Bus-bus komersial berlalu lalang mengantarkan dan menjemput karyawan sampai tempat kerja. Begitulah perekonomian dihidupkan dari satu investasi. Dalam kuliah-kuliah ekonomi biasa disebut multiplier effect atau efek pengganda.

Baca Juga  Islam dan Agama Pembebasan

Jika situasi sepi produksi ini berlarut-larut terjadi, tidak menutup kemungkinan pabrik akan mengurangi jumlah karyawannya, bahkan ekstremnya menutup pabriknya. Jika itu terjadi, maka secara kasar yang saya bayangkan dari penutupan sebuah pabrik adalah setidaknya 1000 karyawan akan kembali menjadi pengangguran, rumah-rumah kos akan kosong, warung akan menyusut jumlahnya, tukang ojek dan bus akan sepi penumpangnya.

Jadi apa yang bisa dilakukan? Mungkin kita bisa menjalankan kebiasaan perekonomian kita senormal mungkin walaupun pasti kita punya “normal” versi baru. Bagi yang perekenomiannya terpengaruh badai ini, belanjalah sesuai kebutuhan, ketuklah rumah tetangga bila betul-betul membutuhkan. Lumbung pangan di tingkat RT atau RW sudah mulai perlu digalakkan.

Yang secara pemasukan tidak terpengaruh badai ini, atau terpengaruh tapi masih cukup, tetaplah berbelanja. Belanja bisa dinikmati sendiri dan bisa dibagikan kepada orang lain. Tengoklah tetangga kanan kiri, jika mungkin, sebelum tetangga mengetuk pintu meminta kita ketuk pintu terlebih dahulu untuk memberi. Yang merasa masih bisa memenuhi konsumsi pribadi dan beramal kemudian masih ada dana sisa, jika perlu beli baju, belilah baju baru. Belilah mukena baru. Belilah kue-kue. Beli ayam. Beli daging. Beli ikan. Belailah makanan olahan dari teman-teman, tetangga, saudara, atau siapa saja. Hemat boleh tapi jangan sampe jadi pelit. Jangan merasa bersalah karena belanja, dan jangan marah kalau melihat saudara kita berbelanja saat kita tidak bisa. Harus tetap ada konsumen agar perekonomian tetap berjalan. Bukan mengajak kepada pemborosan, tapi mari kita jaga semua dapur tetap ngebul, bukan hanya dapur kita.

Misalnya saja jika ada 10 juta orang menahan pengeluarannya senilai 10.000 per hari, maka ada 100 Milyar rupiah yang tertahan di dompet dan tidak berputar. Bayangkan uang 100 milyar itu mampir ke dompet 10 juta masyarakat lain yang hidup dari berdagang, maka kita bersama-sama sedang menyelamatkan 10 juta keluarga dalam sehari. Pun dalam beramal. Jika 10 juta orang menyumbangkan makan siangnya senilai 10 ribu saja selama Ramadan, maka akan ada 10 juta orang yang kita selamatkan dari lapar selama Ramadan. Wallahualam

Baca Juga  Peningkatan Multiple Life Skills bagi Perempuan sebagai Solusi di Masa Pandemi

*Lika Muflihah; penikmat drama korea , alumni JENESYS, bendahara Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah

Bagikan
Post a Comment